Kiamat Telah Tiba (92): Kadal Gurun dan Mustaqbal - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 6 Desember 2022 20:44 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (92): Kadal Gurun dan Mustaqbal

    “Apa itu attanin?” tanya Mireille. "Secara harfiah, itu bahasa Arab untuk ‘naga’,” jelas Amadeus. Motif yang populer di Timur Tengah sampai sebelum Isa al-Masih. Mungkin ada banyak kadal yang berkeliaran di gurun pada masa itu, meskipun tampaknya sudah punah sekarang.”

    Dibaca : 742 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    23 Juli

     

    “Apa itu attanin?” tanya Mireille.

    "Secara harfiah, itu bahasa Arab untuk ‘naga’,” jelas Amadeus. Motif yang populer di Timur Tengah sampai sebelum Isa al-Masih. Mungkin ada banyak kadal yang berkeliaran di gurun pada masa itu, meskipun tampaknya sudah punah sekarang.”

    "Menjelaskan tentang simbol CASH," kata Mireille. Dia menoleh ke Amadeus untuk menjelaskan kata-katanya. “CASH nama kelompok rahasia Katholik yang bekerja sama dengan kami. Aku kira simbol apa pun yang populer di Timur Tengah bisa sampai ke Vatikan bersama orang-orang Romawi.”

    “Atau dengan orang-orang Kristen di kemudian hari,” kata Amadeus. “Kita tidak tahu asal usul Tabut Ethiopia, tapi mungkin itu artefak Kristen. Orang-orang Kristen menciptakan banyak sekte rahasia karena penindasan oleh kelompok lain. Sangat mungkin bahwa simbol pada Kunci akan mewakili salah satu grup tersebut. Itu kemudian bisa muncul di Eropa dan diadopsi oleh sekte lokal. Ada banyak contohnya.”

    “Bagaimana  nasib anggota terakhir dari tim Nazi yang masih hidup dan berhasil membawa foto-foto itu?” tanyakui kepada Amadeus, melihat lagi foto itu.

    "Mereka mungkin menyelamatkan hidupnya," Amadeus menyimpulkan. “Dia adalah fotografer ekspedisi. Dia telah meninggalkan gua untuk mendapatkan lebih banyak film,tepat sebelum Kuncinya dibuka.”

    “Terbuka,” kataku. "Bagian atas terbuat dari batu dan memiliki dasar paduan tungsten."

    “Dasarnya terbuat dari kayu dalam artefak yang diambil dari Tabut Ethiopia,” ungkap Amadeus. "Mereka membukanya degan paksa, mungkin dengan gagang senapan."

    “Lalu apa yang terjadi?” tanyaku.

    “Ketika fotografer kembali, semua orang sudah mati. Tampaknya tim Nazi telah menembak penduduk setempat dan kemudian menembak diri mereka sendiri. Isi artefak mengambil kendali pikiran mereka. Bagian artefak yang diukir dari batu, dan apa yang tersisa dari dasar kayu dan isinya, telah dilemparkan ke pintu masuk gua. Dia membawanya tanpa menjelajah lebih jauh ke dalam gua. Kemudian dia melarikan diri.”

    “Dia lolos tanpa bantuan dari negara asing yang bermusuhan, ketika beberapa penduduk setempat telah dibunuh oleh timnya?” tanya Mireille takjub.

    “Aku rasa dia tahu sebelumnya di mana bahaya akan berada dan menghindarinya,” kataku. “Dia mungkin tahu bagaimana menemukan makanan dan persediaan lainnya,” lanjutku. “Aku membayangkan bahwa dia kemudian melarikan diri yang akan tampak bagi siapa saja seperti satu dalam seribu kesempatan.”

    "Anda jelas tahu tentang al-mustaqbal," kata Amadeus.

    "Kami biasa menyebutnya Debu Ajaib," kataku. “Mustaqbal terbuat dari apa?”

    "Ramuan Pausinystalia yohimba dan Withania somnifera," jawab Amadeus. “Dua tanaman yang tumbuh di Mesir kuno dan bersifat narkotika. Namun, ketika digabungkan, diketahui akan membuka pikiran terhadap kemampuan terpendamnya.” Amadeus menatapku. "Anda pasti tahu sesuatu tentang itu atau tidak akan bisa menebak kemampuan yang membawa Kolonel Kruger kembali dengan selamat dari Aksum ke Kastil Neuschwanstein."

    “Saya punya pengalaman pribadi dengan musstaqbal,” jawabku. “Bagaimana bisa Kunci yang telah diperbaiki yang berisi dua puluh gram musstaqbal kembali ke dalam Tabut, di dalam Kapel Tablet, di Etiopia?'

    “Bersamaan dengan ketertarikan Hitler pada okultisme,” jawab Amadeus, “muncullah takhayul yang terkait, yang menimbulkan ketakutan. Kolonel Kruger tidak hanya memimpikan jalan kembali ke Jerman, tetapi juga memimpikan kutukan. Kutukan itu akan menimpa siapa saja yang bertanggung jawab mengeluarkan artefak dari Tabut selain untuk tujuan sebenarnya. Orang-orang seperti itu dinubuatkan akan binasa. Hitler mendengar hal ini pada hari yang sama ketika Jenderal Montgomery menang di Alamein.”

    “Apa tujuan sebenarnya dari Kunci itu?” tanyaku.

    “Tidak ada yang tahu sepenuhnya," jawab Amadeus. “Ada legenda yang berperan dalam penyelamatan umat manusia, tetapi teks-teks kuno tidak spesifik tentang bagaimana caranya.”

    “Apa yang dilakukan Hitler dengan Kunci itu?” tanya Mireille.

    Artefak itu diperbaiki dengan dasar paduan tungsten yang berisi kompartemen tersembunyi, “lanjut Wolfgang. “Para ilmuwan Jerman telah menyimpulkan pada saat itu bahwa beberapa butir bubuk yang masih menempel pada artefak menyebabkan kemampuan prediksi. Namun, mereka tidak dapat menganalisis apa itu, jadi Kruger kembali ke Ethiopia untuk menemukan fakta itu dengan menggunakan sisa butir Musstaqbal untuk memandu jalannya. Dia membawa artefak itu bersamanya dengan perintah dari Hitler untuk mengisinya dengan obat dan mengembalikannya ke Tabut. Dia tidak pernah terlihat lagi, meskipun sepucuk surat datang untuk ayahku dari Etiopia, tepat setelah perang berakhir. Tahun 1945, ayahku tewas oleh pasukan sekutu yang menyerbu, jadi aku membuka surat itu. Itu hanya berisi kata-kata: Attanin, Mustaqbal; Pausinystalia yohimba dan Withania somnifera.”

    "Hanya itu?" tanya Mireille.

    “Ada beberapa butir bubuk putih yang ditempel di bagian bawah kertas itu," kata Amadeus. "Benih tanaman itu juga ditempel di kertas."

    Mireille dan aku duduk diam sejenak, menatap Amadeus dan memahami implikasi dari apa yang baru saja dia katakan.

    “Memprediksi beberapa aspek masa depan telah membantu saya, tetapi tidak sebanyak yang Anda kira,” ujarnya menjawab pemikiran kami. “Dosis terkadang mengarah ke mimpi yang serupa wangsit dan terkadang tidak. Peristiwa yang diprediksi selalu terjadi dalam beberapa hari setelah mimpi, tetapi prediksinya tidak selalu akurat.”

    Dia menatapku. “Saya tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang hal itu. Saya selalu tahu bahwa pengetahuan publik yang lebih luas tentang efek musstaqbal akan menyebabkan konsekuensi yang tidak terduga. Lagi pula, kebanyakan orang membangun pandangan dunia mereka berdasarkan gagasan bahwa masa depan belum terjadi.”

    "Jadi, Anda tidak dapat melihat cukup jauh ke depan untuk memprediksi suatu peristiwa, katakanlah, di bulan September?" tanya Mireille, tiba-tiba memahami implikasi penuh dari kata-kata Amadeus.

    "Benar," jawabnya. “Periode maksimum yang pernah saya lihat di masa depan adalah sekitar satu minggu. Anehnya, saya telah memimpikan kunjungan kalian beberapa kali dalam seminggu terakhir ini. Ini adalah mimpi yang tidak biasa, baik dalam arti yang mereka ulangi, tetapi juga dalam mimpi itu, semuanya menjadi gelap saat bunyi jam berdentang dua kali.”

    Dia melihat jam yang sekarang hanya beberapa detik sebelum jam dua siang. "Saya tidak bisa seratus persen yakin mengapa visi masa depan saya berhenti pada saat itu, tapi saya pikir saya bisa menebaknya."

    Saat dia mengucapkan kata terakhirnya, beberapa jam yang ditempatkan di sekitar ruangan berdentang. Aku bisa mendengar dentang jam besar Notre Dame di seberang Seine. Suara itu mengalihkan perhatianku dan Mireille.

    Ketika aku kembali melihat ke arah Amadeus, dia tak bergerak di kursinya.

    Matanya tertutup.

    Aku mengulurkan tangan untuk memeriksa denyut nadinya.

    Amadeus Krauss telah tiada.

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.