Harapan Qodari, Klub Indonesia Jadi Macan Asia; Bisa? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Pesepak bola Timnas Indonesia Egy Maulana Vikri (kedua kiri) bersama rekan-rekannya berselebrasi usai mencetak gol ke gawang Timnas Timor Leste dalam laga lanjutan Grup A Sepak Bola SEA Games 2021 Vietnam di Stadion Viet Tri, Phu Tho, Vietnam, Selasa, 10 Mei 2022. Laga Timnas U-23 Indonesia vs Timor Leste berakhir dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Ahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2022

Minggu, 4 Desember 2022 20:12 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Harapan Qodari, Klub Indonesia Jadi Macan Asia; Bisa?

    M. Qodari memiliki harapan bahwa sepak bola Indonesia kelak bisa semaju sepak bola Asia lainnya bahkan bisa berdaya saing dengan sepak bola dunia. Harapan itu begitu kuat sebab didukung oleh banyak fakta yang mendukung kemajuan sepak bola kita.

    Dibaca : 1.420 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Harapan Qodari, Sepak Bola Indonesia Jadi Macan Asia. Bisa?

     

    Baru-baru ini beredar komentar tentang sepak bola dari M. Qodari, Direktur Eksekutif Indobarometer, terutama terkait dengan penampilan gemilang dari perwakilan negara-negara Asia di Piala Dunia Qatar 2022. Video komentar dari M. Qodari tersebar di grup-grup whatsapp.

    Di antara dari komentarnya adalah bahwa ia berharap Indonesia punya prestasi yang sama dengan mereka. “Kita tentunya sangat ingin agar Indonesia punya juga prestasi yang sama. Bayangkan kalau Indonesia bisa mengalahkan Belanda 2-0, atau Indonesia entah Piala Dunia tahun berapa bisa mengalahkan Argentina atau Perancis misalnya, 2-1 atau 1-0, cukuplah 1-0, itu suatu kebanggaan”, kata M. Qodari dalam video tersebut.

     

    Bisakah harapan M. Qodari tersebut jadi kenyataan? Bisakah sepak bola Indonesia menjadi macan Asia nanti?

     

    Animo Masyarakat Indonesia atas Sepak Bola

     

    Optimisme M. Qodari punya alasan yang kuat. Di samping alasan-alasannya terkait beberapa variabel pembenahan manajemen induk organisasi, penguatan atau pembinaan kualitas pemain, dan kualitas kompetisi liga, Indonesia juga didukung oleh beberapa hal penting lainnya.

     

    Di antaranya, animo dari masyarakat sangat tinggi di Indonesia. Bahkan ketimbang olahraga lain, sepak bola jadi salah satu olah raga paling digemari di tanah air ini. Sehingga ini bisa menjadi modal untuk memacu sepak bola kita.

     

    Bandingkan dengan Jepang. Meski pada 1964, sepak bola Jepang sempat memenangkan Olimpiade dengan mengalahkan Argentina 3-2, dan setahun berikutnya membuat Japan Soccer League, tapi langkahnya tidak mulus, dan sepak bolanya tidak berkembang saat itu. Salah satu alasannya adalah kurangnya dukungan dari masyarakat. Sebab saat itu, olah raga paling digemari oleh masyarakat Jepang adalah bisbol.

     

    Sebab itu, Indonesia harusnya berterima kasih sebab masyarakatnya sangat menggemari sepak bola. Ini semakin relevan dengan pernyataan M. Qodari yang menyebut bahwa PSSI tidak boleh anti-survei atau anti suara publik.

     

    “Para pemegang hak suara di PSSI, jangan hanya memasang kacamata kuda, dan berpikir paling tahu mengenai pelaksaan sepak bola Indonesia… karena ini olah raga populer, harus banyak mendengar dari masyarakat luas, termasuk survei tentang PSSI, ketua umum PSSI, seperti dilakukan indikator, polling institute…”, demikian salah satu pernyataan M. Qodari.

     

    Dengan kata lain, apa yang bisa ditangkap dari M. Qodari, Indonesia punya alasan yang kuat bahwa sepak bolanya bisa maju lantaran didukung oleh animo masyarakat yang tinggi. Animo masyarakat & masukan dari masyarakat harus didengar sebab mereka bukan hanya bisa menikmati, tapi banyak juga masukan-masukannya yang masuk akal dan rasional untuk kemajuan sepak bola Indonesia.

     

    Sepak Bola Indonesia, Tarkam dan Hiburan

     

    Selain itu, animo masyarakat juga terlihat dari banyaknya pertandingan-pertandingan antar kampung baik itu dikelola secara formal atau yang sekedar hiburan. Indonesia – dalam beberapa hal – mungkin ibarat Brazil. Di kampung-kampung, di mana ada lahan kosong, banyak anak kecil memanfaatkannya untuk bermain sepak bola. Olah raga ini bisa diakses oleh dari hampir semua kalangan. Mereka bisa bermain dengan penuh kesenangan, hiburan dan melepas penatnya hidup. Di titik ini, mereka seakan menjadikan sepak bola sebagai ‘passion’.

     

    Bahkan – saya sewaktu kecil – sering memanfaatkan waktu istirahat sekolah, atau hari libur, bermain sepak bola plastik di lahan-lahan kosong, atau kadang-kadang di dalam kelas. Kenyataan ini jadi bukti bahwa anak-anak Indonesia sudah mengenal dan kakinya terbiasa dengan permainan sepak bola. Dasar-dasar sepak bola seperti menggiring, menendang, dan merebut bola itu sudah jadi pengetahuan umum.

     

    Pada titik ini, maka optimisme M. Qodari bahwa Indonesia bisa menjadi macan Asia bisa jadi mewujud sebagai kenyataan. Apa yang harus dilakukan oleh PSSI adalah terus mendengar dan mengamati talenta-talenta yang ada di masyarakat, menyisiri seluruh turnamen yang hidup di masyarakat, dari yang cuma liga antar kampung (tarkam) biasa, atau tarkam yang dilaksanakan secara lebih resmi.

     

    Singkatnya, pertanyaan bisakah harapan Indonesia menjadi macan Asia di sepak bola? Jawabannya: tentu bisa. Tentu tak ada proses yang instan.

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Ahmad lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.