Kesalehan Digital; Apa Lagi Ini? - Analisis - www.indonesiana.id
x

pencurian data digital

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Selasa, 29 November 2022 10:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kesalehan Digital; Apa Lagi Ini?

    Salah satu hasil Muktamar Muhammadiyah ke -48 di Solo beberapa waktu lalu adalah terkait isu-isu strategis keummatan, yaitu MEMBANGUN KESALEHAN DIGITAL. Menurut saya, hal ini cukup signifikan. Pasalnya, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang berbuat “kesalahan digital” sehingga mereka perlu memahami apa itu kesalehan digital.

    Dibaca : 1.190 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    KESALEHAN DIGITAL, APA LAGI INI?

     

    Sebagai seorang yang taat kepada Allah, menjadi saleh secara pribadi saja belum cukup.  Rajin shalat, puasa, shalat tahajjud, berdzikir, bershawalat saja belum cukup. Ibadah yang dikerjakan diharapkan membawa dampak positif bagi orang lain. Dengan kata lain, ia diharapkan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Kesalehan pribadi (vertikal) sebaiknya diikuti dengan kesalehan sosial (horisontal).

    Di era teknologi informasi saat ini, kesalehan vertikal dan kesalehan horisontal saja ternyata masih belum cukup juga. Faktanya, hampir setiap orang kini tak bisa lepas dari gadget. Setiap saat ia melakukan aktivitas dengan menggunakan smartphone. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. 7 hari 24 jam. Oleh karena itu, diperlukan sebuah “kesalehan digital”.

    Salah satu hasil Muktamar Muhammadiyah ke -48 di Solo beberapa waktu lalu adalah terkait isu-isu strategis keummatan, yaitu membangun kesalehan digital. Menurut saya, hal ini cukup signifikan. Pasalnya, akhir-akhir ini semakin banyak orang yang berbuat “kesalahan digital” sehingga mereka perlu memahami apa itu kesalehan digital.

    Pada dasarnya, kesalehan digital ini masuk dalam ranah kesalehan sosial. Namun, dikarenakan semakin bertambahnya pengguna gadget di seluruh dunia, termasuk semakin banyaknya kasus-kasus pidana terkait penggunaan internet tersebut, maka dipandang penting dan mendesak apabila kesalehan digital menjadi topik pembahasan tersendiri.

    Kesalehan digital sendiri bisa disejajarkan dengan etika, tatakrama, atau adab dalam berinternet. Atau secara syariat bisa disebut akhlak dalam menggunakan internet. Sebenarnya negara kita sudah mengatur terkait hal ini, yaitu melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sayangnya, beberapa pasal dalam UU ini masih mengundang banyak kontroversi dan multitafsir.

     Walaupun bisa disejajarkan dengan etika digital, cakupan kesalehan digital lebih luas lagi dan berorientasi akhirat. Sehingga dalam kesalehan digital, tidak hanya membahas perihal etis atau tidak etis suatu perbuatan, namun juga mempertimbangkan apakah suatu perbuatan itu mengandung dosa atau tidak, serta mempertimbangkan pula balasan kelak di hari kiamat.

     

    Aspek-Aspek Kesalehan Digital

    Kesalehan digital diharapkan dimiliki oleh setiap pengguna internet. Beberapa aspek yang tercakup dalam kesalehan digital di antaranya:

    1. Tidak menyebar berita bohong

    Dalam ajaran Islam, para pemeluknya dilarang menyebarkan berita bohong. Hal ini termasuk perbuatan dosa besar. Apalagi jika dampak yang ditimbulkan menyangkut hajat hidup orang banyak. Bahkan pelakunya diancam akan mendapatkan azab yang besar (Q.S. An-Nuur: 11-20). Ketika menerima sebuah berita, kita dianjurkan untuk melakukan tabayyun (konfirmasi) terlebih dahulu untuk mengetahui kebenaran dari berita tersebut.

    1. Menjaga ucapan (tulisan), sikap, dan perbuatan dalam bermedia sosial

    Berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyinggung atau menyakiti orang lain. Buatlah mereka merasa aman dan nyaman berteman dengan kita. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (Shahih Bukhari)

    1. Tidak memfitnah orang lain

    Fitnah seringkali terjadi di dunia maya. Mereka yang memfitnah tidak memiliki dasar atau bukti yang valid. Oleh karena itu, sebagai pengguna internet untuk membiasakan diri dalam cek dan recek. Jangan mudah percaya dengan hasutan (provokasi) pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam Q.S. Al Mumtahanah: 5, “rabbanā lā taj'alnā fitnatal lillażīna kafarụ wagfir lanā rabbanā, innaka antal-'azīzul-ḥakīm (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

    1. Tidak memamerkan aurat

    Ini yang seringkali tidak kita sadari. Sebaliknya, kita justeru merasa senang jika postingan (buka aurat) semakin banyak yang Like, Comment, Share. Padahal semakin banyak yang memberikan respons, maka dosa kita pun akan semakin banyak pula. Istilahnya adalah “dosa eksponensial”. Dosa yang berlipat-lipat seperti angka kuadrat. 

    1. Tidak membuat dan atau menyebarkan konten pornografi/pornoaksi

    Baik di dalam Al Qur’an maupun Injil dengan tegas melarang adanya pornografi. Pelaku maupun penyebar konten pornografi akan mendapatkan dosa eksponensial juga, hanya dosanya tentu lebih besar daripada sekedar membuka aurat. Setiap Muslim diwajibkan untuk menutup aurat (An-Nuur: 30-31, Al Ahzab: 59).

    1. Tidak mengganggu atau mencuri data akun orang lain

    Di Indonesia, seorang hacker masuk dalam kategori cyber crime dan pelakunya bisa dikenakan hukum pidana. Cyber crime meliputi: mencuri data, memalsukan data, membobol rekening orang lain, money laundring, spam dan bug, membuat akun palsu untuk tujuan kejahatan, dan lain-lain.

     

    Oleh karena itu, menjadi tugas bersama dari seluruh komponen masyarakat untuk mendorong setiap pengguna internet agar memiliki kesalehan digital. Peran dari para ulama dan pemuka agama lainnya juga sangat diharapkan untuk memberikan pesan-pesan moral dalam beraktivitas di dunia maya.

    Dengan adanya kesalehan digital, diharapkan akan tercipta atmosfer dunia maya yang aman, nyaman, menghibur, sekaligus membahagiakan. Bukan suasana media sosial yang penuh hoax, ujaran kebencian, provokasi, intimidasi, dan konten negatif lainnya.

    Akhir kata, dalam tataran yang lebih tinggi, kesalehan digital tidak hanya sebatas bersikap dan berperilaku baik di media sosial, namun kita mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan pencerahan dari konten-konten yang kita unggah. Dengan kata lain, selain kita menjadi pengguna internet yang baik, kita juga bisa memberi manfaat dan maslahat kepada pengguna lainnya.

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.