Catatan dari Balik Tembok LPKA Bandung - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Fadzul Haka

Cuma pengelana lintas disiplin dan pemain akrobat pikiran. Bagi yang mau berdiskusi silakan kontak saya: fadzul.haka@gmail.com
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Selasa, 29 November 2022 17:23 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Catatan dari Balik Tembok LPKA Bandung

    Mari ikuti perjalanan saya di LPKA Bandung dan sisi lain kehidupan dari realitas yang termarginalkan.

    Dibaca : 528 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kamis, 17 November 2022

    Saya dan teman-teman relawan dari Mitra Citra Remaja Jawa Barat tiba di LPKA dengan sambutan hangat para petugas dan ABH (anak yang berhadapan/berkonflik dengan hukum). Kehangatan di tengah suhu dingin siang itu yang tampak terlukis bersama langit kelabu dan gerimis tipis. Kami bertujuh datang kemari untuk mengisi kelas melukis, membaca, menulis, dan wawasan hukum. Saya sendiri mendapat tugas untuk mengisi kelas menulis dan wawasan hukum buat menggantikan rekan kami, David.

    Selagi menunggu, datangnya ABH kami berkoordinasi dengan Pak Roni dan Pak Ardi perihal jadwal kelas psikososial yang akan saya isi. Sesekali sempat terpikir pertemuan di hari sebelumnya, di mana saya datang memenuhi undangan bu Miranda, penggiat komunitas kalender Sunda, dalam rangka doa bersama dan dialog topik G20 di Hotel Savoy Homann. Biasanya kalau sudah bertemu, kami akan bicara panjang soal kehidupan dan hal filosofis lainnya, namun kesibukan acara menunda obrolan kami.

    Kemarin memang ada hal yang ingin sekali kutanyakan secara langsung. Ini tentang mimpi saya di malam sebelumnya, di mana saya pergi menemani bu Miranda ke Garut untuk sebuah pertemuan. Semenjak bekerja, saya hampir tidak pernah lagi mendapat mimpi yang terasa nyata seakan dialami langsung – baru belakangan ini. Terlepas dari kesempatan itu, saya sadar bahwa yang paling penting pada hari itu saya akan memulai tugas baru dan secara tak langsung orang-orang tua di meeting room hotel ini juga mereka yang dari Bogor saling mendoakan. Sungguh, awal yang baik.

    Usai bincang-bincang seputar jadwal dan perkenalan antara saya dengan beberapa petugas, anak-anak pun berdatangan. Segera saja mereka diarahkan untuk mengisi kelas yang akan mereka ikuti di bawah bimbingan rekan-rekan relawan MCR. Tersisalah dua orang ABH, IA dan RH. Tanpa berlama-lama kami segera memasuki salah satu kelas yang kosong.

    Seperti pada umumnya, saya mengenalkan diri dan saling berkenalan seraya memperhatikan penampilan keduanya. IA memang lebih pendek dari saya tapi dia berperawakan cukup besar, kulitnya sawo matang, dengan mata yang kecoklatan. Saya akan agak was-was jika berpapasannya dengannya di lorong pasar yang sepi, tetapi pembawaannya cukup baik dan hampir terbilang lugu. Walau begitu, saya tidak terkejut apabila dia sudah melewati banyak hal di dunia bawah tanah dan kehidupan jalanan.

    Sedangkan, RH lebih kurus, kecil, berkulit gelap, dan berambut lurus yang akan selalu tampak rapi walau tidak disisir karena berdiri. RH lebih banyak terdiam sebelum menjawab, dan apabila mulai menjawab, dia akan tampak seperti yang malu-malu bertanya. Tak ada kesamaan yang berarti di antara keduanya selain kebingungan yang tersurat.

    Pada pertemuan pertama ini, saya mengajarkan mereka untuk menulis kalimat berdasarkan struktur sintaksis SPOK dan membuat paragraf. Saya memulai kelas dengan mencari tahu dulu seperti apa persepsi mereka tentang kegiatan menulis, apa tanggapan mereka setelah dipilih untuk mengikuti kelas ini oleh petugas LPKA. Saya mengenalkan apakah menulis itu sulit atau mudah dan apa yang bisa mereka lakukan di luar sana dengan keterampilan menulis untuk menyemangati dan menanamkan motivasi intrinsik agar mereka tertarik menekuni kegiatan tulis-menulis.

    Ketika saya tanya mereka akan menulis apa nantinya, IA menjawab ingin mengarang buku cerita, sedangkan RH ingin menulis dokumen meskipun tidak tahu seperti apa dunia kantor dan tidak pula orang tuanya bekerja di sana. Selebihnya, kelas dilanjutkan ke materi utama diikuti dengan demonstrasi membuat kalimat dan latihan menulis.

    Baik penulis pemula, amatir seperti saya, ataupun yang sudah mahir tampaknya menemui kesulitan serupa begitu berhadapan dengan ide. Entah mengapa mencari ide tidak semudah membuka kotak mainan dan mengambil sembarang mainan dengan keceriaan dan antusiasme kanak-kanak. Kadang masalahnya tidak banyak ide, di lain waktu justru karena terlalu banyak ide. Maka, saya selalu menyarankan agar memulai tulisan dari hal-hal yang dekat dengan kita, bersumber dari pengalaman, dan topik yang umum. Lalu, saya meminta mereka agar menyebutkan apa saja ide yang ingin mereka tuliskan nantinya sepanjang kelas ini ke depannya. Demikianlah pertemuan untuk hari ini.

    Dari kelas hari ini, saya merasa kegiatan kelas menulis selanjutnya perlu difokuskan pada menulis puisi. Mengingat semasa belajar di kampus dahulu untuk bisa menulis apapun saya diajarkan menulis puisi terlebih dahulu karena beguna untuk memadatkan gagasan, mengasah logika bahasa, dan menemukan berbagai ekspresi gaya pengungkapan. Secara khusus, saya harap IA dan RH bisa belajar menulis lirik lagu. Sebuah lagu yang mungkin kelak bisa menyuarakan nasib sesama anak berhadapan dengan hukum. Terutama bagi mereka yang tidak punya tempat buat kembali selain LPKA itu sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Fadzul Haka lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.