Cara Menghindari Ancaman Mental di Era Toxic Media Sosial - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

illustr: NorthShore University HealthSystem

Anggi purnamasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2022

Minggu, 4 Desember 2022 20:20 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cara Menghindari Ancaman Mental di Era Toxic Media Sosial

    Penggunaan media sosial dalam jangka panjang berdampak negatif bagi kesehatan mental. Mereka yang kecanduan resiko depresinya meningkta. Selain itu menderita insomnia dan citra diri (body image) yang buruk, penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan dan gangguan makan, hingga perilaku penyakit diri sendiri (self-harm). Resiko ini muncul dari kecenderungan alam bawah sadar yang selalu membanding diir dengan kehidupan orang lain. Makanya, aja dibanding-bandingke!

    Dibaca : 566 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Canggihnya teknologi membuat manusia tak bisa lepas dari media sosial. Tak hanya di waktu senggang, hampir semua orang saat ini ber-media sosial gampir setiap menit. Setiap manusia di belahan bumi ini pasti memiliki setidaknya satu akun sosial media. Bahkan tak sedikit yang memiliki lebih dari satu akun. Dan semua akun itu dipantau setiap hari. Tak sedikit juga yang menyempatkan bermain handphone saat makan, bekerja, sbersama pasangan, orang tua hingga teman.

    Era digital saat ini menyuguhkan banyak sekali kemudahan bagi manusia modern, salah satunya yakni kita dapat bertatap muka tanpa harus bersentuhan secara fisik. Semua aktivitas dapat kita lakukan dengan mudah. Hanya dengan memainkan layar ponsel pekerjaan selesai dengan waktu yang singkat. Tak hanya itu kita juga dapat dengan mudah melihat kehidupan orang lain melalui layar ponsel. Nah tanpa disadari terlintas dipikiran kita, “Wih, enak ya jadi dia, uangnya banyak bisa beli apa aja. Bisa jalan jalan keluar negeri pula”. Namun dibalik semua keindahan foto dan juga keseruan cerita orang di dunia maya, seringkali kita membandingkannya dengan diri sendiri.

    Secara pribadi, menurut saya itu hal yang wajar kadang seseorang ingin membagikan moment kebahagiaanya dengan orang lain untuk memenuhi rasa puasnya. Akan tetapi kembali lagi pada sifat manusia, tentunya yang mereka tampilkan di media sosial yakni yang baik-baik saja. Penggunaan media sosial dalam jangka panjang dapat berdampak negatif bagi kesehatan mental. Diantaranya adalah peningkatan resiko depresi, insomnia, citra diri (body image) yang buruk, penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan dan gangguan makan, hingga perilaku penyakit diri sendiri (self-harm).

    Resiko ini muncul sebagai wujud nyata dari kecenderungan alam bawah sadar kita yang selalu membanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain sehingga kita tidak merasa cukup dan menikmati hidup. Dampak dari resiko itu tentunya berpengaruh buruk terhadap kesehatan mental. Apasi kesehatan mental itu? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka.

    Untuk membangun mental yang kuat di era toxic media sosial. Pertama, tentunya kita harus mengurangi penggunaan media sosial dengan cara memperbanyak aktivitas yang tidak menggunakan media sosial, seperti lebih sering menghabiskan waktu bersama teman atau bisa juga membaca buku novel, melakukan kegiatan yang positif. Bisa juga dengan cara mencari aktivitas baru yang membuat hati senang, karena kalau kita melakukan sesuatu dengan hati yang senang kita akan lupa waktu dan itu bisa membuat kita mengurangi penggunaan media sosial.

    Kedua, jangan terlalu membanding-bandingkan hidup kita dengan kehidupan orang lain, Artinya semua manusia di bumi ini dari sebelum lahir sampai nantinya dipanggil lagi, itu semua udah di atur sma Tuhan. Jadi kita tidak sepantasnya membanding-bandingkan kehidupan yang udah dikasih oleh Tuhan. Membandingkan tak selamanya selalu buruk, kadang malah menjadi motivasi untuk melakukan hal yang terbaik. Namun, membandingkan secara berlebihan justru akan menjadi faktor yang dapat memicu stres.

    Ketika kita melakukan itu berdasarkan standar orang lain dan  tidak dapat mencapainya meskipun sudah melakukan berbagai cara, hal ini yang akan mudah membuat stres. Ketiga, memiliki emosi yang stabil dan pikiran yang jernih. Sebagai makhluk sosial tentunya kita memiliki rasa emosional. Seseorang harus bisa menyeimbangi rasa emosionalnya dengan stabil dan pikiran yang jernih agar terhindar dari toxic media  sosial.

    Ketika kita sedang membaca atau melihat apapun itu di media sosial yang membuat emosi naik pastinya pikiran kita juga kacau. Keempat, selain cara diatas untuk membangun mental yang kuat di era toxic media sosial yakni dengan Gunakan media dengan bijak yakni dengan pilih informasi dari sumber terpercaya atau yang terverifikasi, hindari membaca atau menonton informasi yang mengandung hoax. Manfaatkan media sosial untuk mengikuti kegiatan virtual yang bermafaat untuk pengembangan diri dan juga orang lain.

    nlp ilustrations

    Ikuti tulisan menarik Anggi purnamasari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.