Udin di Sisi Lain Alam Semesta - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: wallpapercave.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 6 Desember 2022 20:25 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Udin di Sisi Lain Alam Semesta

    Akhirnya terjadi juga. Entah bagaimana dia tahu. Hanya masalah waktu sebelum dia mengatakan sesuatu yang sangat kasar kepada gurunya sehingga merobek rangkaian kesatuan ruang-waktu.  Udin tahu mulutnya pembidas. Sebagai murid kelas 4, teman-temannya mengatakan bahwa dia tahu cara mengumpat setidaknya setingkat kelas 8, lebih tinggi!

    Dibaca : 722 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Akhirnya terjadi juga. Entah bagaimana dia tahu. Hanya masalah waktu sebelum dia mengatakan sesuatu yang sangat kasar kepada gurunya sehingga merobek rangkaian kesatuan ruang-waktu.

     Udin tahu mulutnya pembidas. Sebagai murid kelas 4, teman-temannya mengatakan bahwa dia tahu cara mengumpat setidaknya setingkat kelas 8, lebih tinggi!

    Pada hari tertentu, umpatannya melibatkan sesuatu yang berkaitan dengan ‘telur berbulu’. Sebenarnya, Udin tidak yakin persis apa yang dia katakan. Dia hanya mengulangi apa yang dia dengar dari salah satu anak sekolah menengah di halte bus. Tapi begitu dia mengatakannya, dia tahu dia telah melewati batas karena mata Bu Soraya melotot dan teriakannya terdengar sampai ke bagian taman kanak-kanak di kompleks sekolah TAMAN PENDIDIKAN MANUSIA.

     Udin membuka pintu kantor kepala sekolah lebar-lebar untuk menerima hukumannya.

     Udin berharap dia akan menemui pegawai tata usaha sekolah yang manis, Bu Tini, menunggunya. Tetapi yang dia lihat malah dataran padang pasir merah yang luas sampai ke cakrawala.

    Pintu menutup di belakangnya dan kemudian menghilang sama sekali.

    Udara berbeda di dunia ini. Berjalan sangat sulit karena pasir merah seakan menahan sepatunya. Dan dia segera menemukan bahwa bentuk kehidupan yang dominan di planet ini adalah makhluk dari pohon kayu panjang. Setiap kali dia mendekati makhluk kayu ini, mereka mencambuk pantatnya dengan ranting panjang dari cabang kayu.

    Selama dia tinggal di planet ini, dia kesulitan duduk. Untuk beberapa sebab yang belum diketahui alasannya, kata ‘telur’ membuat atmosfer planet menjadi bau apek dan tengik. Penduduk asli akan menjadi liar, mengejar suku lain dari makhluk berbentuk pantat yang keluar dari semak-semak ilalang.

    Dua kata ‘telur berbulu’ yang digabungkan menjadi kalimat apapun secara otomatis akan memutus pasokan udaranya selama beberapa menit. Dia menemukan ini pada suatu hari dalam percakapan yang bersahabat dengan makhluk-makhluk berbentuk pantat. Dia merasa terdorong untuk berbicara dengan makhluk berbentuk pantat ini karena sangat bosan. Tetapi mengingat semua suara yang dibuat makhluk ini dipancarkan dalam bentuk gas berbahaya, hanya ada sedikit kesenangan yang bisa didapat.

     Udin menghabiskan sebagian besar hari-harinya dengan menangis, berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan ‘telur’, dan terutama ‘telur berbulu’.

    Bahkan saat hujan maka turun hujan yang besar dengan membawa rambut yang tumbuh dari mereka.

    Sayangnya, hujan adalah satu-satunya zat yang dapat dimakan di planet ini. Rasanya, yah ... kurang menyenangkan.

     Udin menangis dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku benci. Aku benci kalau hujan turun hujan besar dengan membawa rambut yang tumbuh dari mereka."

    Kemudian, suatu hari, ketika penduduk asli berlarian liar dan makhluk berbentuk pantat tidak bisa berhenti berteriak tentang sesuatu, dan hujan turun dengan sangat deras, Udin akhirnya berkata, "Maaf!"

    Dan kemudian dia duduk di kantor kepala sekolah di depan Kepala Sekolah, Bapak Syuaib, yang menjawab, "Permintaan maaf diterima."

    ***

    Oh, dan betapa indahnya akhir kisah Udin dan mulutnya yang kotor! Mangakhiri sebuah kisah tentang perbuatan menebus kesalahan ini memang luar biasa. Tapi, tentu saja, kenyataan tidak pernah seperti dalam kisah yang yang berakhir bahagia dan ceria, karena begitu Udin menyadari apa yang telah terjadi, mulutnya mengeluarkan umpatan lain lagi tentang semacam ayam jantan berair, yang melibatkan kepala sekolah, Bapak Syuaib, melakukan tindakan tertentu.

     Udin segera menemukan dirinya berada di planet dengan bau puntung rokok dengan penduduk asli kayu, sekarang dengan ayam jantan besar, gemuk, dan berair, yang mengejar-ngejarnya juga.

    Dan meskipun hidup tidak sempurna, bagi Udin itu lebih seru dibandingkan telur ayam berbulu dan permintaan maaf.

     

    Bandung, 6 Desember 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.