Budi Harus Kembali; Refleksi Hari Guru Nasional 2022 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Seorang guru yang sedang mengajar

Fuad Ibrahim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2022

Senin, 28 November 2022 09:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Budi Harus Kembali; Refleksi Hari Guru Nasional 2022


    Dibaca : 705 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masih segar dalam ingatan kita tentang belajar membaca, ketika guru kita mengajarkan mengeja “I-NI BU-DI, I-NI I-BU BU-DI, …”. Pertama kali yang di harapkan dari pendidikan adalah membaca. Istilah umum dalam pendidikan dini adalah calistung diawali dengan membaca. Dan seperti yang telah umum disampaikan para guru-guru agama kita bahwa wahyu pertama pun memerintahkan kita untuk membaca, iqra.

    Indonesia pun di awal fase pasca kemerdekaan mengalami problematika yang cukup serius dalam hal buta huruf. Bila kita tengok kembali bahwa saat itu lebih dari 95 persen penduduknya buta huruf. Bayangkan, puluhan juta manusia Indonesia sanggup memanggul senjata, sanggup mendorong revolusi, tapi tidak bisa menulis nama sendiri. Namun hari ini rakyat Indonesia yang buta huruf hanya tinggal sekitar 8 persen. Itupun mayoritas adalah penduduk lanjut usia.

    Melek huruf adalah awal keberhasilan. Yang seharusnya diikiti dengan keberhasilan-keberhasilan yang lain, khususnya dalam bidang pendidikan. Semua tidak akan terwujud bila tidak ada optimisme “jamaah” saat itu. Dan tentu saja bila harus pesimis, bangsa kita sudah lengkap syaratnya. Namun, bangsa kita mau berbenah dan terbukti! Pesimisme yang berhambur dimana-mana harus kita putar balikkan.

    Konteks hari ini, banyak terdengar berbagai problematika tentang pendidikan di negeri kita. Seperti perubahan kurikulum, akses pendidikan, kualitas tenaga pendidik, dan lain sebagainya. Perdebatan dalam hal itu sepertinya tidak ada habisnya. Tapi ingatlah bahwa dibalik itu semua selalu ada guru yang tetap bersahaja, berdiri di depan anak didiknya, dan menginspirasi. Mereka berada digaris depan untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan ini salah satu cita-cita bangsa kita.Oleh karena itu sungsi strategis guru perlu perhatian lebih.

    “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” begitulah pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di Jepang. Sepertinya “Negeri Sakura” tersebut mengetahui betul fondasi pembangunan bangsa. Alamnya pun tak terlalu bisa diandalkan, namun kualitas sumber daya manusia nyalah yang nomer wahid. Dan kembali lagi terbukti bahwa kini jepang menjadi salah satu kiblat IPTEK dunia. Dan mungkin kita bisa menikmatinya hingga hari ini, “Sepeda  motormu apa” jawabku “Honda”.

    Bila lebih mendalam, kita fahami bahwa mendidik tak hanya mengasah akal, namun juga hati. Dan tepat sekali bila diawal belajarkita (seperti yang dibahas awal) “I-NI BU-DI” menjadi simbol tersendiri tentang pentingnya membangun “budi”. Dalam KBBI kata “budi” diartikan sebagai “alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk”. Dalam istilah agama kita disebut akhlaq, dan itulah misi Muhammad SAW diutus.

    Seperti pula pepatah jawa mengatakan, Guru adalah “digugu dan ditiru” (ditaati dan diikuti). Sehingga peran pembentukan moral anak didik pun harus selalu melekat dalam setiap pertemuan mereka –pendidik dan anak didik-.  Karena bagaimanapun yang akan mengendalikan semua adalah budi itu sendiri. Dan terlihat bahwa peran besar, jangka panjang dan mendasar ini harus diberhatikan dengan baik. Sehingga dengan optimis akan terlahir pengusaha-pengusaha yang berbudi, pejabat DPR yang berbudi, gubernur yang berbudi, Polisi yang berbudi, dokter yang berbudi, pengacara dan hakim yang berbudi, dan posisi-posisi lain di masyarakat. Mereka akan bergotong royong menjaga kemerdekaan bangsa ini, untuk kesejahteraan bersama.

    Dalam hidup kita tentu banyak guru yang sudah mengajar kita. Ada yang masih segar dalam ingatan ada juga yang terlupa. Seberapapun peran mereka dalam memdidik kita, tentunya adalah hal berharga yang harus terbalas. Dan balasan terbaik itu adalah menjadikan diri kita sendiri menjadi insan berbudi dan mampu memberikan kontribusi sebesar-besarnya untuk masyarakat. Seolah akan tersimpul senyum dari wajah mereka melihat pencapaian kita. Kepada pada guru yang mendidik dengan hati dan sepenuh hati, saya, kami, dan bangsa ini berutang budi amat besar. Selamat Hari Guru Nasional 2022 !

    Ikuti tulisan menarik Fuad Ibrahim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.