Pupuk - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: nbcnews.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 5 Desember 2022 13:22 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pupuk

    Tidak akan ada yang merindukan tahanan dengan hukuman seumur hidup. Itulah kuncinya. Mars telah diubah menjadi planet penjara. BAB (Badan Antariksa Bumi) telah mendirikan kubah terraforming di Mars dan teknologi teleportasi telah menjadi kenyataan.

    Dibaca : 636 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak akan ada yang merindukan tahanan dengan hukuman seumur hidup. Itulah kuncinya.

    Mars telah diubah menjadi planet penjara.

    BAB (Badan Antariksa Bumi) telah mendirikan kubah terraforming di Mars dan teknologi teleportasi telah menjadi kenyataan.

    Setelah hukuman seumur hidup dijatuhkan kepada para kriminal untuk kejahatan yang dituduhkan kepada mereka, para narapidana tersebut diteleportasi ke Mars.

    Di sana, diduga mereka dipekerjakan layaknya budak. Sungguh mencengangkan apa yang bisa dilakukan manusia begitu mereka memutuskan untuk melakukannya.

    Lahat Binsarian dikawal ke ruang teleportasi oleh dua penjaga bertubuh kekar. Dia dinyatakan bersalah menghabisi tiga keluarga dengan keji di Jakarta Utara. Hukumannya adalah penjara seumur hidup di Mars.

    Dengan tangan dan kaki dirantai, dia didorong ke dalam dalam kapsul yang akan mengacak atom-atomnya dan menyusunnya kembali di Mars.

    "Aku akan menemukan cara untuk kembali ke sini, bangsat!" makinya kepada para penjaga ketika mereka selesai mengikatnya ke dinding tabung.

    Para penjaga tersenyum dan meninggalkan ruangan. Seorang ilmuwan masuk untuk mengoperasikan mesin itu.

    “Kau punya istri dan anak, orang bodoh? Aku akan membunuh mereka. Lihat saja. Aku akan mengumpulkan orang-orang di sana. Kami akan membajak sebuah pesawat dan kembali. Kau sudah pasti mampus,” Lahat menggeram.

    Ilmuwan itu tersenyum. “Menurutmu begitu, Lahat? Kamu tahu? Saya tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang ini, tetapi sayalah yang menciptakan kubah terraforming di sana. Itu sebabnya saya senang untuk menekan tombol ini.”

    Lahat memiringkan kepalanya seperti anjing untuk mendengarkan kata-kata ilmuwan itu. Ada yang tidak beres dengan sikapnya.

    “Yang akan kukatakan padamu adalah rahasia, Lahat. Puluhan tahun. Waktu yang dibutuhkan sebelum manusia dapat bernapas tanpa alat bantu di Mars. Kamu tahu?"

    Lahat menatap ilmuwan itu dengan tatapan dingin.

    “Puluhan tahun,” Katanya, menatap Lahat.

    Senyumnya menghilang. “Kami memang memiliki teknologi teleportasi. Apa yang tidak kami sampaikan dengan sebenarnya adalah berapa lama terraforming akan berlangsung. Kami mengirimkan tahanan ke Mars, tetapi tidak ada apa-apa di sana. Yang kami lakukan adalah mengurangi beban planet Bumi.”

    Dia menekan tombol dan Lahat menjerit. Bau ozon menguar di udara dan molekul-molekul Lahat menembus ruang angkasa ke stasiun penerima di Mars. Stasiun penerima yang terletak di luar kubah, di permukaan planet yang telanjang.

    Napas Lahat mengkristal saat dia pingsan dan mati, terengah-engah seperti ikan di luar air dan pembuluh darah berdarah di tanah merah.

    Robot terraforming keluar untuk mengambil jenazahnya.

    Satu hal yang paling dibutuhkan Mars untuk beberapa dasawarsa mendatang adalah pupuk.

     

    Bandung, 4 Desember 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.