Apapun yang Berlebihan adalah Racun - Analisis - www.indonesiana.id
x

Cara Mudah Menghasilkan Uang di Internet\xd

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 3 Desember 2022 08:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Apapun yang Berlebihan adalah Racun

    Apapun yang melebihi kebutuhan kita adalah racun. Demikian kata Maulana Jalaludin Rumi, sang sufi dari Konya. Apa maksudnya?

    Dibaca : 1.188 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

     

    Kali ini kita akan membahas sebuah quote lain dari Maulana Jalaludin Rumi.  Lengkapnya berikut ini.  “Anything which is more than our necesessity is poison.  It maybe power, wealth, hunger, ego,  greed, laziness, love, ambition, hate, or anything.”   Apapun yang melebihi kebutuhan kita adalah racun.  Ia bisa saja kekuasaan, kekayaan, kelaparan, ego, ketamakan, kemalasan, cinta, ambisi, kebencian, atau apa saja.

    Buat sebagian orang mungkin quote ini terasa aneh.  Bukankah kekayaan itu nikmat?  Kalau datangnya kekayaan dari sumber yang sah tidak masalah kan?  Kekuasaan saya datangnya dari proses demokratis yang jujur, transparan dan bersih.  Cita cita saya tinggi dalam bidang yang sah.  Demikian mungkin pemikiran anda.

    Kalau anda banyak melakukan traveling ke berbagai belahan dunia maka anda akan memiliki banyak rujukan yang akan membantu anda memahami maksud Rumi.  Manakala anda pergi ke negara negara maju nampak jelas sekali kemajuan ekonomi dan teknologi mereka yang akan membuat anda takjub.  Kadang saya termenung ketika melihat jauhnya kesenjangan antara negri kita dengan mereka.   Melihat banyaknya gedung megah dan mewah, makanan mewah dan berlimpah, pakaian megah dan mewah, dan segala macam fasilitas yang berlebih membuat saya kagum dan sekaligus termenung. Betapa jauhnya jarak di antara kita dengan mereka.

    Tapi segala macam kemegahan dan kemewahan itu tidak membuat mereka menjadi hamba Allah yang baik.  Mereka justru menjadi budak dari hartanya dan segala macam kelebihannya. Termasuk ilmunya.

    Orang orang yang diberi kemakmuran besar sekali itu gaya hidupnya luar biasa mewah.  Mereka menikmati kemewahan yang jauh lebih besar daripada yang mereka butuhkan.  Mungkin anda pernah dengar tentang sebuah puri di Jerman yang bernama Neuschwanstein.  Ini adalah sebuah istana sangat megah seperti di negri dongeng.  Istana ini dibangun dengan biaya sangat besar dan hanya untuk satu orang saja yaitu  raja Ludwig II dari Bavaria.  Itupun hanya sempat ditempati sebentar saja.  Jadi alokasi harta yang sangat berlebihan. 

    Mungkin anda sering melihat atau paling tidak membaca tentang adibusana ciptaan para perancang busana terkemuka di Eropa.  Harga busananya sangat fantastis dan dipakainya hanya sekali saja.  Satu biji tas saja harganya ratusan juta bahkan milyaran Rupiah.  Jangan bayangkan tas seperti itu akan dipakai setiap hari dalam waktu lama.  Beda banget dengan tas sekolah kita yang dipakai setiap hari selama beberapa tahun sampai kumal. 

    Mungkin anda pernah melihat video tentang pesawat pribadi orang super kaya.  Gagang pintu, keran air dsb terbuat dari emas.  Apakah mereka butuh emas?   Sejatinya tidak.  Tapi mereka tidak mau disamai apalagi diungguli oleh orang biasa.  Maka mereka membeli sesuatu yang orang biasa tidak kuat membeli.  Mereka tidak mau kalah.  Egonyalah yang mendorongnya bertindak begitu. Sangat berlebihan memang.

    Kemakmuran di banyak negara  justru membuat mereka yang diberi menjadi sekuler, menjadi lupa kepada Allah swt.  Jadi sejatinya kekayaan itu justru berdampak buruk.  Kekayaan mereka itu tidak membawa manfaat kecuali sedikit.   Kemakmuran itu tidak membawa mereka ke jalan menuju kebahagiaan sejati di alam akherat.

     

    Hal ini sudah disebutkan di dalam Al Qur’an di Surat At Takatsur:

    Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

    sampai kamu masuk ke dalam kubur

    Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)

    dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui

    Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin

    niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim

    dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin (dengan mata kepala sendiri)

    kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)

     

    Di alam akherat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas hartanya.  Bermegah megahan adalah perbuatan yang tercela.  Jadi benar kata Rumi bahwa harta yang berlebihan malah jadi racun.

     

    Demikian juga dengan kekuasaan yang terlalu besar.  Sila baca sejarah politik di berbagai negara.  Sudah banyak sekali diktator, raja, penguasa yang sewenang wenang ketika jaya, kemudian di akhir hidupnya mengalami nasib yang mengenaskan.  Monggo sekali sekali berwisata ke manca negara.  Nanti Anda akan saya melihat sendiri banyak sekali contoh.

     

    Kelaparan, kemiskinan yang sangat juga bisa menimbulkan sikap yang  membuat mereka makin terpuruk. Ada yang jatuh dalam perbuatan kriminal.  Ada yang melarikan diri ke klenik.  Ada juga yang bunuh diri. 

     

    Ketamakan juga meracuni.  Dulu saya banyak baca buku politik internasional.  Isinya sangat rasional, sangat bagus penalarannya, tapi juga bisa mendorong orang makin tamak.  Dalam kalkulasi politik internasional sebaiknya sebuah negara menguasai ekonomi, wilayah, sumber sumber, jalur laut, iptek, sdm dsb.  Semuanya awalnya untuk keamanan ekonomi dan politik.  Tapi banyak negara malah kebablasan ingin menguasai dunia.  Itulah yang diakukan negara adi daya.  Cerdas, kuat dan makmur tapi kehilangan sifat kemanusiaan.  Mereka ‘keracunan’. 

     

    Kemalasan juga ‘racun’.  Orang yang terlalu malas menjadi orang yang tidak punya ‘sayap’.  Mereka tidak bisa ‘terbang’.  Mereka hanya ‘merangkak’ saja.  Contohnya banyak, ada di semua negara.

     

    Ambisi yang terlalu besar juga ‘meracuni’ banyak orang.  Tidak sedkit yang lantas menghalalkan segala cara, melanggar aturan Allah dan aturan negara demi mengejar cita citanya. Akibatnya justru menyengsarakan dia dan keluarganya.

     

    Kebencian yang terlalu dalam juga ‘racun’ yang membuat orang tidak sehat jiwanya.  Banyak orang lalu melakukan balas dendam.  Sebagian besar hanya dalam kata kata kasar. Apapun itu sejatinya tindakan itu merugikan dirinya sendiri.  Tapi orang yang keracunan tidak menyadari bahwa dia sedang mencederai dirinya sendiri.

     

    Itulah orang orang jajahan dalam bahasa saya.  Kalau dalam bahasanya Rumi mereka adalah orang yang terkena racun. 

     

    Lantas bagaimana sebaiknya kita menyikapi?  Menariknya beberapa kebudayaan memiliki saran untuk menyikapi dunia ini.

     

    Seseorang yang berasal dari budaya Barat pernah memberi nasehat kepada saya bahwa “Money has nothing to do with happiness”.  (Uang tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan) Ada orang yang salah sangka mengira ini adalah anjuran untuk miskin.  Sedangkan sejatinya bukan demikian.  Ini adalah anjuran agar kita tidak mengira bahwa kebahagiaan identik dengan kekayaan. Kebahagiaan bisa saja didapatkan oleh orang pas pasan.

     

    Wayne Dyer, seorang motivator dari negeri Paman Sam menulis tentang detachment. Dalam bahasa Inggris detachment adalah lawan kata attachment.  Jadi artinya kira kira melepaskan diri. Maksudnya melepaskan diri dari keterikatan kepada dunia. Bukan berarti menjadi miskin. Kita tetap memiliki harta sebagai sarana kehidupan tapi tidak berlebihan. Tidak menjadi budak harta.

     

    Dalam bahasa Jawa idealnya kita “Mungkur kadonyan” (memunggungi dunia). Maksudnya mengambil jarak dengan dunia.  Dalam pandangan Jawa kita sebaiknya membebaskan diri dari penjajahan oleh harta dan segala pesona duniawi.

     

    Almarhum ayah saya dulu sering menggambarkan orang yang ‘keracunan’ itu sebagai orang yang akan ke utara tapi malah sampai di selatan.  Mereka kesasar, tidak kesampaian keinginannya karena mata hatinya tidak melihat jalan yang benar, jalan yang diridoi Allah swt.

     

    Orang Jawa memiliki filosofi hidup sak madyo yang artinya moderat atau rata rata saja.  Kita harus memiliki harta karena itu sarana hidup, tapi moderat saja.  Demikian juga dalam segala hal.  Tujuannya agar kita tidak ‘teracuni’. 

    Jadi baik dari Barat maupun dari Jawa semuanya memiliki kiat membebaskan diri dari ‘penjajahan’ atau dari ‘racun’.

     

    Bagaimana dalam Islam?

    Jelas bahwa Muslim harus menghambakan diri hanya kepada Allah saja. Tidak boleh menjadi hamba harta atau kekuasaan. Jadi seorang Muslim tidak dikuasai oleh harta atau nafsu. Dia yang menguasainya. Caranya ya dengan melakukan semua tindakan ibadah seperti sholat, puasa, bayar zakat, sedekah, naik haji dll. Semuanya kalau dilakukan dengan baik dan benar maka seorang Muslim akan mampu membebaskan diri dari ‘penjajahan’.

     

    Semoga kita termasuk orang yang tidak ‘teracuni’ sehingga tetap menjadi hamba Allah yang baik sehingga mendapat pahala besar.

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.