Perempuan Bernama Arsy - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Wanita. Karya: Anja dari Pixabay.com

Aslan Rakhan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Sabtu, 3 Desember 2022 08:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perempuan Bernama Arsy

    Anak yatim piatu, bungsu dari sebelas bersaudara. Jarak usianya yang jauh dari kakak-kakaknya membuat Arsy diperlakukan seperti bola. Tidak ada yang benar-benar mau merawatnya. Kakak-kakaknya selalu punya alasan untuk menolak kehadiran Arsy. Menjadi anak angkat Bidan Sariah sejak usia tujuh tahun, kehidupan Arsy perlahan berubah. Ia mulai menemukan mimpinya untuk menjadi bidan. Tapi saat itulah para kakaknya mulai terusik!

    Dibaca : 705 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Arsy!”

    Teriakan itu membuat bidan Sariah bergegas menuju pintu utama, perempuan setengah baya itu membenahi tutup kepala dan berjalan sembari setengah mengomel. Ia mengenali suara itu dan kemarahan berdentum-dentum di dadanya karena ia tahu pemilik suara yang tidak punya sopan santun tersebut.

    Suara pintu berderit, membuat beberapa keluarga pasien mengernyitkan dahi. ‘Sudah waktunya memperbaiki pintu berisik ini,’ pikir Bidan Sariah saat membuka pintu selebar-lebarnya. Selebar itu pula mata sang bidan kala menatap pria jangkung di halaman rumah sekaligus klinik bersalinnya.

    “Apakah kau sudah kehilangan sopan santunmu Idam?” tanya bidan Sariah dengan suara dalam. Menatap setajam mata elang pada sosok jangkung itu.

    Pria itu berdehem, malu dan tentu saja canggung. “Maaf, Etek,” ujarnya setengah bergumam. Bidan Sariah menggeram kesal. Pasien bersalin sedang banyak, pria ini pasti mencari Arsy untuk rumor yang beberapa  hari ini menyambangi telinga Bidan Sariah.

    “Saya harus bertemu Arsy,” ujar Idam.

    “Dia masih membantu pasien melahirkan,” jawab bidan Sariah. “Etek harap kau bisa menunggunya sebentar. Duduklah dahulu.”

    Setengah jam menunggu, Idam mulai gelisah. Bolak balik menatap pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan klinik. Hingga akhirnya sosok itu muncul seraya mengelap kedua tangannya dengan sebuah handuk kecil. Bibirnya menyungging senyum ketika gadis itu akhirnya muncul.

    Arsy duduk di kursi terjauh dari kakaknya, menatap pada Idam dengan mata yang terlihat lelah. “Kau terlihat lelah,” ujar Idam pelan.

    Arsy menggeleng. “Tidak ada kata lelah dalam hidup ambo, Da,” sahutnya.

    Idam terdiam, ia berusaha menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan maksud kedatangannya.

    “Jadi, apa yang membawamu ke sini, Idam?” bidan Sariah tiba-tiba datang dengan semangkuk besar makanan yang masih mengepul. Meletakkan mangkuk itu di hadapan Idam dan ikut duduk di sana. Membuat pria itu sedikit risih, ia ingin bicara berdua saja dengan adik bungsunya.

    “E…, mungkin Etek sudah mendengar,” ujarnya canggung.

    “Lamaran dari Tuan Malim?” tanya bidan Sariah, Idam mengangguk seraya melirik adiknya. Berharap ada keriangan di wajahnya yang begitu memukau. Siapa di kampung mereka yang tidak ingin dilamar Tuan Malim? Pemilik tanah dan sawah yang jumlahnya tak terhitung. Kekayaan yang tidak bisa disaingi siapapun.

    Tetapi, wajah Arsy masih datar. Ia sudah mendengar berita itu dari beberapa pasien yang sengaja bergosip setiap kali ia berjalan di dekat mereka. Menyebut betapa beruntungnya Arsy. Mungkin semua orang, termasuk kakaknya lupa bahwa Bidan Sariah adalah mantan istri pertama Tuan Malim.

     “Bagaimana Arsy?” tanya Bidan Sariah, ia menampilkan raut datar di wajah tuanya yang meneduhkan. Arsy menatap wanita yang telah menyelamatkannya dari kejaran parang kakak iparnya, membawanya dari hutan yang lembab tempat ia bersembunyi dalam ketakutan dan rasa lapar yang menggigit serta luka yang nyaris memenuhi sekujur tubuh.

    Dua belas tahun yang lalu saat usia Arsy masih tujuh tahun, ia terpaksa lari dari rumah. Memacu kakinya yang terluka karena terinjak kerbau, sementara kakak iparnya mengejar dengan mengayunkan sebilah parang panjang sembari berteriak memaki. Lupa memberi makan kerbau yang telah menginjak kakinya hingga terluka lebar. Luka yang membuat Arsy demam sepanjang siang dan terlelap hingga sore.

    Ia terbangun ketika suara melengking Baeram, istri Idam menyeruak ke seluruh gendang telinga orang sekampung. Kerbau kesayangan Idam yang tengah bunting besar melarikan diri ke hutan karena lapar. Arsy yang ditugaskan memberi makan si kerbau, terlelap begitu nyenyak di kamar belakang yang apek. Terkejut dan belum memahami apa yang terjadi, Arsy memilih bangkit dan berjalan keluar.

    Justru itu membuat amarah sang kakak ipar semakin memuncak, ia mencari parang panjang dari dapur dan mulai mengayun-ayunkan benda tajam itu pada gadis kecil Arsy. Menyumpalkan semua sumpah serapah ke telinga gadis yang masih berusia tujuh tahun itu. Arsy ketakutan akan ancaman ujung parang yang berkilauan dalam matahari sore, memilih melarikan diri ke sawah.

    Kejar mengejar antara Baeram dan Arsy dalam cahaya senja menarik perhatian orang kampung, tapi tak ada yang bisa menenangkan wanita yang sedang mengandung itu. Mereka hanya bisa menjerit dan berteriak-teriak mencegah tanpa ada yang berusaha menghentikannya secara tindakan.

    Arsy terus berlari, hingga terjungkal ke dalam sawah yang baru saja dibajak. Bangkit dengan tubuh penuh lumpur dan terus berlari menyeberangi sungai. Basah kuyup, lapar karena dari siang tidak makan, sakit yang merajam kakinya, Arsy memilih masuk ke dalam hutan. Menjauh dari teriakan Baeram. Mendekam dalam sebuah pondok reot saat malam menjelang. Meringkuk dalam kedinginan, ketakutan dan rasa lapar, hingga kantuk menjemputnya di tengah malam.

    Arsy membuka mata, ketika ia mendengar ada yang memanggilnya. Menemukan sebentuk wajah tulus bidan Sariah yang tersenyum lembut padanya. “Kau tidur di sini sejak malam?” tanya bidan Sariah.

    Hatinya menangis melihat penampilan Arsy, penuh lumpur yang setengah  mengering. Menggigil sembari memeluk lututnya, sepertinya ia sakit. Bidan Sariah mencoba menyentuh luka Arsy yang membengkak dalam balutan lumpur , membuat sang bidan cemas akan tetanus yang bisa saja menyerang gadis kecil itu. Arsy menarik kakinya yang berdenyut nyeri saat tangan halus Bidan Sariah mencoba memeriksanya.

    “Ikutlah, Etek akan mengobatimu,” ujarnya pelan. Ia sudah mendengar apa yang terjadi dan sengaja mencari gadis kecil ini ke hutan, untuk menyelamatkannya.

    Anak yatim piatu, bungsu dari sebelas bersaudara. Jarak usianya yang jauh dari kakak-kakaknya membuat Arsy diperlakukan seperti bola. Tidak ada yang benar-benar mau merawatnya, kakak-kakaknya selalu punya alasan untuk menolak kehadiran Arsy. Dan Baeram mau menerimanya hanya karena ia sedang mengandung dan butuh tenaga Arsy untuk mengurus rumah.

    Menjadi anak angkat Bidan Sariah sejak usia tujuh tahun, kehidupan Arsy perlahan berubah. Ia mulai menemukan mimpinya untuk menjadi bidan. Tapi di saat ia hampir mendekati impian itu, lamaran Tuan Malim muncul. Lamaran yang membuat Idam datang hari ini, setelah selama dua belas tahun tak pernah bertanya tentang kabarnya apalagi datang menjenguk untuk sekedar tahu apakah dia masih hidup atau tidak.

    Arsy menatap Idam dengan tatapan yang tak mampu diartikan sang kakak. Ia hanya berharap, Arsy akan mengangguk untuk lamaran itu. “Arsy masih ingin sekolah, Da.”

    Tetapi, jawaban itu yang muncul dari bibir Arsy. Idam merasa geram, ia tidak membayangkan Arsy menolak lamaran itu. Siapa yang tidak ingin bermenantukan Tuan Malim? Apalagi Tuan Malim sudah memberikan sejumlah uang dan beberapa hektar kebun kelapa sebagai mas kawin untuk Arsy. Harta yang sudah Idam bagi pada adik-adiknya, tentu saja selain Arsy. Karena toh, nanti Arsy akan mendapatkan lebih dari itu jika ia menjadi istri Tuan Malim. Istri keempat tepatnya.

    “Kau paham dengan apa yang kau katakan?” tanya Idam menahan amarah.

    “Tentu saja, Da. Arsy juga punya cita-cita, punya harapan kehidupan seperti apa yang ingin Arsy jalani. Dan lamaran ini, bukanlah keinginan Arsy.”

    “Kau tahu berapa yang diberikan Tuan Malim pada keluarga kita?”

    “Keluarga Uda dan kakak-kakak lain maksud Uda?”

    Telak, ucapan Arsy yang tak bisa dibantah itu membuat telinga Idam memerah hingga ke leher. “Arsy menolak, Da. Tentang harta yang telah kalian bagi itu, tolong jangan libatkan Arsy.”

    Idam menggeram. “Kau sungguh tidak tahu terima kasih,” kesalnya.

    “Terima kasih?” Arsy menatap kakaknya tajam. “Rasa terima kasih atas apa? Atas luka di kaki Arsy yang sampai sekarang masih membekas? Atau atas penolakan kalian yang selama ini?”

    Idam menatap adiknya yang masih tak mengalihkan tatap dari wajah kesal sang kakak. “Apapun yang kalian terima dari Tuan Malim, tidak ada hubungannya dengan Arsy, Da. Maaf, ada pasien yang menunggu.”

    Berkata begitu, Arsy bangkit dan berlalu ke klinik. Kembali ke kamarnya dan menangis puas di sana. Kemarahan yang membuncah seperti lahar Marapi, tak mampu ia muntahkan seluruhnya pada Idam. Tetapi berbeda dengan bidan Sariah, ia tak bisa menahan kemarahannya.

    “Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Idam?”

    “Etek, saya harap Etek tidak ikut campur dalam urusan keluarga kami,” kesal Idam.

    “Keluarga? Dimana kalian saat dia bersembunyi ketakutan dalam hutan. Terluka, lapar dan ketakutan. Dimana kalian selama 12 tahun ini? Apa kalian pernah bertanya bagaimana kabarnya?”

    Idam bangkit, “Saya harap Etek bisa membujuk Arsy untuk menerima lamaran Tuan Malim,” ujarnya. Bidan Sariah ikut bangkit.

    “Dia tidak akan menerima lamaran itu, Idam. Arsy sudah diterima di sekolah kebidanan di Padang, dia akan berangkat beberapa hari ke depan. Mengenai uang dan tanah yang kalian terima, saya yang akan membayarnya pada Malim.”

    Mereka bersitatap dalam pendirian yang masing-masing tak bisa diubah. “Sudah petang, sebaiknya kau pulang. Baeram pasti menunggumu dengan cemas.”

    Diusir secara halus, Idam beranjak turun dari rumah Bidan Sariah. Melangkah panjang dalam kemarahan yang menggigit setiap sudut di dalam batinnya. Sementara itu, Bidan Sariah berjalan ke kamar. Mengambil sebuah bungkusan yang telah lama ia simpan dan tak pernah dibuka.

    Mendatangi Arsy di kamarnya. “Berhentilah menangis, tidak satupun dari mereka yang bisa memaksamu dalam pernikahan itu,” ujarnya pelan.

    Cahaya senja semakin meredup, tetapi Bidan Sariah membawa payung dan turun ke halaman. Ia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya, sebelum rencana sekolah Arsy terganggu.

    Bidan Sariah menatap rumah mewah itu dari depan pagar tanaman yang mengelilinginya. Menghela nafas dalam dan melangkah masuk dalam langkah-langkah kecil yang bergegas.

    “Apa yang membawamu datang di senja seperti ini?” suara itu membuat bidan Sariah sedikit terkejut. Ia mendongak ke sumber suara, menemukan Tuan Malim yang berdiri angkuh dengan rokok di tangan di jendela rumah. Tawa mengejek menguar dari bibir hitamnya. Laki-laki tua itu beranjak turun.

    “Kau terusik karena aku melamar anak angkatmu?” kekehnya setelah mereka berdiri sejajar dalam jarak satu meter. “Tidak menyangka bahwa aku, mantan suamimu melamar dia?”

    “Kau tidak punya perempuan lain, Malim? Kenapa harus putriku?”

    “Matamu pasti tahu, dia gadis paling cantik dan terpelajar di kampung ini. Siapa yang tidak tertarik padanya?”

    “Kau cemburu?” kekehnya lagi.

    Bidan Sariah menatap Tuan Malim dengan perasaan jijik, ia mundur satu langkah. Membuat tawa Tuan Malim semakin mengangkasa. “Cemburu?” mata Bidan Sariah melebar. “Hubungan diantara kita sudah berakhir lima belas tahun yang lalu, Malim. Bahkan bekasmu saja sudah tidak ada di hatiku,” sahutnya dengan nada jijik yang tidak bisa ia sembunyikan.

    Bibir Tuan Malim komat kamit dalam kemarahan yang mendidih. “Kau memang perempuan tidak tahu diuntung!” teriaknya.

    “Aku datang hanya untuk mengingatkan kau, Malim. Jangan ganggu anak perempuanku,” ujarnya dengan nada dingin yang membuat tengkuk Tuan Malim meremang.

    “Bisa apa kau Sariah? Aku sudah memberikan banyak uang dan kebun kelapa untuk keluarganyaa. Mereka tidak akan melepaskan gadis itu, karena mereka tidak akan bisa mengembalikannya padaku.”

    Bidan Sariah mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya, bungkusan kecil yang diikat dengan karet dan sebuah kertas dalam sebuah gulungan lusuh. “Kurasa ini lebih dari cukup untuk mengganti uang yang kau berikan pada mereka. Dan untuk pengganti kebunmu, ini surat tanahku yang di ujung Koto,” berkata begitu, ia meletakkan benda-benda yang ia pegang di atas batu di samping mereka.

    “Aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan.”

    Bidan Sariah berbalik, melangkah menjauh tanpa peduli teriakan marah Tuan Malim yang menggema bersamaan dengan ujung senja yang makin turun. Wanita itu terus melangkah diantara angin senja yang mulai dingin. Ia mempercepat langkah agar tiba di tempat tujuannya sebelum gelap.

    “Idam!” suaranya melengking ketika kakinya berhenti di sebuah rumah gadang berwarna pekat. Seorang wanita muncul di jendela, terkejut saat menemukan wajah bidan Sariah di halaman. Ia bergegas turun seraya memperbaiki selendang.

    “Bu Bidan,” cicitnya seraya mengambil tangan Bidan Sariah dan membawanya ke bibir.  Bidan Sariah buru-buru menarik tangannya sebelum bibir bergincu sirih perempuan muda itu menyentuh punggung tangannya.

    “Petang begini, apa yang membawa bu bidan datang ke rumah kami?” tanya Baeram.

    “Panggilkan suamimu.”

    “Naiklah dulu, bu bidan.”

    “Sudah petang, aku harus kembali sebelum malam. Arsy sendirian di klinik.”

    Baeram bergegas naik dan turun kembali bersama Idam. “Naiklah sebentar bu bidan, tidak enak dilihat orang bicara di bawah tangga seperti ini,” pinta Idam. Bidan Sariah menggeleng.

    “Aku datang hanya untuk memberitahumu, jangan lagi memaksa Arsy menikah. Uang dan kebun yang diberikan Malim pada kalian sudah aku ganti. Jadi berhentilah mengusik anak perempuanku.”

    Idam ternganga, ‘apa yang ada di benak perempuan ini?’ pikirnya. Bersedia mengganti uang sebanyak itu dan juga kebun, untuk seorang anak yang tidak ada pertalian darah dengannya. Sejenak Idam merasa dipermalukan.

    “Jangan datang lagi,” ketus Bidan Sariah. “Bersikaplah seperti 12 tahun ini,” sambungnya.

    Ia menatap Baeram sejenak, perut buncit wanita itu menarik perhatiannya. “Perhatikan usiamu untuk kehamilan kali ini. Resikonya sudah cukup besar untuk kau yang sudah melahirkan sebanyak enam kali.”

    Berkata begitu ia mengaturkan pamit dan berjalan menjauh. Meninggalkan Idam yang masih tegak seperti patung di kaki tangga.

    (Cerpen ini idenya pernah saya tuangkan dalam bentuk serial di sebuah aplikasi menulis online, tetapi tidak pernah saya teruskan. Saya melakukan beberapa perubahan nama karakter dalam cerpen ini)

    Ikuti tulisan menarik Aslan Rakhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.