Eskrim Pop Up (17) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Digital Photography by Tasch 2021

Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Juni 2022

Kamis, 1 Desember 2022 18:45 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Eskrim Pop Up (17)

    Eskrim Pop Up (17). Sebuah puisi, menjadi kenangan, angan tiba, ataupun telah lalu. Sederhana saja. Puisi, menulis kejujuran cerita perasaan, bermanfaat personal ataupun khalayak. Berkisah bening nan indah sublim. Anugerah Ilahi, takkan tergantikan oleh apapun. Hadir, dari kebaikan hati. Salam cinta kasih saudaraku.

    Dibaca : 816 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    1/

    Aku mau menulis berbeda dari biasanya. Tentang sepi di saku celana mungkin. 

    Sepatu lampau ketika memaksa berjingkat mengecup kening di keriuhan bulu matamu lentik kurva mendongak langit. Serenade hari jadi. Senyummu cantik sekali hmmh ...

    Bingung ya aku ngomong apa hihihi ...

    Enggak. Kamu makhluk teraneh. Cepat sekali membasuh luka. Suka atau tidak terserah katamu. 

    Iya, aku cuma punya derai tawa gemintang untukmu. Kau suci, meski kadang sahabat ngeselin. Kemarilah, mendekat sedikit, mau ngeliat bola matamu. Apa betul di dalamnya ada rindu. 

    "Ada." Sembari kau dekatkan matamu di samping telingaku.

    Bukan di situ. Susah ngeliatnya. Berhadapan maksudku.

    Tapi janji. Cukup satu kali kecupan sahabat, di ujung hidungku. Lebih jitak.

    Iya ... Ceriwis deh.


    2/  

    Hihihi ... Sekali salah seumur idup, enggak dipercaya. Aku ...

    Terusin, kebiasaan menggantung kalimat. Gegara hal serupa, aku ikut maumu. Hukumannya nyanyi didepan kelas.

    Loh, itu lagi. Waktu itu aku bilang kau lanjutkan dalam cerita di suratmu. Ketika aku bilang begitu. Kau belum menyimak. Langsung nulis. 

    Enggak bisa ya memaafkan, susah ya. Nih manisan buah pala kesukaanmu. Senyum dong. Kalau cemberut, seperti burung pelatuk tanpa paruh.

    Biarin. Kamu enggak pernah peka tentang perasaan.

    Widih, sekian lama tak satupun suratmu datang. Uban di kepalaku semakin merata.


    3/

    Ya. Kau tau sepiku tak berujung. Tatalah sesuka kau mau. Ruangan manapun. Aku pasti setuju. (Di hatinya) "Kau, tetap cantik sahabat lawasku ... Hmmh, meski kadang ngeselin."

    Boleh. Sekarang, besok, lusa, kapanpun ... Seperti menata hatimu ... (Di hatinya) "Wihhh kalau dia dengar, telingaku panjang di jewer sesukanya ... Kau tau cantik sahabat setia ... Susah loh mengendalikan perasaan ..."

    (Cantik. Suara hatinya) Ngomong dong ... Susah ya ngomong ...


    4/

    Hahaha ... Hampir setiap malam daun jendela terbuka lebar. Masuk angin tau. 

    Garing menunggu bayangmu tampil di langit-langit setiap ruangan telah kau tata, meski sepi tak jua mau pergi. Hih! Ngeselin. Nongol deh bayang-bayangmu bentar aja ...

    Tak mungkin. Enggak mungkin, terbalik tau. Sebelum kau memeluk bayang-bayangku. 

    Aku, melompat memeluk bantal guling. Aku simpan senyummu di bawah bantal. Karena bayang-bayangmu ngeles melulu. Weee ... 

    Susah ya saling terbuka. Itulah persahabatan kita ... Unik ya ... 


    5/

    Beneran nih. Kalau sayangmu jatuh kepeleset gimana? 

    Aku ingin memberi sayang setulus air di jambangan menyegarkan bunga impian. Tak perlu lagi percakapan. 

    Luruh waktu di permukaan temaram rembulan, masih tersimpan kenangan tangismu tergugu-gugu di bahuku, kelerengmu hilang di semak.

    Sejak itu kita sering menimba waktu sampai suara memanggil pulang ...


    6/

    Tulus, ketika persahabata kecil. Rebutan balon, terpingkal pingkal sesuka hati. Mandi di kali lupa pulang.

    Daun gugur selewat musim. Kalau mungkin, lebih jujur kembali ke masa kecil, sahabat cantik nun dibalik cerita di antara mega berarakan menyambut waktu kenangan ...

    ***

    Jakarta Indonesiana, Desember 01, 2022.

    Ikuti tulisan menarik Taufan S. Chandranegara lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.