Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Dididk Kelas VII Pada Mapel Bahasa Inggris dengan Model Based Learning di MTS Sya’arul Huda Dayeuhluhur - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Saepullatip Saepullatip

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 November 2022

Sabtu, 10 Desember 2022 07:05 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Dididk Kelas VII Pada Mapel Bahasa Inggris dengan Model Based Learning di MTS Sya’arul Huda Dayeuhluhur

    Dampak dari aksi penerapan metode pembelajaran yang bervariasi seperti, ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan dan dikolaborasikan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menjadikan peserta didik lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran. Penggunaan media ajar dalam bentuk power point yang ditampilkan lewat LCD proyektor, pemberian ice breaking membuat peserta didik antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.

    Dibaca : 1.376 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    LAPORAN BEST PRACTICES

    MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS MATERI GREETING, PARTING, THANKING AND APOLOGIZING MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DI MTS SYI’ARUL HUDA DAYEUHLUHUR TAHUN PELAJARAN 2022/2023

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1.Latar Belakang

    Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah proses pendidikan yang menggambarkan beragam metode dalam mengintegrasikan teknologi cyber baik secara fisik maupun non fisik dalam pembelajaran. Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah fenomena yang muncul sebagai bentuk respon terhadap terjadinya revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru sesuai dengan perkembangan zaman. Kurikulum merdeka merupakan sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebagai upaya mengembangkan kurikulum dari yang sudah ada sebelumnya. Kurikulum merdeka berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Sejak tahun pelajaran 2021/2022 kurikulum merdeka telah diimplementasikan di hampir 2500 sekolah yang mengikuti Program Sekolah Penggerak (PSP) dan 901 SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) sebagai sekolah perintis kurikulum merdeka sebaai bagian dari pembelajaran dengan paradigma baru. Kurikulum ini diterapkan mulai dari TK-B, SD & SDLB kelas I dan IV, SMP dan SMPLB kelas VII, SMA & SMALB dan SMK kelas X. Pada awal tahun pelajaran 2022/2023 satuan pendidikan dapat memilih untuk mengimplementasikan kurikulum berdasarkan kesiapan masing-masing mulai jenjang TK-B kelas I, IV, VII, dan X. Satuan pendidikan yang akan menerapkan kurikulum merdeka terlebih dahulu mengisi angket kesiapan melaksanakan kurikulum merdeka. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi memberikan tiga pilihan terkait Implementasi Kurikulum Merdeka pada tahun pelajaran 2022/2023. Ketiga opsi tersebut adalah :

    1. Satuan pendidikan dapat menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan..

    2. Satuan pendidikan dapat menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan oleh pemerintah melalui Platform Merdeka Mengajar dan Guru Berbagi.

    3. Satuan pendidikan dapat menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar yang akan digunakan.

    Kurikulum merdeka di era industri 4.0 mampu membuka jendela dunia melalui genggaman dengan memanfaatkan segala hal yang terkait dengan internet atau internet of things (IOT). Di sisi lain pendidik juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran untuk menciptakan inovasi pembelajaran. Karakteristik utama dalam pembelajaran pada kurikulum merdeka adalah:

    1. Kegiatan pembelajaran yang diterapkan pendidik berbasis projek dalam rangka pengembangan soft skills dan karakter peserta didik sesuai profil pelajar Pancasila. Enam elemen profil pelajar Pancasila diantaranya adalah berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Beberapa soft skills yang harus dikuasai peserta didik adalah keterampilan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, manajemen waktu yang baik, mampu memecahkan masalah yang kompleks, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, etos kerja, dan sebagainya.

    2. Pembelajaran yang dilaksanakan memfokuskan pada materi essensial maka terdapat cukup waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Dengan demikian peserta didik tidak akan mengalami ketertinggalan terkait kemampuan dasar yang harus dikuasai. Kemudian pada jenjang SMA sudah tidak ada lagi jurusan IPA, IPS dan Bahasa karena dalam pembelajaran difokuskan untuk mengembangkan karakter dan kompetensi essensial peserta didik. Selain itu dalam kurikulum merdeka terdapat istilah – istilah baru diantaranya :

     

    a.  Capaian Pembelajaran (CP) sebagai istilah pengganti untuk Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar pada kurikulum

    b. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) sebagai istilah pengganti untuk silabus dalam kurtilas.

    c.Modul Ajar (MA) sebagai istilah pengganti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam kurtilas.

    d.Profil Pelajar Pancasila sebagai istilah pengganti Penguatan Pendidikan Karakter dalam kurtilas.

    e.Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebagai istilah pengganti Kriteria Ketuntasan Minimum dalam kurtilas.

    f.Teaching at the Right Level (TARL) adalah pendekatan belajar yang mengacu pada tingkatan capaian atau kemampuan peserta didik.

    g.Kurikulum Operasional pada Satuan Pendidikan (KOSP) sebagai pengganti istilah dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

    3. Fleksibilitas bagi pendidik untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberikan keleluasaan pada peserta didik untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut.

    Kurikulum merdeka memfokuskan pembelajaran pada siswa atau student centered. Pendidik sebagai fasilitator berperan sebagai orang yang memfasilitasi segala kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru pun dituntut untuk dapat berinovasi, beradaptasi dan berkreasi sesuai dengan perkembangan teknologi dalam rangka menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Beberapa soft skills yang harus dikuasai oleh pendidik dalam kurikulum merdeka pada era digitalisasi atau era industri 4.0 ini adalah sebagai berikut:

    1. Pendidik menguasai kemampuan berkomunikasi yang baik.

    Komunikasi adalah pondasi utama dari beragam soft skill yang harus dikuasai pendidik. Untuk dapat menguasai kelas dan menyampaikan materi kepada peserta didik dalam rangka menciptakan pembelajaran bermakna maka pendidik harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang cakap.

    2. Pendidik mampu merancang kegiatan pembelajaran yang menarik.

    Pendidik mengelola pembelajaran di dalam kelas dengan menekankan agar peserta didik mendapatkan  pengalaman belajar yang baru,  pembelajaran yang menyenangkan dan praktis serta dapat mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif sehingga tercipta pembelajaran yang bermakna. Pendidik memiliki peran yang sangat esensial dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas merupakan salah satu aspek pembelajaran yang harus dikuasai guru agar kegiatan pembelajaran berlangsung dengan optimal.  Pengelolaan kelas yang baik dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif dalam rangka menciptakan pembelajaran bermakna sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran. Mulyadi (2009) menyatakan bahwa manajemen kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan,mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional
    yang positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi
    kelas yang efektif dan produktif. Berikut adalah strategi dalam pengelolaan kelas diantaranya :

    a. Penataan lingkungan belajar.

    Penataan lingkungan belajar meliputi penataan ruang kelas, penataan tempat duduk, ventilasi dan pengaturan cahaya. Penataan lingkungan belajar yang tertata rapi dan nyaman merupakan salah satu unsur terciptanya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan.

    b. Metode pendidik dalam menyajikan pembelajaran.

    Pendidik harus menguasai materi pembelajaran, merancang dan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang tepat serta mengetahui karakteristik, potensi, minat dan bakat peserta didik yang berbeda – beda. Konsep dari merdeka belajar merupakan suatu konsep belajar di mana pendidik dan peserta didik dapat mempunyai celah kebebasan dalam mewujudkan inovasi dan suasana pembelajaran yang kreatif dan mandiri.

    c. Penerapan disiplin positif dan pemberian motivasi kepada peserta didik.

    Budaya disiplin positif di sekolah merupakan nilai-nilai, kayakinan-keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada peserta didik. Hal ini bertujuan untuk membuat murid menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Salah satu contoh penerapan disiplin positif adalah dengan membuat keyakinan kelas pada pembelajaran. Keyakinan kelas dipilih karena setiap tindakan atau perilaku pendidik dan peserta didik di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku seluruh warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif sehingga diperlukan penciptaan keyakinan-keyakinan dasar yang disepakati bersama oleh seluruh warga kelas.Penerapan disiplin positif yang lain adalah dengan cara restitusi. Restitusi merupakan suatu proses menciptakan kondisi bagi peserta didik untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka kembali memiliki karakter yang lebih kuat. Pendidik berperan sebagai manager dan melakukan restitusi sesuai prosedur untuk menstabilkan keadaan, untuk memvalidas tindakan yang salah dan untuk menguatkan keyakinan kelas yang telah disepakati. Beberapa tindakan restitusi yang dilakukan pendidik diantaranya mengadakan restitusi kepada peserta didik yang tidak mengerjakan PR, peserta didik yang tidak berpakaian rapi, peserta didik yang melanggar tata tertib, peserta didik yang bermasalah dengan kehadiran kelas, peserta didik yang memiliki motivasi rendah dalam pembelajaran dan tindakan – tindakan negatif lainnya. Melalui restutusi pendidik berusaha mencari solusi atasa permasalahan yang dialami peserta didik.

    Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak yang timbul baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa, sehingga menimbulkan hasrat, keinginan, semangat dan kegairahan dalam kegiatan belajar demi mencapai suatu tujuan. Menurut Nashar (2004) motivasi belajar adalah kecenderungan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin. Pendidik yang baik harus dapat menumbuhkan motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Pendidik harus menyelami keberagaman karakter peserta didik agar dapat melakukan tindakan yang tepat dalam memberikan motivasi.

    3. Kemampuan pendidik dalam menggunakan media digital

    Perkembangan dunia digital dan multimedia yang pesat menjadikan pendidik harus mampu beradaptasi dengan pemanfaatan media digital dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan kompetensi para pendidik dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) guna mendukung terciptanya model pembelajaran yang inovatif sesuai dengan tuntutan abad 21 dan revolusi industri 4.0 maka Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) meluncurkan Program Pembelajaran Berbasis TIK atau (PembaTIK) pada tahun 2021. Dengan menggunakan media digital maka pendidik dapat menyajikan pembelajaran berbasis TIK (pembaTIK) yang lebih menarik kepada peserta didik.

    Pada kenyataannya proses pembelajaran yang dilaksanakan pendidik di dalam kelas kadang- kadang membuat pendidik kaku terutama dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran yang tidak tepat dapat membuat pembelajaran monoton, peserta didik tidak berperan aktif dan motivasi peserta didik mengikuti pembelajaran menjadi rendah atau menurun. Hal ini yang terjadi dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas VII MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur. MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur pada tahun pelajaran 2022/2023 masih menerapakan pembelajaran dengan sistem Kurikulum  13. Pembelajaran bahasa Inggris di di tingkat SMP/MTs pada kurtilas memiliki tujuan sebagai berikut :

    1. Peserta didik dapat mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi functional.

    2. Peserta didik dapat memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya Bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global.

    3. Peserta didik dapat mengembangkan pemahaman tentang keterkaitan antara bahasa dengan budaya.

    MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur memiliki izin operasional pada tanggal 04 Juli tahun 2018. Penulis mengajar di MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur sejak tahun 2019. Saat ini jumlah tenaga pendidik dan tenaga kependidikan adalah 15 orang yang terdiri dari 12 guru honorer dan 3 tenaga tata usaha. Jumlah peserta didik adalah 65 siswa yang terdiri dari 28 siswa kelas VII, 19 siswa kelas VIII dan 18 siswa kelas IX. Sebagian besar siswa MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur merupakan santri Pondok Pesantren Syi’arul Huda dan Syamsul Huda Dayeuhluhur. 

    Bagi siswa MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur, mata pelajaran Bahasa Inggris adalah mata pelajaran yang masih dianggap susah karena sebagian siswa belum pernah diberikan pengetahuan dasar pelajaran Bahasa Inggris selama di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah karena kurikulum 2013 yang dipakai tidak memuat pelajaran Bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di tingkat dasar.  Rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan guru tentang model-model pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode ceramah dan tugas. Media yang digunakan hanya sebatas buku, tidak menggunakan media-media pembelajaran yang menarik perhatian peserta didik sehingga proses pembelajaran menjadi monoton. Peserta didik menjadi tidak aktif dan bosan dalam pembelajaran.

    Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang masalah yang menyebabkan rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa adalah :

    1. Guru masih mengajar dengan menggunakan model dan metode teacher center dalam pembelajaran.

    2. Guru belum menggunakan model, metode dan strategi pembelajaran yang tepat.

    3. Guru belum menggunakan media pembelajaran yang menarik.

    1.2. Jenis Kegiatan

    Kegiatan yang dilaporkan dalam Laporan Best Practices ini adalah Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Materi Greeting, Parting, Thanking and Apologizing Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning di MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur Tahun Pelajaran 2022/2023.

    1.3.Manfaat Kegiatan

    Manfaat dari Laporan Best Practices ini adalah sebagai berikut :

    1.      Membiasakan penulis untuk menyajikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai Implementasi Kurikulum Merdeka.

    2.      Membiasakan pendidik untuk membuat pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses asesmennya.

    3.      Membiasakan peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi sehingga dapat meningkatkan kompetensinya  

    4.      Memberikan acuan kepada kepala madrasah dalam pelaksanaan supervisi akademik.

    5.       Menginspirasi pendidik dalam merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, merealisasikan proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik melalui inovasi pembelajaran berbasis TIK di era industry 4.0.

    BAB II

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    2.1. Tujuan dan Sasaran

    Tujuan dari Laporan Best Practices ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembelajaran dari tahap merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, merealisasikan pembelajaran Bahasa Inggris pada materi greeting, parting, apologizing and thanking dengan model pembelajaran Problem Based Learning dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik.

    Sasaran pelaksanaan Best Practices ini adalah peserta didik kelas VII di MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur tahun pelajaran 2022/2023.

    2.2. Bahan dan Materi Kegiatan

    Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan Best Practices ini adalah materi kelas VII dengan topik greeting, parting, apologizing and thanking.

    1. Fase :  D

    2. Elemen :  Menyimak – Berbicara

    Pada akhir Fase D, peserta didik menggunakan bahasa Inggris untuk berinteraksi dan saling bertukar ide, pengalaman, minat, pendapat dan pandangan dengan guru, teman sebaya dan orang lain dalam berbagai macam konteks familiar yang formal dan informal. Dengan pengulangan dan penggantian kosakata, peserta didik memahami ide utama dan detil yang relevan dari diskusi atau presentasi mengenai berbagai macam topik yang telah familiar dan dalam konteks kehidupan di sekolah dan di rumah. Mereka terlibat dalam diskusi, misalnya memberikan pendapat, membuat perbandingan dan menyampaikan preferensi. Mereka menjelaskan dan memperjelas jawaban mereka menggunakan struktur kalimat dan kata kerja sederhana.

    2.3.   Model Pembelajaran Problem Based Learning

    Rusman (2010:229) mengatakan bahwa problem based learning merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Sedangkan Barrett (2011: 4) menguraikan bahwa PBL merupakan pembelajaran yang dihasilkan dari suatu proses pemecahan masalah yang disajikan di awal proses pembelajaran. Siswa belajar dari masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, mengorganisasi, merencana, serta memutuskan apa yang dipelajari dalam kelompok kecil.

    Problem based learning atau dikenal juga pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran dimana menyuguhkan suatu masalah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai landasan bagi siswa atau peserta didik untuk berpikir kritis dan menemukan alternatif pemecahan masalah. Pembelajaran ini menuntut peserta didik untuk belajar dengan mandiri dan juga aktif. Tujuan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut.

    1. Meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

    2. Melatih peserta didik dalam menyelesaikan suatu permasalahan secara sistematis.

    3. Membantu peserta didik dalam memahami peran orang dewasa di kehidupan nyata.

    4. Mendorong peserta didik untuk menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab.

    Sintaks model pembelajaran problem based learning adalah sebagai berikut :

    1.      Mengorientasi peserta didik pada masalah.

          Pada tahap ini pendidik akan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran serta proses agar peserta didik termotivasi untuk belajar.

    2.      Mengorganisasikan kerja peserta didik.

          Pada tahap ini, pendidik mengorganisir tugas yang akan diberikan pada peserta didik, misalnya penentuan topik, prosedur tugas, dan sebagainya.

    1. Melakukan penyelidikan atau penelusuran untuk menjawab permasalahan.

          Pada tahap ini pendidik membimbing peserta didik agar mereka bisa mendapatkan sumber atau referensi yang sesuai untuk permasalahan yang ditugaskan.

    4.      Menyusun hasil karya dan mempresentasikannya.

    Pada tahap ini, peserta didik akan dibantu oleh pendidik dalam mempersiapkan hasil yang akan dilaporkan, misalnya laporan, dokumentasi, rekaman, serta teori pendukung lainnya.

    5.      Melakukan evaluasi dan refleksi proses dan hasil penyelesaian masalah.

    Pada tahap ini pendidik meminta peserta didik untuk merefleksi dan mengevaluasi hasil yang diperoleh, baik dari sisi proses maupun metode.

    2.4.   Pelaksanaan Best Practice

    Cara pelaksanaan Best Practices ini adalah menerapkan pembelajaran saintifik dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Berikut adalah pelaksanaan Best Practices yang telah dilaksanakan oleh penulis.

    1.      Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP)

    Pada akhir Fase D, peserta didik menggunakan teks lisan, tulisan dan visual dalam bahasa Inggris untuk berinteraksi dan berkomunikasi dalam konteks yang lebih beragam dan dalam situasi formal dan informal. Peserta didik dapat menggunakan berbagai jenis teks seperti narasi, deskripsi, prosedur, teks khusus (pesan singkat, iklan) dan teks otentik menjadi rujukan utama dalam mempelajari bahasa Inggris di fase ini. Peserta didik menggunakan bahasa Inggris untuk berdiskusi dan menyampaikan keinginan/perasaan. Pemahaman mereka terhadap teks tulisan semakin berkembang dan keterampilan inferensi mulai tampak ketika memahami informasi tersirat. Mereka memproduksi teks tulisan dan visual dalam bahasa Inggris yang terstruktur dengan kosakata yang lebih beragam. Mereka memahami tujuan dan pemirsa ketika memproduksi teks tulisan dan visual dalam bahasa Inggris.

    2.      Pemetaan Tujuan Pembelajaran (TP)

    1. Peserta didik dapat menerapkan fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan teks interaksi interpersonal yang melibatkan tindakan greeting, parting, apologizing and thanking.

    2. Peserta didik dapat menyusun teks interaksi interpersonal yang melibatkan tindakan greeting, parting, apologizing and thanking dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan.

    3.      Perumusan Indikator Pencapaian Tujuan Pembelajaran

    1. Peserta didik mampu menggunakan unsur kebahasaan teks interaksi

      interpersonal lisan dan tulis terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking dengan baik dan benar.

    2. Peserta didik mampu menyusun percakapan acak terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking dengan struktur teks yang runtut dan unsur kebahasaan yang benar.

    3. Peserta didik mampu mempraktekan percakapan acak terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking dengan struktur teks yang runtut dan unsur kebahasaan yang benar.

    4.      Pemilihan model pembelajaran

    Model pembelajaran yang digunakan adalah Problem Based Learning.

    5.      Perencanaan kegiatan pembelajaran

    Di bawah ini adalah rencana kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning.

    URUTAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

    Pertemuan 1

    Kegiatan Awal

    Kegiatan / Sintaks

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    Pendahuluan

    Apersepsi

    Guru membuka dengan salam dan berdoa untuk memulai pembelajaran.

    Religius

    Sopan Santun

    10’

    Guru memeriksa kehadiran siswa sebagai sifat kedisiplinan.

    Guru memberikan motivasi lewat tayangan video dan meminta siswa untuk mengambil hikmah dari tayangan tersebut

    Disiplin

     

    Guru memberikan gambaran dan semangat belajar serta menjelaskan tujuan pembelajaran dan
    manfaat mempelajari greeting, parting, apologizing and thanking dalam kehidupan sehari – hari.

    Sopan Santun

    Guru menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek diagnosis non-kognitif.

    a.      Are you feeling okay now?

    b.      Are you ready to study now?

    c.       Did you study last night?

    Aktif

    Kegiatan Inti

    Kegiatan / Sintaks

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    1.   Mengorientasi peserta didik pada masalah

    Creativity Thinking and Innovation

    a.   Peserta didik mengerjakan pre test dengan materi greeting, parting, apologizing and thanking melalui platform quizizz.

    https://quizizz.com/join/quiz/62b2b27dee323c001e22390e/start

    b.  Peserta didik menjawab pertanyan pemantik terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking.

    c.   Peserta didik mencermati video yang berkaitan
    dengan greeting, parting, apologizing and thanking
    https://www.youtube.com/watch?v=8s-_5XfDwLA (TPACK/HOTS – C4)

    d.  Peserta didik menyampaikan tanggapan terkait tayangan video dengan materi greeting, parting, apologizing and thanking

    e.   Peserta didik menirukan pelafalan setiap kata pada ungkapan greetings, leave taking (parting), thanking, apologizing (LOTS-C1)). Kemudian peserta didik diminta untuk membacakan dialog tentang ungkapan greeting, parting, apologizing and thanking.

    Kemandirian

    Aktif

    Berani mengemukakan pendapat

    20’

    2.   Mengorganisasikan kerja peserta didik

    Communication

    a.       Guru mengajukan pertanyaan terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking berdasar video yang telah ditayangkan untuk menganalisis pemahaman peserta didik.

    b.      Peserta didik merespon pertanyaan guru serta menyampaikan sejauh mana mereka memahami materi greetings, leave taking (parting), thanking, apologizing setelah mengamati video.

    c.       Peserta didik menyampaikan beberapa pertanyaan terkait hal – hal yang belum mereka pahami dalam terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking.

    Collaboration

    d.      Peserta didik diminta untuk membentuk kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang.

    e.       Secara berkelompok peserta didik menggali informasi mendiskusikan fungsi sosial, struktur teks dan fungsi kebahasaan terkait dalam materi greeting, parting, apologizing and thanking (HOTS)

    Sopan santun

    Kemandirian

    20

    3.   Melakukan penyelidikan atau penelusuran untuk menjawab permasalahan

     

    Critical Thinking and Problem Solving

    Guru membimbing dan memantau peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dari berbagai sumber untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

    Disiplin

    Gotong royong

    Kemandirian

    20’

    Kegiatan Akhir

    Kegiatan / Sintaks

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    Penutup

    a.   Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan pemahaman peserta didik terkait materi greeting, parting, apologizing and thanking.

    b.   Guru memberikan umpan balik dan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan serta meminta peserta didik untuk menyampaikan pengalaman belajar terhadap proses pembelajaran dari berbagai sudut pandang secara tulus dan meminta mereka menyampaikan usulan sehingga pertemuan selanjutnya berlangsung lebih baik.

    c.   Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membuat contoh percakapan greeting, parting, apologizing and thanking.

    d.  Guru menutup kelas dengan salam dan mengarahkan siswa untuk berdoa sebelum meninggalkan kelas.

    Kemandirian Disiplin

    Rendah hati Percaya diri

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Religius

    10’

    Kegiatan Awal

    Kegiatan / Sintaks

    Pendahuluan

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    Apersepsi

    Guru membuka dengan salam dan berdoa untuk memulai
    pembelajaran.

    Religius

    Sopan Santun

    10’

    Guru memeriksa kehadiran siswa sebagai sifat kedisiplinan.

    Disiplin

     

    Guru menanyakan pekerjaan rumah yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya.

    Sopan Santun

    Guru menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan aspek diagnosis non-kognitif.

    a.      Are you feeling okay now?

    b.      Are you ready to study now?

    c.       Did you study last night?

    Aktif

    Guru mengingatkan kembali peserta didik tentang tujuan pembelajaran dan manfaatnya dalam kehidupan sehari – hari

    Sopan santun

    Kegiatan Inti

    Kegiatan / Sintaks

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    4.   Menyusun hasil karya dan mempresentasikannya

    Collaboration

    a.    Guru membantu peserta didik dalam merencanakan, menyiapkan dan menyajikan laporan hasil solusi pemecahan masalah.

    b.   Peserta didik mendapatkan bimbingan dari guru dalam berdiksusi menyusun percakapan acak

    c.    Peserta didik secara berpasangan mempraktekkan percakapan yang telah disusun.

    d.   Peserta didik menyajikan hasil karya di depan kelas.

    Kemandirian

    Cermat

    Teliti

    Gotong – royong, Menghargai pendapat

    40’

    5.   Melakukan evaluasi dan refleksi proses dan hasil penyelesaian masalah

    Communication

    a.   Peserta didik memberikan evaluasi terhadap hasil kerja kelompok lain.

    b.   Guru memberikan penguatan hasil evaluasi peserta didik.

    c.   Guru meminta peserta didik mengerjakan pre tes melalui quizizz

    https://quizizz.com/join/quiz/62e720d7f92141001df31ec9/start

    Rrendah hati

    15’

    Kegiatan Akhir

    Kegiatan / Sintaks

    Deskripsi Kegiatan

    Penguatan Pendidikan Karakter

    Waktu

    Penutup

    a.    Guru memberikan umpan balik dan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan serta meminta peserta didik untuk menyampaikan pengalaman belajar terhadap proses pembelajaran dari berbagai sudut pandang secara tulus dan meminta mereka menyampaikan usulan sehingga lebih baik.

    b.   Guru menyampaikan gambaran materi pada pertemuan selanjutnya.  

    c.    Guru menutup kelas dengan salam dan mengarahkan siswa untuk berdoa sebelum meninggalkan kelas.

    Kemandirian Disiplin

    Rendah hati Percaya diri

     

     

     

     

     

     

     

     

    Religius

    15’

             

    6.    Penyusunan perangkat pembelajaran

    Berdasarkan rencana kegiatan tersebut, kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi modul ajar, bahan ajar, LKPD, dan instrumen penilaian. Modul ajar disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan profil pelajar Pancasila, dan kecakapan pembelajaran abad 21.

     

    2.5. Media dan Instrumen

    Media dan instrument yang digunakan dalam Laporan Best Practices ini adalah :

    1. Bahan Ajar

    2. Video pembelajaran dari youtube : https://www.youtube.com/watch?v=8s-_5XfDwLA (greeting, parting, apologizing and thanking)

    3. Buku Penunjang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Inggris When English Rings The Bell, Kelas VII, Kemendikbud, Revisi Tahun 2017.

    4. Media Pembelajaran Berbasis teknologi

    5. Lembar Kerja Peserta Didik

    6. Alat Evaluasi dan Kisi – Kisi

     

    2.6.   Waktu dan Tempat Pelaksanaan

    Best Practices ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 03 Oktober 2022 pada kelas VII MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah.

     

    BAB III

    PEMBAHASAN

     

    Laporan Best Practices dari praktik pembelajaran Bahasa Inggris materi greeting, parting, apologizing and thanking di kelas VII MTs Syi’arul Huda Dayeuhluhur dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning menunjukkan hasil yang positif. Kefektifan pembelajaran terlihat pada hasil belajar siswa yang telah dianalisis dan hasil observasi guru selama proses pembelajaran.  Adapun hasil dari Best Practices adalah sebagai berikut :

    1.         Proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning berlangsung menarik dan menyenangkan. Peserta didik lebih antusias, bersemangat dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran. Peserta didik menjadi lebih aktif dalam merespon pertanyaan termasuk mengajukan pertanyaan dan merespon pertanyaan temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang dengan model pembelajaran Problem Based Learning mengharuskan peserta didik terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

    2.         Pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam transfer knowledge. Pada akhir pembelajaran, peserta didik dapat mengidentifikasi fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan teks interaksi interpersonal yang melibatkan tindakan terkait ungkapan greeting, parting, apologizing and thanking. Selain itu peserta didik dapat menyusun dan mempresentasikan teks interpersonal sederhana yang melibatkan tindakan terkait ungkapan greeting, parting, apologizing and thanking.

    3.         Penerapan model menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam perpikir kritis.  Hal ini dapat dilihat dari tingkat aktivitas peserta didik dalam pembelajaran, mengajukan pertanyaan, merespon pertanyaan, menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran, berdiskusi dan mengerjakan asesmen, serta memberikan refleksi atas pengalaman belajar yang diperoleh. Dalam pembelajaran sebelumnya dimana pendidik hanya berceramah sehingga pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered), suasana pembelajaran  cenderung sepi dan serius. Peserta didik cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru dalam pembelajaran sebelumnya adalah bagaimana peserta didik dapat menyelesikan soal dan kurang peduli pada proses berpikir peserta didik. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif yaitu pembelajaran yang diawali dengan ceramah atau penjelasan teori tentang materi yang dipelajari, dilanjutkan  pemberian tugas, dan pembahasan) cenderung membuat siswa hanya fokus untuk memahami materi sehingga pembelajaran bermakna tidak akan tercapai. Lain halnya dengan proses pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning, dengan berawal dari permasalahan yang ada akan mendorong peserta didik untuk belajar dan bekerja kooperatif dalam kelompok dalam rangka mendapatkan solusi, berpikir kritis dan analitis, mampu menetapkan serta menggunakan sumber daya pembelajaran yang sesuai .

    4.         Pada saat pembelajaran peserta didik dibagi dalam kelompok untuk mendiskusikan penyelesaian masalah dalam LKPD dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok serta menanggapi presenstasi kelompok lain. Tampak seluruh peserta didik terlibat aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan pada proses pembelajaran dikelas.

    5.         Pada saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi kelompok, tingkat berpikir kritis peserta didik akan bertambah. Selain itu akan rasa solidaritas dan kerjasama serta gotong royong antar anggota kelompok dalam menyelesaikan permasalahan atau tugas diberikan. 

    6.         Pada saat presentasi kelompok, pendidik dan peserta didik bergantian memberikan pertanyaan. Kemudian peserta didik secara bergantian melakukan penilaian teman sebaya dengan memberikan skor berdasar pengamatan mereka terhadap kelompok lain selama proses presentasi berdasar aspek isi presentasi, penyampaian hasil kelompok dan kemampuan memberikan jawaban. 

    7.         Dari hasil LKPD kelompok, semua kelompok mampu menemukan fungsi sosial, unsur – unsur kebahasaan teks interaksi interpersonal yang melibatkan tindakan terkait ungkapan greeting, parting, apologizing and thanking.

    8.         Pendidik menilai kemampuan menyimak dan berbicara peserta didik melalui kegiatan presentasi kelompok berdasar pengucapan, tata bahasa dan kosakata yang digunakan. Hasil presentasi kelompok menunjukkan bahwa pengucapan peserta didik terkait teks interpersonal sederhana mudah dipahami sesuai aksen tertentu, penyajian presentasi peserta didik, kemampuan peserta didik dalam memberi dan menjawab pertanyaan cukup baik sesuai dengan perbendaharaan kosakata yang dimiliki serta sesuai dengan kategori dan rubrik dalam asesmen.

    9.         Adanya peningkatan pemahaman peserta didik terkait materi terpilih berdasar asesmen awal dan akhir melalui platform quizizz. Pada asesmen awal hanya 6 dari 28 peserta didk yang tuntas mengerjakan asesmen. Pada asesmen akhir terdapat 26 peserta didik yang tuntas mengerjakan asesmen.

    10.     Dari hasil refleksi di akhir pembelajaran peserta didik merasa senang, antusias dan bersemangat selama proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan penggunaaan aplikasi media digital seperti quizizz.

    BAB IV

    KESIMPULAN

    Dampak dari aksi penerapan metode pembelajaran yang bervariasi seperti, ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan dan dikolaborasikan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) menjadikan peserta didik lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran.  Penggunaan media ajar dalam bentuk power point yang ditampilkan lewat LCD proyektor, pemberian ice breaking membuat peserta didik antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.

    Beberapa hal yang harus digarisbawahi setelah melakukan inovasi pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu seorang pendidik perlu melakukan persiapan yang matang sebelum melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Persiapan yang dilakukan meliputi mengenali karakteristik peserta didik, menganalisis permasalahan belajar yang dialami peserta didik, mencari dan menentukan solusinya, merancang rencana pelaksanaan pembelajaran yang menarik sehingga peserta didik tidak merasa bosan selama proses pembelajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan modul ajar yang telah
    dirancang, serta melakukan refleksi untuk memperbaiki hambatan dan kendala yang dihadapi sehingga dapat dijadikan perbaikan untuk pembelajaran selanjutnya dan peserta didik mendapatkan pengalaman pembelajaran yang bermakna.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Lilis Lismaya,S.Pd,M.Pd. (2019) Berfikir Kritis dan PBL (Problem Basic Learning), https://books.google.co.id/books?id=bvqtDwAAQBAJ&lpg=PA1&ots= A9e-YEoiRS&dq=info%3Ap921IuPP05AJ%3Ascholar.google.com&lr&pg=PP 1#v=onepage&q&f=false

    Rusman, M, P. (2013). Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Cet. VI, Rajawali Pers PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.

    Terry Barrett. (2011). New Approaches to problem Based Learning. Dublin: University College Dublin

    LAMPIRAN

     Link Video Praktik Pembelajaran dapat di akses melalui link berikut :

    https://youtu.be/bexILZ613xo

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Saepullatip Saepullatip lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.