Catatan dari Balik Tembok LPKA 2: Bertemu Lima Jagoan Cerdas Cermat

Selasa, 6 Desember 2022 20:58 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam pertemuan hari ini, saya menyaksikan semangat belajar anak-anak berhadapan dengan hukum yang patut diapresiasi.

Selasa, 22 November 2022

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mencoba sesuatu yang baru sungguh menggugah, kita tidak akan pernah menduga apa yang terjadi dan bagaimana sesuatunya akan berakhir. Begitulah kesan pertama ketika saya mengisi kelas khusus cerdas-cermat dan wawasan hukum untuk ABH di LPKA Bandung. Sebelumnya, saya sudah membaca modul berisi kunci jawaban berisi 113 soal tentang Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Di situ saya merasa jangankan para ABH, saya sendiri belum tentu dapat menghafal seluruh jawaban yang terlalu trivial semacam ini.

Pada momen ini, pelajaran mata kuliah fenomenologi dari semester 3 datang kembali dalam bentuk inspirasi. Fenomenologi sendiri merupakan suatu aliran pemikiran yang mengajarkan pendekatan terhadap fenomena kesadaran melalui deskripsi yang sistematis dan tanpa membuat penilaian atau asumsi tentang hakikat kesadaran itu sendiri dan hal-hal yang disadarinya. Seperti mendapat wangsit, saya menemukan strategi belajar yang mungkin cocok untuk anak-anak penghuni LPKA.

Mulanya, saya menempatkan posisi sebagai ABH itu sendiri, merasakan seperti apa beraktivitas di kamar bersama dua belas anak lain, mengikuti aturan-aturan rutin, mendapat jadwal jaga, dan seandainya mendapatkan hukuman berlari mengelilingi lapangan sepak bola sintesis sebanyak dua puluh putaran. Tanpa membuat asumsi tentang latar belakang pendidikan mereka atau tingkat kecerdasannya. Apakah mereka mencoba merangkum kunci jawaban yang harus dihafalnya? Jika, ya seperti apa caranya di tengah rutinitas mereka? Atau malah mencoba menghafal secara berulang-ulang di sela-sela waktu luang? Tak ada obrolan dengan David tentang hal ini sebelumnya, namun saya menduga mereka baru hafal beberapa jawaban dan besar kemungkinan menghafal dengan membaca secara bersuara dalam beberapa pengulangan.

Kembali ke ruang kelas. Terdapat lima anak yang mengikuti kelas ini, masing-masing memegang modul yang berbeda. Di hadapanku RD, FS, dan B duduk berjauhan dengan jarak selangkah. Tak berapa lama kemudian, IG dan K pun datang dan mengambil tempat duduk di belakang mereka. Hari ini anak-anak itu mengenakan baju hijau yang mungkin seperti baju-baju dari LPKA dan bawaan si anak, sudah turun-temurun dari penghuni kamar sebelumnya.

Dari kanan sisi kanan saya, RD duduk dan dengan lahap membaca hafalnya. Di antara anak-anak, RD merupakan yang paling aktif dan antusias untuk mengikuti pembelajaran hari ini. Dia aktif bertanya dan meminta pendapat saya tentang rangkuman yang dibuatnya. Kesan pertama dari penampilannya kurang lebih seperti ini, dia terlihat seperti salah seorang temanmu yang biasa bermain game online di warnet. Walau dia tidak berkacamata, wajahnya mirip seseorang yang sudah lama berkacamata, namun baru-baru ini melepasnya. Dan seperti halnya gamer yang jarang keluar kamar, kulitnya tampak lebih cerah daripada anak-anak di sini yang pada umumnya.

Di tengah ada FS, dia merupakan si Fulan yang saya sebut dalam puisi Pray for Cianjur. Saya selalu melihatnya mengenakan topi yang menutupi rambut tipis, wajah bulat, dan mata sipitnya. Ketika geger tentang berita gempa kemarin, katanya, dia melihat gempa yang meruntuhkan rumahnya pada salah satu tayangan video yang beredar di dunia maya. Sampai detik ini, belum ada kabar dari keluarganya. Suaranya yang gamang, pandangannya yang nanar, dan keresahan yang tergambar dari gerak-gerik tubuhnya menceritakan kekhawatiran yang tak terkatakan. Saya menepuk bahunya dan membantu FS untuk menenangkan dirinya.

B duduk di dekat jendela dan seringkali perhatiannya mengarah ke sana, entah ke lapangan atau kepada anak-anak lain yang lalu lalang di koridor. Jika tidak sedang melihat ke jendela, sesekali dia bercakap-cakap dengan RD. Kepada B, saya mengajarkan caranya membuat mind map untuk merangkum kunci jawaban yang berisi poin-poin. Sebab dia sempat mengeluhkan, bahwa dia cukup kesulitan buat menghafal dengan cara membaca.

Di belakang RD dan FS, IG duduk dengan mulut yang sibuk membaca hafalannya. Dia hampir mirip seperti IA, namun lebih ekspresif, meskipun merebahkan tubuh gempalnya kepada sandaran kursi sembari membaca. Sesekali dia mengalihkan pandangannya ke langit-langit, masih dengan mulut yang mengartikulasikan jawaban secara kata per kata. Katanya dia menghabiskan 20 menit untuk menghafal satu soal. Tekadnya patut diacungi jempol, walau bagi saya hal itu membuatnya seperti siput yang akan memulai perjalanan sepuluh ribu li. Atau mungkin sebagai perbandingan yang lebih optimistis, seorang ahli beladiri yang mempelajari 1 jurus 10.000 kali, daripada ahli beladiri yang mengetahui 10.000 jurus tetapi hanya melatihnya sekali.

Terakhir, K yang terbilang paling kecil di antara anak-anak dalam kelas ini. Selama menghafal, K kadang-kadang mengambil topi FS dan mengenakannya secara terbalik, atau bergurau dengan IG. Dia memintaku untuk menyetel sebuah lagu kesukaannya, namun paket kuota chatting yang saya miliki tidak bisa mengabulkan permintaannya. Jadi, saya putarkan saja lagu Dream Theater yang berjudul The Count of Tuscany agar suasana jadi lebih energik.

Sepanjang mendampingi anak-anak, tidak sedikit pun saya tergelitik untuk mencari tahu kasus apa yang mereka alami, meskipun saya tahu persentase kasus paling tinggi di sini. Kadang-kadang saya lupa mereka bahwa mereka adalah ABH. Mungkin karena ada beberapa di antara mereka seperti wajah-wajah yang pernah saya temui di SMK dulu, atau di sekitar pos ronda dan lingkungan rumah, dan di mana saja. Seandainya saya mengetahui perbuatan mereka, apakah itu akan mengubah sikap dan pandangan saya terhadap mereka? Mungkin saja, mengingat bagaimana pun di antara saya dan ABH terdapat pengalaman yang tidak terjembatani oleh empati maupun metode fenomenologi yang tanpa prasangka. Suatu dilema moral yang bukan sekedar eksperimen pikiran dalam buku-buku filsafat.

Jika penilaian saya terhadap mereka jadi negatif, maka sebaik-baiknya hal yang saya lakukan adalah diam dan mendengarkan. Sediam tembok besar yang mengelilingi mereka, yang barangkali, malah melindungi mereka dari sanksi sosial yang menatap dengan pandangan merendahkan. Sebagai bahan renungan bersama, apabila mereka kembali kepada keluarga dan lingkungan sosialnya, dengan keterampilan, kedisiplinan, dan kematangan sikap, masihkah kita akan mengusir mereka? Apalagi mereka yang tidak punya orang tua atau keluarga untuk kembali karena tak ada satupun informasi tentang keberadaannya? Berapa banyak sertifikat kursus yang mesti mereka kumpulkan? Apakah malaikat perlu turun ke bumi dan membersihkan dosa-dosa mereka?

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Fadzul Haka

Cuma pengelana lintas disiplin dan pemain akrobat pikiran. Bagi yang mau berdiskusi silakan kontak saya: fadzul.haka@gmail.com

0 Pengikut

img-content

Menapaki 7 Langit

Kamis, 8 Februari 2024 19:13 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler