Mereka yang Putus Sekolah Pasca Pandemi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bagus Alam

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2022

Minggu, 4 Desember 2022 07:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mereka yang Putus Sekolah Pasca Pandemi

    opini ini tentang banyaknya putus sekolah setelah masa pandemi usai

    Dibaca : 399 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dampak dari virus yang menyebar kuang lebih sudah dua  tahun ini tak hanya melanda di Indonesia saja namun berbagai belahan dunia, membawa problematika yang masif secara mengglobal. Virus ini membawa pengaruh positif dan negatif yang menyebabkan masyarakat di sektor ekonomi, sosial, budaya, dan politik sekarang ini menjadi tidak kondusif tak kecuali dalam bidang ekonomi.

    Pemerintah Indonesia akhirnya mencari cara untuk meminimalisir dampak dari virus Covid 19 dengan membuat sistem Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). PPKM terbukti bisa menghambat laju penyebaran covid 19. Namun hal ini juga menjadikan masyarakat tidak bisa leluasa keluar rumah seperti biasanya, tak hanya masyarakat saja namun berbagai perusahaan seperti ojek online, paket, pedagang kaki lima yang biasanya beroperasi pada malam hari menjadi terhenti dengan adanya sistem PPKM tersebut dan juga beberapa perusahaan besar yang 24 jam harus buka terus menerus mau tak mau harus mengikuti sistem PPKM yang diperlakukan oleh pemerintah.    

    Pemberlakuan sistem kerja baru dalam beberapa perusahaan tak membuat para pegawai senang karena hanya 50% saja karyawan yang berangkat dan banyak dari pegawai mereka yang sebagian di rumah.  Perusahaan perusahaan jadi berkurang aliran pemasukan karena sedikitnya tenaga kerja. Hal ini menjadikan perusahaan mencari alternatif untuk menutup kerugian, yaitu dengan mengurangi pegawai. Hal ini mengakibatkan penghasilan dari para pegawai tersebut berkurang dan mau tak mau harus mencari aliran penghasilah tambahan untuk menghidupi keluarganya. Entah itu menjual perabotan yang sudah tidak terpakai atau menjual barang barang pribadi supaya bisa tetap mendapatkan penghasilan tambahan walau sedikit, namun hal tersebut hanya sementara guna menutupi kekurangan dalam keluarganya dan para orang tua tak mau anak nya memiikirkan kegelisahan yang dihadapi oleh orang tua mereka sebisa mungkin para orang tua harus terlihat ceria dan terlihat tidak mempunyai beban didepan anak nya.              

    Dampak yang sangat di rasakan oleh perusahaan yaitu seperti barang dagangan yang biasanya laku keras diberbagai daerah sampai luar negri menjadi susah untuk di jual belikan karena terhambat oleh Pemberakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan adanya sitem tersebut akan menghambat kegiatan di sektor perekonomian. Disisi lain perusahaan mengantisipasi dengan mengurangi gaji karyawan kurang lebih 35% dari pendapatan aslinya karena perusahaan pun tak mau ambil kerugian dari dampak covid 19 tersebut, namun strategi tersebut tak berjalan seperti yang di harap kan karena banyak sekali karyawan yang muai mogok kerja dan banyak yang memprotes ke perusahaan nya. Alhasil banyak perusahaan yang harus memutar otak dengan memberhentikan para karyawannya supaya tetap bisa menutupi kerugian perusahaan yang di naunginya.

    Para karyawan yang telah di PHK oleh perusahaannya menjadi semakin pusing karena di sisi lain ingin menghidupi keluarganya namun tak tau lagi harus bagaimana karena sudah melakukan banyak cara tetap saja tidak menemukan jalan keluar. Alhasil jalan keluarnya anak pun terkena dampak dari virus Covid 19 yang menghambat perekonomian dalam keluarga, dengan terpaksa harus putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya karena untuk mengurangi beban yang di alami oleh keluarga mereka. Para anak anak yang telah putus sekolah sebenarnya tak mau mengambil resiko dalam mengapai masa depan mereka.  

    Nasib dari anak yang putus sekolah karena para orang tua mereka tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah akhirnya banyak dari anak yang putus sekolah tersebut dipaksa oleh orang tua mereka untuk membantu perekonomian keluarganya entah itu dengan membantu keluarganya atau pun mencari pekerjaan sendiri seperti menjadi tukang parkir di pingir jalan, mengamen, online shop dan lain lain hanya untuk membantu perekonomian keluarganya.

    Ketidakseimbangan ekonomi yang semakin memburuk ditambah dengan keadaan yang mengharuskan semua kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring. Hal ini kemudian menimbulkan pemikiran bahwa belajar menggunakan online tersebut tidak ada manfaatnya. Pemberlajaran online dinilai tidak efektif karena banyak alasan, seperti tidak bertatap muka secara langsung, tidak bisa bertanya dengan aktif antara pengajar dan pelajar, serta alasan teknis lainnya. Beberapa kawan penulis bahkan memutuskan tidak melanjutkan studinya selepas lulus Sekolah Menengah Pertama. Walaupun wajib belajar di Indonesia selama 12 tahun masih rencana dan hanya diwajibkan selama sembilan tahun, sangat disayangkan jika harus putus sekolah.

    Keputusan keluarga untuk memangkas ongkos pengeluaran ekonomi dengan memberhentikan studi anaknya adalah hal yang bisa tepat namun naif. Diluar dari fakta bahwa ilmu sangat penting terlepas didapat di masa sekolah walaupu online. Tentu hal ini sangat disayangkan mengingat di negeri kita bahkan lulusan sarjana yang tidak memiliki skill diluar disiplin ilmunya bisa kesulitan mencari pekerjaan, apalagi orang yang belum memiliki validasi ijazah SMA. Memang ijazah bukan satu-satunya syarat untuk memperoleh pekerjaan. Namun  kebanyakan instansi swasta maupun pemerintah pasti membutuhkan bukti pendidikan terakhir yang resmi dari intitusi

    Setelah pandemi Covid-19 berlangsung kurang lebih  dua tahun, kasus penyebaran mulai mereda dari hari ke hari. Masyarakat mulai membiasakan diri dengan keadaan pasca pandemi. Beberapa sekolah dan kuliah sudah memulai pembelajaran tatap muka. Perusahaan swasta dan instansi negeri juga mengurangi pegawainya bekeerja yang Work From Home (Bekerja dari rumah) secara perlahan. Kemudian timbul ironi bahwa anak yang terlanjur memutuskan tidak melanjutkan studinya, bagaimana mereka akan bisa bertahan dengan gaya baru dunia kerja pasca pandemi covid-19?

    Pemerintah selama dua tahun belakang berdarah-darah memperkuat di sektor keamanan kesehatan masyarakat dalam menghadapi badai covid-19. Menurut pandangan penulis, akan lebih baik jika dana yang ada disubsidikan untuk beasiswa bagi anak-anak yang putus sekolah semasa pandemi sebelumnya. Tidak perlu harus sampai sarjana, cukup fokusknya pada kewajiban belajar selama dua belas tahun.

     

     

        

    Ikuti tulisan menarik Bagus Alam lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.