Fenomena Berbicara Terbalik pada Anak Tunarungu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

SUmber ilustrasi: haibunda.com

Pipiet Palestin Amurwani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Selasa, 6 Desember 2022 20:52 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Fenomena Berbicara Terbalik pada Anak Tunarungu

    Anak tunarungu memiliki karakteristik dalam berbicara dan berbahasa. Ada fenomena bahasa yang terjadi pada anak dengan gangguan pendengaran yakni berbicara dengan susunan terbalik.

    Dibaca : 584 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Memiliki anak dengan gangguan pendengaran tidaklah mudah untuk dijalani. Namun tidak berarti harus berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa. Orang tua dipaksa untuk belajar memahami perkembangan bicara dan bahasa anak.

    Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.(Tarigan,2008:16). Dengan kata lain bicara adalah pengucapan yang menunjukkan ketrampilan seseorang mengucapkan suara dalam kata. Berbahasa berarti kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Berbahasa bisa diartikan menyatakan dan menerima informasi dengan cara tertentu.

    Gangguan bicara pada anak tunarungu bisa disebabkan karena organ-organ berbicara yang tidak befungsi dengan baik. Hal itu bisa jadi dikarenakan anak tidak mendengar bunyi dengan baik. Gangguan bicara meliputi dysfluency / suttering (gagap), gangguan fonologi (artikulasi), dan gangguan pitch.

    Gangguan berbahasa ditandai dengan ketidaksempurnaan anak untuk berdialog interaktif, memahami pembicaraan orang lain, menggunakan kata-kata dalam konteks, menyelesaikan masalah, membaca dan mengerti apa yang dibaca, mengekspresikan pikirannya melalui kemampuan berbicara / menyampaiakan lewat tulisan. Anak yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir sangat rentan mengalami kedua gangguan tersebut. Terlebih lagi anak yang terlambat mendapatkan penanganan.

    Ada satu fenomena berbicara yang terjadi pada anak tunarungu yakni anak berbicara dengan susunan terbalik. Sebagai contoh, bunga matahari diucapkan matahari bunga.  PahlavanNezhad dan Niknezhad (2014) menyampaikan bahwa kemampuan sintaksis anak-anak dengan gangguan pendengaran dalam pemahaman kosakata dan penggunaan lebih rendah daripada anak-anak dengan pendengaran normal pada usia yang sama.

    Demikian juga dengan pernyataan Williams (2006) bahwa kalimat-kalimat yang dibentuk oleh orang-orang dengan gangguan pendengaran adalah kalimat sederhana, dengan lebih sering menggunakan kata benda dan ujaran yang lebih pendek dibandingkan dengan orang-orang dengan pendengaran normal. Mereka sering memiliki kesalahan verbal dalam ujaran mereka, dan terdapat ketidak selarasan antara subjek dan kata kerja.

    Dari penjelasan para pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa fenomena berbicara terbalik pada anak tunarungu adalah hal yang lazim terjadi. Apa yang harus dilakukan? Selalu berikan koreksi setiap kali anak mengatakan sesuatu dengan susunan kata (sintaksis) yang terbalik. Jangan pernah bosan untuk mengingatkannya. Sedikit demi sedikit anak akan tahu susunan yang benar dan akan terekam dalam memori otaknya. Semangat berjuang bunda ayah istimewa.

    Ikuti tulisan menarik Pipiet Palestin Amurwani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.