Dropshipper Menjadi Alternatif Income Generasi Sandwich - Urban - www.indonesiana.id
x

Generasi sandwich merupakan generasi yang menjadi tulang pungggung untuk menghidupi diri sendiri serta keluarganya

Aulia Tri Nuryani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2022

Sabtu, 3 Desember 2022 09:01 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Dropshipper Menjadi Alternatif Income Generasi Sandwich

    generasi sandwich dituntut harus bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga dengan jerih payah dari penghasilannya. dengan adanya alternatif income membuat generasi sandwich mempunyai masa depan.

    Dibaca : 1.432 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Di zaman sekarang anak muda dituntut harus bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Berusia sekitar 17 – 50 tahun yang merupakan usia produktif untuk bekerja serta beraktivitas. Zaman yang serba modern ini menimbulkan banyak permasalahan, terutama masalah ekonomi yang semakin hari meningkat. Peran anak muda yang di sebut sebagai generasi penerus bangsa menjadi taruhan kerasnya kehidupan. Mimpi dan cita-cita yang dimiliki anak muda sepertinya akan terus berubah menyesuaikan kondisi serta kenyataan yang ada, dan seringkali tidak sesuai dengan apa yang diinginkan sebelumnya.

    Konon katanya anak muda yang notabennya harus terus berproses untuk menemukan jati diri nyatanya banyak yang tersingkirkan karena tuntutan tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya, dengan cara bekerja apa saja demi memperoleh penghasilan. Manyampingkan gengsi, keinginan, cita-cita dan mimpi mungkin sudah menjadi hal yang biasa dialami anak muda generasi sandwich. Generasi sandwich merupakan sebutan yang berikan pada anak muda yang menghidupi diri sendiri dan seluruh kebutuhan keluarganya dari hasil jeri payah perjuangannya.

    Generasi sandwich banyak ditemukan terlebih di negara berkembang seperti Indonesia. Faktor yang mendorong anak muda menjadi generasi sandwich salah satunya adalah kurangnya mawas diri dan pengawasan dari orang keluarga. Peran dan tanggungjawab orang tua merupakan kunci utama dalam terbentuknya generasi sandwich. Jika didalam sebuah keluarga orang tua tidak bertanggungjawab atas segala yang dibutuhkan, maka mau tidak mau anak yang menanggung seluruhnya. Dengan demikian peran anak akan berlipat ganda bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri serta bertanggungjawab atas kehidupan keluarganya.

    Faktor dari usia orang tua juga banyak ditemukan dalam proses terbentuknya generasi sandwich. Seperti memiliki orang tua yang berusia lansia contohnya, orang tua tidak mampu lagi bekerja untuk menghidupi anak-anak dan anggota keluarga. Mungkin banyak yang berkata “banyak anak banyak rezeki” tetapi ungkapan itu akan lebih tepat jika di buktikan pada orang tua yang mampu secara finansial, mereka akan memberikan privillage kepada anaknya berupa finansial untuk tumbuh kembang, pendidikan yang cukup, dan seluruh kebutuhan baik pokok maupun sekunder.

    Sebaliknya, orang tua yang kurang mampu secara finansial justru akan menambah beban dan tanggungjawab jika mempunyai banyak anak. Diusia yang sudah tidak muda, seharusnya orang tua sudah hidup damai dengan menikmati hasil kerja keras dimasa muda, tetapi kenyataannya banyak orang tua yang masih mempunyai tanggungjawab mengurus anak karena usia anak yang belum dewasa untuk bisa menghidupi diri sendiri. Setelah anak beranjak dewasa dan bisa memperoleh penghasilan sendiri, banyak orang tua yang menggantungkan seluruh hidup pada anaknya. Padahal seseorang hidup didunia ini mempunyai tanggungjawab masing-masing atas dirinya sendiri bukan malah melimpahkannya pada anak, saudara, apalagi anggota keluarga yang lain.

    Lagi dan lagi tentang masalah ekonomi yang tidak ada hentinya, salah satu hal yang terpenting dari kehidupan adalah bagaimana caranya kita bisa mempersiapkan diri baik secara fisik, rohani, mental dan finansial yang cukup sampai hari tua mendatang. Menanamkan sedari dini untuk bisa mengelola keuangan menjadi hal yang utama, generasi muda yang identik dengan kehidupan hedonis justru lebih harus banyak menyadari bahwa menabung itu sangat penting, seperti halnya investasi dan asuransi guna diperolehnya hari tua yang tenang bahkan terjamin.

    Menjadi generasi sandwich dituntut harus siap secara fisik dan mental. Sikap menye-menye sebelum menjadi generasi sandwich yang biasanya melekat pada anak muda perlahan akan menghilang. Mereka di tuntut untuk menjadi kuat dalam segala kondisi. Terbentuknya kuat juga tidak langsung secara instan, mereka berproses setiap harinya untuk tetap damai dengan tekanan kerasnya kehidupan yang setiap hari menyapa dan terus berjalan bersama. Cara orang tua mendidik juga sangat mempengaruhi tumbuh kembang generasi sandwich. Mereka terbiasa dengan kemandirian yang orang tua ajarkan dari sejak dini hinga dewasa.  Mau tidak mau, mereka akan terbentuk kuat secara lahir dan batin mereka kelak.

    Selain menjadi kuat, generasi sandwich juga mempunyai sikap tanggungjawab yang luar biasa dibandingkan dengan anak muda pada umumnya. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah, cicilan dan yang lainnya untuk keluarga, padahal seharusnya mereka bekerja untuk diri sendiri, dan juga memberikan reward untuk diri sendiri.

    Tanggungjawab seorang generasi sandwich sangat berat, selain harus menghidupi diri sendiri  generasi sandwich juga harus menghidupi keluarganya. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga tidak cukup hanya dengan mengandalkan dari satu sumber penghasilan. Oleh karena itu generasi sandwich harus pintar memutar otak agar bisa mendapatkan income dari sumber lain. Dengan tujuan untuk mempunyai lebih dari satu income membuat generasi sandwich  tidak menjadikan dekat dengan istilah “galih lobang tutup lobang”, artinya pengahasilan yang didapatkan hanya akan habis untuk menutup hutang kemarin, tidak ada sisa untuk biaya hidup kedepan ataupun menyisihkan untuk tabungan.

    Generasi sandwich membutuhkan alternatif income sebagai sumber penghasilan sekunder.  Memilih pekerjaan sampingan juga harus banyak mempertimbangkan segala sesuatunya, termasuk waktu. Sehingga dengan adanya penghasilan dari alternatif incom tidak mengurangi efektifitas dari pekerjaan primer. Salah satunya dengan menjadi dropshipper.

    Menurut (Nugroho:2006) Dropshipper merupakan teknik yang digunakan sebagai pemasaran online bagi para pengusaha online atau penjual yang tidak perlu menyediakan barang jualannya karena pada saat mendapaatkan orderan dari pelanggan, maka penjual akan langsung meneruskan orderan dengan detail pengiriman kepada produsen, distributor dan supplier yang sudah bekerjasama dengan penjual.

    Menjadi seorang dropshipper tidak terikat dengan waktu dan tempat, yang berarti bahwa dropshipper adalah sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dengan menggunakan akun sosial media sebagai media dalam penjualan, seorang dropshipper mampu mengiklankan produk. Kemudian, pembeli akan melihat dan membelinya secara online dengan menggunakan transaksi online. Hal ini memudahkan generasi sandwich dapat memproleh income dari sumber lain dengan mudah.

    Ikuti tulisan menarik Aulia Tri Nuryani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 432 kali