Bedhaya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Minggu, 4 Desember 2022 08:13 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bedhaya

    Percakapan, juga perbincangan, menata koreksinya untuk guguran embun yang menggigil pada sepi lumut di dinding-dinding yang tertinggal dan runtuh. Nyawa begitu kecut dijembut ajal, yang entah dari mana muasal; begitu pula aku bertanya, di dalam tiada batas bilangan garis, “apa itu hidup?”

    Dibaca : 494 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dan air mata menetes bagaikan hujan pada tepian senja yang gulita, yang deru deras, yang geliat; di antara gusar dan sabar. Kita pun berjalan sewujud tujuan tiada, dengan demikian arogan, memapah hal paling sengsara, telingsut masa silam. Adakah yang lebih duka dari warna langit melankolia? Ada gersang yang khusyuk berdenting nyaring sebelum tuntas tergulung apatis.

    '⌰⌰ ⋔⏃☍⟒ ⏃⋏ ⟒⎎⎎⍜⍀⏁ ⏁⍜ ⏃⌿⌿⍀⟒☊⟟⏃⏁⟒ ⊬⍜⎍⍀ ⌿⌰⟒⏃⌇⏃⋏⏁, ⍙⟒⌰⌰-⌿⍀⟒⌇⟒⍀⎐⟒⎅ ☊⏃⋏⎅⍜⍀

    Demikian kata-kata tak terhenti di runcingnya pendakian di antara tebing-tebing. Jauh di balik bukit, kita tidak pernah memilih teleskopi yang cukup akurat untuk sanggup mengerti arti bentuk, bahkan rupa lubang. Namun, ijinkanlah aku menganyam setia untuk kembali percaya. Ada lautan yang tetap bergeming di setiap desakan banalnya kanal-kanal dari tengokan ke belakang. Itu bukan ketetapan hati untuk melangkah, bukan.

    Tentang air kepada Desember...

    Mungkin yang begitu kokoh menolak kalah ketika hidup menjadi rumit.

    Percakapan, juga perbincangan, menata koreksinya untuk guguran embun yang menggigil pada sepi lumut di dinding-dinding yang tertinggal dan runtuh. Nyawa begitu kecut dijembut ajal, yang entah dari mana muasal; begitu pula aku bertanya, di dalam tiada batas bilangan garis,apa itu hidup?”

    Semaya lengkung belibis

    Yang hilang dikembalikan

    Yang rebah ditegakkan

    Yang hening dirahasiakan

    Saat katakata meramu diam

    Pada akhirnya, Meghadūta, naskah yang ditulis oleh Kalidasa atas Śakuntalā menepi penyebrangan antara arah kardinal barat dan timur pada suatu masa. Pada akhirnya, yang rupa berbeda bukanlah pecahan, selain tentang samarnya suatu persamaan. Pada akhirnya, yang menari bukanlah panggung patahan dalam setiap renggang ruang pada koreografi. Hening menyambut gending.

    "O monstrous! What reproachful words are these? --These words are razors to my wounded heart." [Titus Andronicus to Saturninus, by William Shakespeare]

    Kalangwan, masih berjalan begitu jamak, sementara hilang di antara yang artifisial realita masih tetap menyibakkan sampurnya, sebagai ucap betapa megahnya gelombang ombak di samudra, juga gumpalan awan di angkasa. Sementara kita, masih di sini, luruh saling menatap pada kejauhan yang enggan terpecah koyak dari ajal masa silam.

    Tentang air kepada Desember...

    Janji kesetiaan merapal rayuan mantra penantian pada jejer nyiur kelapa.

    Hingga malam kembali mengetuk dari arah Garut yang terguncang, mengalun øneheart x reidenshi – snowfall dan rembulan setengah bayang dari balik awan di langit sisa hujan.

     

    - Jakarta, 03 Desember 2022 -

     

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.