Novel: Dua Cinta di Puncak Jaya (3) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 28 November 2022 18:16 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Novel: Dua Cinta di Puncak Jaya (3)

    Ini kisah tentang laki-laki yang tanpa sengaja terlibat dalam gerakan perempuan di Papua, sayap dari Gerakan Papuan Merdeka. Ia merindukan keluarganya, ingin kembali ke Pulau Jawa menemui istri dan dua anak tercintanya, tetapi malah menjadi buronan pihak keamanan. Serlamatkah dirinya?

    Dibaca : 931 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    3

    “Tak perlu manyun, ayo pindah hotel,” kata David dengan nada berseloroh. Ia sudah menenteng tas punggungnya dengan tangan kiri, dan menarik koper milik Rio di tangan kanan.

    “Ini keterlaluan. Tidak prosedural,” sahut Rio sambil melepaskan pandangan matanya ke cakrawala. Ada serombongan burung bangau putih terbang berbaris rapi, dan burung yang berada di paling belakang mengeluarkan suaranya, sekilas memandang ke bawah seakan sedang mengejek Rio, laki-laki bijak tak bisa memahami situasi.

    “Ah, kau kelewat serius. Di sini enggak perlu bicara prosedural,” kata David.

    Kemerahan di mata Rio tampak memudar. Urat-urat di wajahnya mengendor. Meski dalam hatinya masih tersisa rasa marah. Bagaimana tidak, kamar yang disewanya sudah tempati orang lain, sementara barang-barang bawaannya dengan seenaknya dikeluarkan dan diletakkan di resepsionis.

    Kata petugas hotel, mereka itu orang-orang dekatnya Bupati. Tak jelas benar apa yang dimaksudkan dengan orang dekat, keluarga atau aliansi politiknya. Pihak hotel mengaku tidak mungkin menolak permintaan itu, dan memilih membatalkan kamar Rio secara sepihak, dan tanpa pemberitahuan tentunya.

    “Tidak di mana saja, dan kapan saja, ketika kekuasaan bertemali dengan pengusaha, bisa dipastikan akan menyusahkan orang kebanyakan,” kata Rio saat sudah berada di mobil menuju hotel yang baru. Sebenarnya ia tidak tergolong orang kebanyakan. Ya, termasuk kelas menengah secara intelektual, tetapi orang kebanyakan secara ekonomi. Memang begitulah situasi Rio, selalu membingungkan kategorisasi sosialnya.

    “Kenapa senyum-senyum?” tanya David.

    “Ah, bagus ini hotel, bernuansa kolonial bangunannya,” kata Rio.

    Wiwa Sutedja Hotel, begitulah namanya. Ini hotel tua dengan corak bangunan gaya Belanda, pintu dan jendelanya besar dan tinggi. Menurut cerita dari penduduk, dan juga dari para karyawan, hotel ini memang peninggalan Belanda, dan tidak dilakukan pemugaran untuk mempertahankan citra kolonialnya. Di halaman sebelah kanan terdapat papan pengumuman hotel Wiwa Sutedja sebagai cagar budaya yang dilindungi. Tentu tak boleh mengubah bangunan induknya, kecuali melakukan pengecatan yang sewajarnya saja.

    Seperti juga bangunan kuno yang lain, selalu saja kisah-kisah mistis melingkupinya. Konon katanya, acap kali terdengar suara teriakan perempuan meminta tolong, suara melengking menebar aroma kepedihan yang menyayat hati. Mereka itu perempuan-perempuan yang diambil secara paksa dari perkampungan, dan dijadikan pemuas nafsu para tentara Belanda. Rio tidak yakin benar mengenai soal ini, tidak saja mengenai suara jeritan itu, tetapi juga soal kebiadaban tentara Belanda. Mungkin saja kisah itu dikembangkan, dan dipelihara untuk menumbuhkan kebencian terhadap Belanda.

    Kisah perkosaan terhadap perempuan, bagi Rio bukan hanya monopoli bangsa Belanda, bukan monopoli kaum penjajah. Melainkan monopoli kaum laki-laki, yang merasa dirinya gagah perkasa dan tak terganggu. Laki-laki yang selalu ingin mendapatkan pengakuan lebih karena kuasa yang sementara sedang melekat atas dirinya. Pemerkosaan selalu saja dipilih sebagai alat perang paling efektif untuk menghancur moral kelompok yang dikuasainya. Kejahatan terhadap kemanusiaan yang kekejiannya tiada tara.

    Siapa yang memerkosa Siti Murtofingah, tindakan yang menghancurkan harkat martabat kemanusiaan, berkemungkinan mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan, terinfeksi HIV? Siapa yang memerkosa putri kepala suku di hadapan suaminya, sebelum akhirnya suami istri itu dibunuh dengan meninggalkan anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun? Seperti pemerkosaan lain, misalnya, di Jakarta puluhan tahun silam, perempuan-perempuan menjadi korban kebiadaban rasial, yang kini anak-anak perempuan yang diperkosa itu sudah duduk di bangku SMP? Atau di Nangroe Atjeh Darussalam yang berjulukan Serambi Mekkah itu? Apakah mereka seperti penjajah kaum Belanda? Seperti penjajah kaum Jepang yang hanya singgah sebentar di Papua, dan membuat gua sebagai benteng pertahanannya di pinggiran kota Biak Numfor?

    Betapa gilanya Rio membela tindakan para penjajah yang sungguh-sungguh melakukan perkosaan terhadap perempuan. Mungkin Rio lupa bagaimana perempuan Indonesia dijadikan budak nafsu tentara Jepang dalam penjajahan yang amat singkat? Menderita seumur hidup, dan menjalani kehidupan dengan penderitaan tanpa koma, terus menerus sehingga memakan seluruh daging dan sumsum tulang.

    Akhh..., Rio bisa saja akan dianggap naif, dan tidak memiliki jiwa nasionalisme, tak mengugemi Jasmerah (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) semboyan terkenal yang konon diucapkan Soekarno, saat menyampaikan pidato kepresidenan tanggal 17 Agustus 1966. Kalau begitu, Rio tak layak hidup di seluruh pelosok tanah air dan di lautan yang masuk wilayah teritorial Indonesia.

    “Kau benar-benar gila.... Saya tidak pernah menyangka dirimu memiliki pemikiran seperti itu. Sungguh saya kecewa atas semuanya,” kata seorang teman karibnya waktu itu.

    Rio tak menjawab sepatah kata pun. Toh..., katanya, setiap pemikiran tidak harus dijabar-jabarkan dari a sampai z secara berurutan. Orang mestinya bisa memahami kasunyatan tidak selalu dari pangkalnya, tetapi bisa mulai dari mana saja, dari tengah, dari belakang, dari depan, atau bahkan hanya dari segurat sidik jari. Orang sebaiknya mulai berlatih untuk berpikir zig zag, melengkung, melingkar atau akan menjadi kaku, beku, karena segalanya selalu dipandang lurus, hitam-putih dan berpola biner.

    Rio tak memedulikan prasangka-prasangka. Ia sudah merasa sangat jenuh diprasangkai, dan karenanya ia tidak ingin memprasangkai siapa pun. Setelah bangsa ini merdeka, dan mendapatkan kemajuan-kemajuan, yang tumbuh subur justru prasangka. Semua kebijakan di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini dibangun atas nama prasangka, melahirkan diskriminasi, dan pada akhirnya tindakan brutal, vandalisme. Celakanya tidak jarang semua tindakan itu dikatakan sebagai menjunjung tinggi ajaran agama, wujud pengabdian kepada Tuhannya. Nalar apalagi yang sedang bekerja dalam batok kepala bangsa ini?

    Rio tersenyum masam. Ia menyadari benar situasi dirinya saat ini, sedang terseret masuk dalam kumparan magnet politik kekuasaan di tanah Papua. Setelah gagal mendapatkan informasi dari Oliga mengenai simbol di selembar kertas, ia berjanji bertemu dengan seorang simpatisan gerakan kemerdekaan Papua yang pernah mencari suaka politik selama empat tahun di kota Inggris, Olan namanya. Tetapi Rio tak mengetahui nama famnya, dan ia juga tak ingin mencari tahu.

    Menurut cerita Olan, Inggris memang sangat mendukung gerakan kemerdekaan orang-orang Papua, terutama wali kotanya. Salah seorang elit gerakan politik dan kemerdekaan Papua sangat dihormati dan berpengaruh di negara dengan pemerintahan berbentuk kerajaan itu.

    Perjanjian dengan Olan masih tiga hari ke depan, Rio memanfaatkan waktu luangnya, Rio dan David pergi ke Boven Digoel dengan menempuh jalan darat. Tak kurang dari 430 KM Rio menjajal jalan baru Trans Papua Merauke-Boven Didoel. Jalan lintas yang tak pernah bisa dibayangkan sebelumnya karena medan dan kontur tanah yang cukup sulit.

    Pada penjajahan Belanda, Boven Digoel tempat pembuangan para aktivis politik dan budaya yang dituding menentang kekuasaan Belanda. Pembuangan menjadi jalan efektif untuk memutus mata rantai komunikasi dan gerakan pada masa itu. Mencabut seakar-akarnya, agar para tokoh tak bisa menyebarkan pengaruhnya.

    Ketika itu, tempat ini sungguh-sungguh terisolasi, di tengah hutan belantara yang sangat lebat dan tak ada penghuninya, hanya rawa-rawa, dan tidak ada jalan transportasi lain, kecuali melalui laut.

    Ketika masuk ke Digoel, berarti tak mimpi untuk bisa kembali. Di sini orang bisa mengalami kematian karena ganasnya nyamuk-nyamuk malaria, beterbangan ke sana kemari tidak harus menunggu waktu malam menggeluti bumi. Diare merupakan penyakit lain yang bisa mengantarkan seseorang pada ajalnya. Belum lagi hewan-hewan buas yang bisa datang tanpa kenal waktu, bisa kapan saja, ketika hewan-hewan itu menghendaki makan, lapar telah melilit lambungnya.

    Di Digoel Atas, daerah yang dekat dengan sungai Digoel Hilir ini, para pemberontak terhadap penjajahan kolonial tahun 1926, dan tokoh-tokoh perlawanan tahun-tahun berikutnya diasingkan. Dalam catatan sejarah, tidak kurang dari seribu orang penentang Belanda di buang ke Boven Digoel. Tersebar-sebar mulai dari Gunung Arang, Tanah Merah, dan Tanah Tinggi. Mohammad Hatta, salah satu tokoh nasional yang diasingkan di tempat ini, dan Sayuti Melik tokoh pergerakan tahun 1926 yang terlebih dahulu dibuang ke Boven Digoel. Mas Marco Kartodikromo juga mengalami pembuangan ini, bahkan sampai wafatnya pada tahun 1935, dan dimakamkan di Boven Digoel.

    Di Tanah Merah, yang masuk dalam wilayah Tanah Merah, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, monumen Bung Hatta berdiri kokoh dan tampak berwibawa, Rio memandang dengan mata nanar. Cahaya matahari menerpa matanya, meski sungguh menyilaukan, tetapi ia tak juga menghindari cahaya itu atau menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Ia merasa malu kepada Proklamator itu. Ya, Bung Hatta tak hanya terkena terik matahari di wilayah terpencil yang sungainya dihuni ratusan buaya. Kamp konsentrasi ciptaan kolonial yang hampir tak mungkin para nasionalis itu melarikan diri. Ia mengorbankan kehidupannya sendiri untuk kemerdekaan bangsa ini.

    Ada titik air bening mengalir di kedua mata aktivis sosial itu. Kini ia menunduk tak kuat lagi menahan debur gemuruh dalam dadanya. Hatinya terguncang-guncang, seperti melintas sebuah masa yang amat gelap, dan para pejuang bangsa melewati setiap malam dalam pangkuan hewan-hewan malam, dan alunan mengerikan burung hantu yang bertengger di batang pohon nangka. Meski begitu, mereka tetap saja berdiskusi untuk sebuah kemerdekaan negeri ini.

    “Saya sungguh senang bisa sampai ke Digoel,” kata Rio. Kegembiraan itu tampaknya bukan basa-basi. Wajahnya tampak sumringah, dan senyumnya terus melayang-layang di antara bibirnya keringnya.

    “Saya juga senang bisa menemanimu,” ujar David sambil membuka kaca jendela. Rio sangat paham, tak lama lagi akan terdengar bunyi, ‘hoek acuh...!” Warna merah darah berhamburan dari mulut David. Pinang, kapur dan bunga sirih telah luluh lantak dikunyah giginya yang tak bisa di bilang raih itu.

    Perjalanan ke Digoel memang melelahkan. Namun Rio harus bergegas. Ia telah membuat janji dengan Olan. Malam itu, Rio memasuki cafe sederhana di jalan utama kota Merauke, yang disebutkan Olan sebelum ia terbang. “Pak Rio, saya Olan?” Sepertinya Olan memahami psikologi orang yang sedang mencari.

    “Ohh.., Pak Olan, apa kabar?”

    “Seperti biasanya, tetap sehat.”

    Penampilan Olan sama sekali di luar perkiraan Rio. Laki-laki itu ternyata bertubuh kurus dengan dandanan eksentrik, bercelana pendek, kaos lengan pendek dengan rompi lusuh warna kelabu. Rambut dibiarkan panjang tak terawat. Tas kain warna cokelat pudar tercangklong di pundaknya. Entah apa isinya, terlihat ringan saja menempel di tubuhnya. Menurut Rio, Olan sebenarnya lebih tepat disebut sebagai budayawan, ketimbang simpatisan politik untuk gerakan Papua Merdeka.

    “Terima kasih atas waktunya,” kata Rio membuka perbincangan malam itu.

    “Tidak masalah, sebab saya juga senang bisa bertemu di sini,” sahutnya sambil membenarkan posisi tas gantungnya yang melorot dari pundaknya.

    “Ada perubahan sekembalinya dari Inggris?”

    “Banyak hal yang berubah, tetapi semuanya tidak ke arah yang lebih baik. Bagaimana menurutmu?”

    “Saya…? Sama sekali tidak berhak berpendapat sampai saat ini. Tak ada informasi apa pun yang bisa dijadikan dasar membuat pendapat.”

    “Apakah sesederhana itu?”

    “Sebenarnya tidak juga. Tetapi terlalu banyak informasi mengenai Papua, suku-suku yang jumlahnya ratusan, tradisi, gerakan keagamaan, dan ketimpangan sosial yang hampir terjadi dalam seluruh bidang kehidupan. Terlalu berlebihan, sehingga sulit untuk memastikan sumber mana yang bisa dipercaya untuk mengambil kesimpulan.”

    “Ada yang paling dipercaya dari seluruh informasi itu?”

    “Hanya satu saja, perkembangan seni dan budaya sebagai bukti adanya peradaban suku-suku di Papua.”

    “Ha ha ha …, kau sangat unik. Rupanya kau benar-benar pemuja kebudayaan.”

    “Sejujurnya, saya memang tidak mempercayai gerakan politik. Saya menggilai gerakan kebudayaan,” kata Rio.

    Ia memamg pemuja berat Paulo Freire di Brazil. Ketika Freire membangun kesadaran mengenai ketertindasan melalui gerakan kebudayaan. Gerakan melek huruf yang mampu melahirkan kesadaran mengenai sistem sosial yang tidak adil. Bukan dengan mobilisasi politik dan mengatakan rakyat miskin kalian perlu melawan. Telanjangi para borjuis gila itu.

    “Saya sedang mengubah haluan gerakan,” ujar Olan.

    “Oh…, ya! Maksudnya?” tanya Rio setelah sebelumnya ucapannya seakan sudah mengerti arah kalimat teman bicaranya itu. Olan tertawa terkekeh-kekeh memperhatikan lagak lagu Rio yang menunjukkan kejenakaan.

    “Kalau tidak salah menduga, akan meninggalkan gerakan politik? Akan membangun gerakan ekonomi barang kali?”

    Rio mencoba menebak untuk sekadar memperlancar dialog di antara mereka.

    “Sama sepertimu, saya sedang merintis gerakan kebudayaan sebagai alat pendidikan kritis rakyat kebanyakan.”

    “Akh…, sungguh sangat menarik jika saya bisa terlibat sedikit saja dalam arsitektur kebudayaan yang hendak dikembangkan.”

    “Tentu…, tentu…, saya sangat merasa terhormat atas permintaan ini.”

    Olan menatap tajam tepat ke arah mata Rio. Seakan sedang mencari sesuatu yang bisa memberi kepercayaan kepada dirinya, Rio memang sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. Bukan sekadar basa-basi, sebagai bumbu perbincangan pertama yang tidak terlalu menarik manakala terjadi perbedaan pandangan.

    “Tidak percaya?” tanya Rio menebak-tebak pikiran teman bicaranya.

    Olan diam sejenak, lalu mengalihkan pandangan ke jalan raya sudah mulai lengang. Warga kota tentu saja sudah merasa malas keluar rumah, dan memilih tinggal bersama keluarga, menghindari angin malam. Ia menawarkan minuman yang sejak tadi sudah terhidang, termasuk hidangan khas Merauke daging rusa lada hitam, dan sup asparagus yang menyegarkan badan.

    Tetapi soal minuman, tentu saja Rio tetap bertahan pada selera asalnya, kopi hitam kental sebagai hidangan pembuka sebelum akhirnya menghisap racun pembunuh dirinya: rokok kretek. Kebiasaan buruk yang benar-benar sudah disadarinya, tetapi belum juga rela menghentikannya. Masih bisa merasakan nikmatnya, begitu selalu Rio menjawab ketika diingatkan mengenai bahayanya merokok bagi kesehatan.

    “Bukan begitu, hanya terkejut saja atas ketertarikan mengikuti gerakan kebudayaan yang sedang akan mulai dilakukan,” kata Olan setelah menghabiskan satu mangkuk sup asparagus. Rio juga merasakan kehangatan, setelah menghabiskan dua mangkuk sup itu.

    “Ternyata memang enak, alangkah ruginya kalau tidak sempat menikmatinya. Saya akan merekomendasikan ke teman-teman di Jakarta, jangan lupa kalau ke Merauke membeli sup asparagus,” katanya disambut senyum geli Olan. Soalnya, ternyata Rio menambah satu mangkuk lagi.

    Olan mulai bercerita mengenai agenda yang sedang dilakukannya saat ini. Mengenai kehendak-kehendak beberapa pendeta yang ingin membangun kerajaan Allah di daratan Papua. Para pendeta mulai menyadari, kebutuhan yang mendesak saat ini, bagaimana kedamaian bisa benar-benar dirasakan orang-orang Papua. Mereka mulai mempelajari dengan teliti berbagai strategi yang mungkin dilakukan untuk membumikan gagasan mengenai teologi pembebasan.

    “Betapa eloknya, jika David bisa bergabung dalam gerakan kebudayaan ini,” pikir Rio. Seluruh data risetnya menjadi sangat bermakna, dan bisa mempercepat proses gerakannya. Sebab tak lagi harus mulai dari nol, mulai lagi dengan riset-riset yang hasilnya akan dijadikan bahan perencanaan gerakan.

    Olan menceritakan, diskusi-diskusi kecil sudah dilakukan secara terus menerus. Mengkaji ulang teologi pembebasan yang dicetuskan Bapa Gustavo Gutiérrez pada pertengahan tahun limapuluhan. Sebuah gagasan yang diduga sangat dipengaruhi pemikiran-pemikiran Marx mengenai skema kehidupan sosial. Pertarungan tiada akhir antara borjuis dan proletar. Pemikiran yang kemudian memengaruhi banyak orang mengenai gerakan kritis, seperti Habermas, Paulo Freire, dan tentu saja dalam era yang paling muda saat ini, Rio.

    “Bapa Gutiérrez menyebutnya, akan menumbuhkan kesadaran baru,” kata Olan.

    Rio tentu saja memahami benar arah yang dipikirkan Olan dengan mengutip Gutiérrez, yang menulis buku Teologi Pembebasan. Buku yang saat ini menjadi babon dalam berbagai kajian mengenai teologi pembebasan tahun-tahun berikutnya, bahkan sampai sekarang. Dan kebetulan pula, seniornya di Jakarta, baru saja menugasinya untuk membaca paper yang cukup tebal mengenai teologi pembebasan dan liberalisme di Amerika Latin. Sebuah kajian yang kemudian dilahapnya habis-habisan.

    Seperti juga yang dikembangkan Paulo Freire, manusia yang hidup dalam ketertindasan amat sangat, mereka tak akan bisa lagi mengatakan apa yang dipikirkannya, apa yang diimpikannya tentang diri mereka sendiri, dan tentang lingkungannya. Hanya saja tidak ditambahkan, mereka yang dihina-dinakan doanya akan langsung dikabulkan Tuhan. Gagasan yang kemudian diterjemahkan dalam terma ‘budaya bisu’.

    Tetapi Rio menentang keras penggunaan istilah ini. Alasannya, budaya tak pernah diam, ia selalu berbicara dan bergerak, mengalami perubahan-perubahan setiap saatnya. Persoalannya, seberapa bisa orang-orang yang memiliki kebudayaan menyuarakannya, mendendangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ruang mengekspresikan budaya telah dikendalikan ideologi dominan, ideologi yang berkuasa.

    “Kesadaran baru merupakan proses transformasi nilai, untuk mengatakan setiap kebudayaan memiliki ruang berekspresi mengenai sistem politik, ekonomi, agama, dan tata moral yang disepakati secara bersama,” ujar Rio, mengutip paper yang sebulan lalu baru diselesaikan membacanya.

    “Saya setuju. Kapasitas untuk memetakan secara kritis faktor-faktor penentu sebuah tata kehidupan menjadi berjalan. Dan terpenting tentu saja kesadaran sejak mula, teologi pembebasan sangat cocok di situasi Amerika Latin ketika itu,” sambung Olan bersemangat.

    Meski mengakui ada kekhawatiran penerapan teori dari Amerika Latin, tetapi Olan meyakini benar, situasi sosial Amerika Latin di awal gerakan teologi pembebasan sangat mirip dengan situasi di Papua: sangat tidak manusiawi, keamanan yang kacau, kemiskinan, kelaparan yang membabi buta, perumahan yang tidak layak, angka kematian bayi tinggi dan kematian ibu tinggi, pembiaran tindak kekerasan, angka pengangguran tinggi, sebagian besar rakyatnya buta huruf, dan proses alienasi dari budaya mereka sendiri melalui praktik pendidikan yang dijalankan penguasa dan agama-agama formal.

    Pendek kata, telah terjadi pergeseran situasi dari represi menjadi opresi oleh pemegang kekuasaan untuk membungkam daya kritis rakyat. Mempertanyakan disebut separatis, mengajak dialog disebut merongrong kemapanan.

    “Mana yang berbeda? Situasi Amerika Latin di tahun-tahun sebelum limapuluhan, dan tetap terjadi di Papua pada saat sekarang ini,” kata Olan.

    “Untuk di Papua ditambah satu lagi, penyebaran HIV dan AIDS sangat tinggi. Bahkan diperkirakan sudah dua pertiga masyarakat Papua terinfeksi,” lanjutnya.

    Rio membenarkan kehendak para teolog di Papua untuk membangun kerajaan Allah di tanah Papua. Kerajaan Allah di setelah kehidupan, semua orang sudah meyakininya, bahkan sebagiannya menjadi spirit hidup dalam menghadapi kemiskinan, ketidakpastian hidup. Dalam benaknya, ia sedang mempertanyakan substansi yang lain, bagaimana jika konsep imajinasi suku asli Papua dibebaskan kembali, dibiarkan hidup, dilepaskan dari dominasi imajinasi agama samawi? Bukankah mereka memiliki sistem teologinya sendiri yang bisa menjadi kekuatan untuk membangun kesadaran baru?

    “Sangat menarik…,” kata itu meluncur dari mulut Rio, berbeda dengan yang sedang berkecamuk dalam pikirannya. Memang kata itulah yang paling tepat disampaikannya ketimbang melakukan kritik dari gagasan yang ia sendiri sama sekali belum memahami sepenuhnya.

    Rio sedang menghindari situasi yang bisa menjadi memburuk dari pertemanan yang sedang dirintisnya. Sikap bijak yang hanya bisa lahir dari mereka yang sudah begitu banyak bertemu orang, begitu banyak mengalami rasa dari berbagai tradisi dan budaya di tanah air. Orang yang menyadari benar makna sebuah kesabaran dan harga sebuah penghormatan terhadap nalar dan pemikiran yang berbeda.

    “Jika nanti sudah ada waktu mungkin perlu bertemu dengan teman-teman pendeta,” ujar Olan.

    “Benar…, bulan depan saya bisa menjadwalkan ke Merauke kembali.”

    Pukul tiga dini hari, obrolan santai dengan Olan selesai. Di halaman café mereka berjabat tangan cukup lama, dan masih tampak membicarakan sesuatu. Sebuah lambaian tangan dari jendela mobil yang terus bergerak perlahan, menandakan persahabatan yang baru saja terbangun. Olan masih berdiri mematung sampai mobil yang dikendarai Rio tak tampak lagi ditelan kegelapan malam.***

     

    Membaca Bagian 2

    https://www.indonesiana.id/read/156587/dua-cinta-di-puncak-jaya-bagian-2

    Ikuti tulisan menarik Mukhotib MD lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.