Percakapan Imajiner (12) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pinterest

Dien Matina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Selasa, 29 November 2022 06:26 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Percakapan Imajiner (12)


    Dibaca : 886 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Suatu waktu 

     

    Suatu waktu. Kupesan malam dengan separuh rembulan. Aku dan si sepi asyik berbincang di meja yang tepat bersebelahan dengan jendela besar yang memperlihatkan pantai, yang membawa desau angin, yang mampu menciptakan lamunan panjang. 

    Suatu waktu yang lain. Ia berkata, "Tak ada yang kebetulan, Dien. Jika menyukaimu membuatmu terganggu, maafkan, itu di luar kuasaku. Percayalah, pertemuan ini memang seharusnya terjadi. Sebagai harapan sekaligus kepastian. Aku berharap kamu terus mengingatku dan kepastian bahwa aku ada untukmu." 

    Suatu waktu sebelum ia pergi. Sepucuk surat ia selipkan di bawah pintu. "Maukah kau menungguku kembali? Aku tidak berlama-lama pergi." 

    Suatu waktu, setelah dua tahun kepergiannya, ia di hadapanku! Katanya, "Kupenuhi janjiku, Dien. Aku kembali padamu. Mari bersulang. Merayakan apa yang pantas dirayakan, meski sebuah kehilangan." 

     

     

    ***

     

     

    Tjurhat sebelum tidur ⁣

    "Hey, jangan tidur dulu, aku mau curhat!" 

    "Tentang?" 

    "Aku takut." 

    "Takut apaan?" 

    "Takut dilupakan."

    "Dih, kenapa sih? Mau nanti, besok atau 50 tahun dari sekarang bukannya kita bakalan mati, terus pada lupa deh. Nggak bisa dihindari. Sudahlah, abaikan. "God know it's what everyone else does," kata Hazel Grace mah.

    "Siapa Hazel Grace?" ⁣

    "Coba nonton The Fault in Our Stars. Film lama dengan pesan-pesan berharga. Setelahnya kamu akan sangat beruntung dibanding Hazel Grace, Agustus Waters, Isaac dan teman-temannya yang sakit kanker dan tinggal nunggu waktu. By the way kamu nggak kena athazagoraphobia kan? Segitu takutnya dilupakan."

    "Hey, manusiawi kali takut gini. Kita kan diciptakan dengan kapasitas memberi dan menerima satu sama lain."

    "Iya sih. Masalahnya nggak semua strong ngadepin 'patah hati' itu. Kamu, sejak kapan takut begitu? ⁣Perasaan ngobrol terakhir dua hari yang lalu baik-baik aja deh."

    "Sejak tadi sore. Pulang kerja nengokin temen yang istrinya  melahirkan. Bayinya normal dan cakep banget, tapi ibunya tiba-tiba kena serangan jantung dan pergi untuk selamanya. Ah, sedihnya."

    "Ooh.."

    "Jadi gimana?"

    "Apanya? Ya udah gitu, bertemu, berpisah, melupakan, dilupakan, terlupakan, ada dalam garis lurus kehidupan yang mau nggak mau harus dihadapi. Entah bagaimana rancangan-Nya untuk kita." 

    ⁣"Eh jadi inget, tapi nggak tau siapa yang ngomong—terlupakan atau dilupakan biarkan menjadi urusan ingatan, tapi jangan sampai membuatmu lupa, jika untuk bahagia itu sederhana." ⁣

    "Nah itu, dicatat! Ditebelin pakai stabilo ijo! Dan jangan takut, kita berdua ada di satu kepala. Kamu nggak akan pernah sendirian, aku di kiri kamu di kanan. Kita mungkin sering bodoh meributkan ini itu, tapi percayalah, kita tidak akan saling melupakan. Ya masak sama diri sendiri lupa, ODGJ dong kita, haha.. Udah ah tidur yuk, ngatuk! ⁣

     

    Aku memeluk diriku, erat. Kami ini mungkin sering tak akur, tapi kami tetap kami yang tak terpisahkan sampai mati. 

     

     

    *** 

     

    Ikuti tulisan menarik Dien Matina lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.