Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Bentuk Kekompakan dalam berkerjasama

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 29 November 2022 10:32 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

    Idealnya kita banyak berkarya untuk masyarakat dan sedikit saja memiliki pamrih. Boleh saja mencari nafkah, bahkan wajib. Tapi jangan melupakan aspek pelayanan kepada masyarakat.

    Dibaca : 1.097 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sepi ing pamrih, ramé ing gawé

    Bambang Udoyono

     

    Kata mutiara dari bahasa Jawa ini masih dikenali banyak orang terutama oleh generasi baby boomers.  Generasi setelahnya mungkin lebih sedikit yang mengetahuinya.  Maka saya merasa perlu mengangkatnya agar makin banyak dari mereka yang mengenali warisan budaya tak benda yang adi luhung ini.  Mari kita bahas.

     

    Sepi ing pamrih maksudnya sedikit saja pamrihnya.  Ramé ing gawé maksudnya banyak karyanya atau sibuk berkarya.  Saya kira kata mutiara ini bisa diterapkan oleh semua orang dari berbagai macam profesi, tentu saja yang legal.   Sejatinya ketika kita bekerja dalam berbagai macam profesi itu ada manfaat yang diberikan kepada masyarakat.  Jadi leluhur menganjurkan kepada kita agar mengutamakan aspek pelayanan kepada masyarakat.  Mereka menganjurkan kita agar tidak egois, tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri. 

     

    Profesi dalam pemerintahan atau sektor swasta semuanya memiliki aspek pelayanan masyarakat.  Pedagang misalnya, mereka punya jasa menyediakan segala macam barang kebutuhan masyarakat. Tanpa mereka masyarakat akan kesulitan menemukan kebutuhannya. Kalau menuruti saran leluhur tidak akan ada pedagang nakal yang menyembunyikan barang untuk mencari keuntungan sebesar mungkin.  Kadang ada pedagang nakal seperti itu.  Mereka mendapat informasi entah dari mana bahwa harga barang tertentu akan naik pada tangal tertentu.  Maka mereka timbun dulu barang tersebut untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin.  Ini tindakan yang menguntungan diri dan kelompok dengan cara yang merugikan masyarakat.  Ini tindakan tercela.  Kalau mau naik kelas menjadi orang terpuji ikutilah nasehat nenek moyang tadi.  

     

    Orang yang bekerja di sektor pemerintahan juga melakukan pelayanan publik.  Pengambil kebijakan atau policy maker dan pelaksana kebijakan sama sama melayani masyarakat.  Meskipun demikian ada saja godaan untuk berbuat tidak adil.  Kalau tergoda maka policy yang diambil bukannya membawa manfaat tapi justru merugikan masyarakat.  Inilah resikonya.  Semua pihak rugi sebenarnya. Sudah banyak contoh orang yang jatuh karena tergoda.  Oleh karena itu naséhat nènèk moyang ini masih sangat relevan dan perlu terus menerus disampaikan agar tidak dilupakan.

     

    Dalam Islam orang dianjurkan untuk beramal, berbuat baik kepada masyarakat dengan profesinya, dengan kompetensinya masing masing.  Kita wajib mencari nafkah, jadi boleh saja mencari keuntungan dari perdagangan.  Mau bekerja di pemerintahan juga boleh.  Tidak ada salahnya  menjadi petinggi dalam Islam.  Jadi idealnya kita menemukan keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan masyarakat.  Kita mendapat imbalan yang layak dan masyarakat mendapat layanan yang baik.

     

    Meskipun demikian manusia memang diberi  nafsu.  Sejatinya ada juga manfaatnya nafsu ini asal dikelola dengan benar.  Nafsu yang tak terkendali sangat berbahaya.   Godaan material sangat memikat sehingga orang sering melewati jalan pintas.  Di dalam Al qur’an disebutkan:

    Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa yang diingini yaitu wanita, anak anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang.  Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (sorga).”

    (Surat Ali Imran ayat 14)

     

    Jadi memang Allah yang menjadikan kehidupan duniawi itu indah di mata manusia.  Meskipun demikian manusia tidak diijinkan menempuh jalan yang merugikan orang lain untuk mendapatkannya.  Ada larangan menuruti hawa nafsu dan godaan setan.  Ada larangan untuk melakukan kejahatan. 

     

    Ada sebuah hadist tentang nafsu terhadap harta.

    Dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasullulah bersabda: ”Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu dia inginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang orang yang bertaubat”. (Mutafaqun Alaih. HR Bukhari no 6439 dan Muslim no 1048)

     

    Agar bisa melakukan anjuran sepi ing pamrih, ramé ing gawé kuncinya ada di hati.  Kalau hati gelap, tidak sehat, maka dia tidak akan menerima pencerahan.  Dia akan menuruti hawa nafsu dan bisikan sétan.  Jadi hati harus séhat dan bersih dulu barulah dia bisa menerima petunjuk dan tidak akan dikuasai oleh sétan yang menggoda untuk mengejar harta duniawi.  Bagaimana menyéhatkan hati?  Sunan Bonang sudah memberi naséhat dalam tembang Tombo Ati (obat hati).  Ikuti saja sarannya.

     

    Kalau harta membuat bahagia mestinya orang terkaya di dunia adalah orang yang paling bahagia.  Ternyata tidak.  Dulu seorang boss menasehati “Money has nothing to do with happiness”.  Uang tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan. 

     

    Semoga kita bisa mengikuti nasehat Sunan Bonang dan orang orang bijaksana.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.