Der Panzer Jerman: Jujur Ku Tak Ingin Engkau Pergi - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Tim Panser Jerman gagal bertanding ke putaran berikutnya di Piala Dunia 2022 Qatar

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Minggu, 4 Desember 2022 08:03 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Der Panzer Jerman: Jujur Ku Tak Ingin Engkau Pergi

    Jerman memang harus pulang awal? Satu pertanyaan penuh heran. Tentu banyak jawab di baliknya. Intinya, ada yang aneh untuk semuanya. Seperti ‘hancurkan tradisi paten.’ Bahwa Jerman segera angkat koper. Langsung sesudah babak penyisian Grup. Satu ‘dogma sepakbola’ mencair.

    Dibaca : 1.419 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    (satu permenungan dari rivalitas Grup E Piala Dunia Qatar 2022)

     

    Di Grup E malam ini memang semua harus berakhir. Kalkulasi matematik pertandingan akhirnya tiba pada kepastian. Jerman dan Kosta Rika mesti cukup sampai di sini. Spanyol di tempat kedua. Dan si Samurai Biru, Jepang bertakhta di puncak. Satu fase telah ditapaki.

    Jerman memang harus pulang awal? Satu pertanyaan penuh heran. Tentu banyak jawab di baliknya. Intinya, ada yang aneh untuk semuanya. Seperti hancurkan tradisi paten. Bahwa Jerman segera angkat koper. Langsung sesudah babak penyisian Grup. Satu dogma sepakbola mencair.

    Tim Panzer disikat Jepang di pertandingan awal. Berakhir seri melawan Spanyol, dan berjaya akhirnya melabrak Kosta Rika. Dan mesti tamat di Piala Dunia Qatar dengan selisih produk gol kurang dibanding Spanyol. Iya, itulah pertandingan. Hadir sebagai salah satu tim unggulan.  Namun mesti menerima kenyataan.

    Kini, sepertinya tak ada lagi tim yang difavoritkan apalagi sampai harus dipastikan. Entah untuk satu kemenangan pun untuk satu kekalahan. Nampaknya kedua tim yang berlaga di lapangan miliki talenta masing-masing 50 prosen. Entah mau dikembangkan selama pertandingan? Atau menjadi lengah dan akhirnya dirampok tim lawan?

    Lepas dulu suara-suara mulai berdesis sana-sini. Menyasar kembali keberlangsungan Piala Dunia di Qatar. Iya, selalu ada celah untuk dicari pembenaran dan salahnya. Seolah-olah tim yang dianggap berkelas  alami kekalahan, kesalahannya ditembakkan pada tanya: Level mafia seperti apa yang bisa loloskan  Qatar’ jadi Tuan Rumah?

    Opini dan berbagai tafsiran tentu bisa dilitania sepanjang-panjangnya. Namun, yang pasti Piala Dunia Qatar 2022 ini pelan-pelan segera berakhir di duel di fase groupnya. Akan selangkah lagi  menuju laga maut untuk atau berbuah atau bergugur bunga.

     Tetapi, tidakkah kita sepatutnya menoropong satu timnas yang berlaga dengan segala dinamikanya yang terjadi? Tak  ada sedikit kah pesan laga, pesan stadion, pesan suporter yang mesti ditangkap dari keriuhan satu pertandingan? Mungkin ini terkadang terkesan subyektif, bombastis, dipaksa-paksa, serta sekian hyperbolik untuk lebarkan satu kepastian hasil dari satu pertandingan.

    Teringat lagi satu komentar seru, “Kalo sudah kalah, ya kalah sudah kau di situ! Kau tidak perlu omong banyak lagi.” Padahalnya, bisa terjadi: ada yang kalah penuh sportif serta sudah lewati satu perjuangan walau tak berhasil; tetapi ada yang menang namun sekian sarat adegan tak sportifnya.

    Jepang telak kanfaskan Jerman di laga perdana; ia keok dibantai Kosta Rika; namun bangkit lagi untuk menghajar Spanyol. Berhasil, gagal, dan kembali berhasil itulah sepakbola kehidupan kita yang nyata. Lihat saja Jerman, yang tersungkur, lalu bangkit lagi mengasa harapan, dan pada titiknya berakhir menang. Dan berani terima kenyataan untuk out. Dan itulah sepakbola kehidupan yang membiaskan rangkaian harapan untuk sekian banyak  pertandingan hingga kapan pun, di bumi yang berputar.

    Tangkaplah dari perjalanan Kosta Rika yang terkapar di tangan Spanyol dengan 7 gol. Tanpa balas. Namun, masih tetap mengasa harapan saat berhadapan dengan Jepang; dan akhirnya mesti kandas di tangan Jerman.

    Tetapi, tidak kah kita mesti merenungkan kegagahan Spanyol di pertandingan perdananya? Iya, itu tadi, Kosta Rika sungguh dibuatnya tak bertaji. Sungguh dipermalukan! Spanyol harus rasakan nilai sejajar di laga berikutnya kontra Jerman. Dan malam ini, ia sebenarnya sungguh dapat imbalan dipermalukan di tangan Jepang. Walau bisa untuk tersenyum ‘berkat Jerman yang kalahkan Kosta Rika.

    Adakah sesuatu yang teramat pasti dalam hidup hasil dari satu rajikan insani? Adakah satu rasa hati paling pasti yang bertahan selamanya hingga akhir hayat? Rasanya tidak! Dan memang tidak! Dunia jadi ribut dan tak  beraturan karena melubernya nafsu kemurnian.

    Di situ selalu ada claiming sepihak yang sering kasar bahkan buas dana liar. Bahwa kamilah yang benar, suci, saleh serta selamat dan selalu harus menang. Dan semuanya, itu tadi, terpaket dalam kemurnian di pihak kami dan terlaknatlah untuk kalian yang bukan kami. Sungguh mencemaskan!

    Di titik inilah, stadion Piala Dunia Qatar, sebenarnya juga, adalah una scuola di vita, satu sekolah kehidupan  yang sungguh luar biasa. Di situ ada pelajaran tentang kehidupan. Kehidupan yang berakhlak dan berhati.

    Singkatnya dari situ adalah pelajaran untuk bergembira sewajarnya, tetapi bersiaplah pula untuk berjiwa besar demi menampung air mata kesedihan; ada saat kita alami keberhasilan, tetapi ada saatnya kita ditampar kegagalan. That is life...

    Di Group E itu, Jepang – Spanyol – Jerman dan Kosta Rika, bisa saja ada di antaranya yang nantinya alami puncak keberhasilan. Tetapi, bagaimana pun setiap Tim telah jadi ‘guru kehidupan yang patut dimaknai.

    O, iya, yang terakhir. Proficiat untuk tim wasit perempuan perdana Piala Dunia FIFA Qatar 2022 ini. Adakah pesan di balik kewasitan Stephanie Frappart, Yoshimi Yamashita dan Salima Mukansanga di laga Jerman vs Kosta Rika?

    Mari tangkap saja dengan hati kata-kata si Kojak, the Legend, wasit sepanjang masa, Pierluigi Collina, “Anda di sini bukan karena perempuan, tetapi ofisial pertandingan FIFA. Semua ofisial pertandingan bisa ditunjuk untuk semua pertandingan. Jika ada larangan, itu pembatasan terkait peran mereka di sini...”

    Hebat ya, bertiga itu jadi wasit untuk Piala Dunia kaum pria. Dan itu untuk pertama kali terjadi dalam sejarah Piala Dunia. Dalam perhelatan Piala Dunia 2022, di Qatar, di Timur Tengah. Luar biasa!  

     Verbo Dei Amorem Spiranti

     

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.