Pakaianmu Menentukan Pandangan Masyarakat Terhadapmu? - Urban - www.indonesiana.id
x

Perpaduan jogger pants dan atasan model Crop top

Aqila Kharisma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Desember 2022

Rabu, 21 Desember 2022 13:24 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Pakaianmu Menentukan Pandangan Masyarakat Terhadapmu?

    Pakaian seringkali dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual, dan hal tersebut sangat jauh dari kata benar. Berikut penjelasan untuk membantah pemikiran tersebut.

    Dibaca : 1.182 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pakaian korban dijadikan alasan oleh pelaku tindak kekerasan seksual, masuk akal kah?

     

    Sumber : Pixabay.com

    Sumber : Pixabay.com

     

    Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang menyukai keindahan, salah satunya dalam hal berpenampilan. Hal ini dibuktikan dengan beragamnya cara masyarakat dalam hal berpakaian. Jika kita lihat sekitar kita, gaya berpakaian masyarakat di Indonesia masih mengadopsi kultur dari wilayah timur. Di Indonesia, masyarakat diberikan kebebasan dalam berpakaian, dan hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mengekpresikan diri. Namun terkadang kebebasan tersebut dijadikan alasan yang digunakan beberapa oknum yang melakukan tindakan pelecehan seksual untuk membela dirinya.

    Seperti yang kita ketahui, zaman sekarang orang sangat mementingkan yang namanya fashion, dan ya, semakin kesini, semakin banyak orang yang memakai pakaian terbuka, namun hal tersebut tidak sepatutnya dijadikan alasan oleh para pelaku yang berpikiran keji untuk melakukan tindakan pelecehan seksual. Satu-satunya hal yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual adalah pola pikir mereka sendiri yang tidak waras.

    Pakaian seringkali dijadikan alasan oleh para pelaku pelecehan atas tindakan pelecehan seksual yang mereka lakukan, “Siapa suruh bajunya kaya gitu” kalimat tersebut seringkali diucapkan, bukan hanya oleh pelaku, namun juga masyarakat yang tidak tahu seberapa besar trauma yang dialami korban pun mengatakan seperti itu. Nyatanya, pakaian tidak memiliki korelasi dengan sebagian besar tindakan pelecehan seksual. Akibatnya, seakan-akan korban yang melakukan kesalahan, padahal kejadian tersebut yang mengakibatkan trauma pada korban.

     

    Pelecehan Seksual Tidak Hanya Terjadi Secara Fisik

    Tahukah Anda, pelecehan seksual bukan hanya berupa tindakan fisik, tindakan verbal yang dilakukan oleh pelaku pun merupakan jenis pelecehan seksual. Dampak pelecehan seksual secara verbal tidak jauh berbeda dari perlakuan fisik, mengapa? Karena pelecehan seksual secara verbal juga mampu membawa pengaruh yang cukup besar pada psikis korban dan cukup melukai harga diri korban. Dalam kasus yang lain, korban terkadang tidak menyadari bahwa tindakan yang dilakukan oleh pelaku merupakan tindakan pelecehan. Karena normalisasi masyarakat yang mampu menjadikan tindakan pelecehan menjadi suatu hal yang biasa saja, sehingga hal ini kerap dijadikan bahan lelucon oleh beberapa orang. Berikut beberapa contoh pelecehan seksual secara verbal:

    • Bersiul secara provokatif terhadap seseorang
    • Komentar yang menseksualisasi tubuh seseorang
    • Komentar yang bersifat ambigu

    Dilansir dalam artikel berujudul Survei: 3 dari 5 perempuan di Indonesia Alami Pelecehan Seksual di Ruang Publik yang dimuat di Magdalene pada 2019, sebanyak 60 persen responden mengalami pelecehan seksual secara verbal, yang memuatkan komentar terhadap tubuh mereka, siulan, diklakson, suara ciuman, dan komentar seksual.

    Coba bayangkan, Anda sedang berjalan dan hanya fokus terhadap diri sendiri, dan kemudian ada seseorang yang bersiul sembari mengatakan hal-hal yang sangat tidak seharusnya dikatakan tentang penampilan maupun tubuh Anda. Atau Anda sedang bekerja di kantor, dan rekan kerja Anda tiba-tiba berkomentar sesuatu tentang tubuh Anda, apakah Anda akan merasa nyaman? Tentu tidak, siapapun itu tidak memiliki hak untuk diperlakukan seperti itu.

     

    Korelasi Pakaian dengan Tingkat Pelecehan Seksual

    Dilansir dalam artikel “Pelecehan Seksual Tak Ada Kaitan dengan Pakaian Korban, Sepakat?” yang dimuat di Detik pada 2019, jenis pakaian yang dikenakan korban:

    Rok dan celana panjang 17,47%

    Baju lengan Panjang 15,28%

    Baju seragam sekolah 14,23%

    Baju longgar 13,80%

    Berhijab pendek/sedang 13,20%

    Baju lengan pendek 7,72%

    Baju seragam kantor 4,61%

    Berhijab panjang 3,68%

    Rok atau celana selutut 3,02%

    Baju atau celana ketat 1,89%

    Bahkan yang berhijab dan bercadar juga mengalami pelecehan seksual sebannyak 0,17%

    Dari data tersebut, sudah terlihat jelas bukan? Bahwa pakaian tidak memiliki korelasi apapun dengan tingkat terjadinya pelecehan seksual. Bahkan persentase tertinggi jatuh kepada pakaian rok dan celana panjang. Masih percaya bahwa pakaian merupakan penyebab terjadinya pelecehan seksual?  

    Hal yang lebih membuat miris adalah pelaku bahkan dapat melecehkan korban saat sedang melakukan ibadah, seperti dimuat dalam artikel Bejat, Seorang Laki-Laki Lecehkan Perempuan Sedang Sholat yang dilansir Republika pada 2021, pada tanggal 4 Juni 2021 di Mushala Al-Amin, Jalan Bekasi Barat, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, terjadi peristiwa pelecehan yang dilakukan oleh pelaku kepada seorang wanita yang sedang melaksanakan ibadah shalat.

    Kejadian tersebut sempat ramai dibicarakan masyarakat dan menjadi perbincangan hangat di lini masa. Masyarakat dibuat geram oleh pelaku yang seperti tidak memiliki akal sehat. Kejadian tersebut terekam CCTV sehingga perbuatan bejat pelaku terungkap, dan ia berhasil ditangkap aparat Polres Metro Jaktim.

    Jika terjadi pelecehan seksual baik yang Anda alami sendiri atau yang dialami orang disekitar Anda berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan:

    1. Tidak segan untuk menegur langsung.
    2. Meminta pertolongan pada orang di sekitar.
    3. Berani merekam bukti dari tindakan pelaku.
    4. Melaporkan kepada pihak berwajib.

    Sebagian orang berpikir bahwa mungkin pelecehan seksual hanya hal yang sepele, namun mereka tidak mengetahui dampak yang dirasakan oleh korban, mereka merasa kotor serta menganggap bahwa hal tersebut terjadi akibat kelalaian mereka sendiri. Tidak lupa juga dengan rasa malu yang mereka alami. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sebagian besar masyarakat akan menyalahkan korban dan jika tidak, kasus tersebut seringkali dijadikan bahan pembicaraan oleh orang-orang sekitarnya. Hal tersebut dapat menambah tekanan pada sang korban dan berujung dapat membahayakan kesehatan mental sang korban. Seharusnya masyarakat tidak hanya terpaku untuk mengedukasi wanita dalam hal berpakaian, akan tetapi lelaki pun harus diedukasi tentang cara menghormati wanita, salah satunya dengan menjaga pandangan dan menahan nafsunya.

    Stigma masyarakat mengenai peningkatan kasus pelecehan seksual yang seringkali terjadi akibat cara berpakaian seharusnya menjadi suatu permasalahan yang harus diperhatikan oleh kita semua. Untuk mengatasi masalah tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan melakukan kampanye tentang isu kekerasan seksual melalui media sosial, karena di zaman serba teknologi ini, masyarakat cenderung lebih banyak yang mengakses sosial media sehingga mempermudah menyebarkan informasi secara daring dan jangkauan penyebarannya pun lebih luas.

    Mungkin pemerintah juga dapat memberikan sebuah solusi seperti memberikan edukasi kepada setiap lapisan masyarakat yang bisa dijadikan bahan kajian oleh pemerintah kepada masyarakat. Pelecehan seksual merupakan masalah serius dan tidak bisa dianggap remeh oleh masyarakat karena dapat berakibat fatal terutama pada psikis korban.

    Masyarakat perlu menyadari bahwa pelecehan seksual seharusnya menjadi aib bagi pelaku, bukan korban. Maka korban pelecehan seksual sebaiknya mendapatkan pendampingan dan perlindungan, bukan malah dijadikan bahan pembicaraan yang malah membuatnya merasa semakin rendah diri. Mari cegah perbuatan tercela ini dimulai dari pola pikir kita sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Aqila Kharisma lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 448 kali