Bangku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: istockphoto.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 4 Januari 2023 09:01 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bangku

    Kamu ingat Nyonya Listyo? Mungkin kamu mengenalnya sebagai Nenek Bariah. Sepulang sekolah, kita biasa bermain di kuburan, tak jauh dari jalan setapak. Kamu dan aku. Kita bermain sampai diri kita berantakan. Namun sebelumnya, kita harus melewati rumah Nyonya Listyo. Dia adalah tetangga dari tetanggaku, jadi aku mungkin seharusnya menyapa untuk sopan santun. Tapi aku malah melewatinya dan berlarian bersamamu. Hanya suara kita yang melengking.

    Dibaca : 547 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kamu ingat Nyonya Listyo? Mungkin kamu mengenalnya sebagai Nenek Bariah.

    Sepulang sekolah, kita biasa bermain di kuburan, tak jauh dari jalan setapak. Kamu dan aku. Kita bermain sampai diri kita berantakan.

    Namun sebelumnya, kita harus melewati rumah Nyonya Listyo. Dia adalah tetangga dari tetanggaku, jadi aku mungkin seharusnya menyapa untuk sopan santun. Tapi aku malah melewatinya dan berlarian bersamamu. Hanya suara kita yang melengking.

    Nyonya Listyo akan duduk di bangku kayu sonokeling itu, dan tidak mengatakan apa-apa. Terbungkus gaun abu-abu dengan topi jerami di musim panas, dan, saat cuaca dingin, sweter wol merah muda, topi dengan pom-pom putih di atas.

    Ibuku sering berkata, kasihan Nyonya Listyo sendirian. Meskipun dia sudah tua, tetapi kamu tidak pernah melihat mereka, anak-anaknya bukan?

    Ibuku akan berkata, tolong bawakan Nyonya Listyo kue kering yang baru saja ibu panggang, tetapi tahun-tahun berlalu dan orang tuaku bercerai, dan ibuku berhenti membuat kue.

    Lagipula aku benci pergi ke rumah Nyonya Listyo karena baunya seperti jamur busuk saat aku terlalu dekat dengannya.

    Ibuku sering mengatakan bahwa Nyonya Listyo menimbun segala sesuatu di rumahnya: tumpukan pakaian, surat kabar dari tahun 1960-an ketika hidupnya penuh dengan keceriaan, dan tidak sesedih itu karena kemudian anak-anaknya dan Nyonya Listyo mengalami semacam kebencian yang tak ada habisnya. Lalu kecoak datang, dan anak-anaknya tidak.

    Nyonya Listyo menyimpan segalanya, sejak anak-anaknya masih kecil—setiap gambar yang pernah mereka buat, rapor mereka—bersama dengan membeli sampah orang lain yang diobral, mainan untuk cucu yang tidak pernah dilihatnya. Semua dimasukkan ke dalam rumahnya, jadi dia tidak akan merasa terlalu kesepian. Kamu tahu bahwa kamar kosong menggemakan suara., Aku tak pernah lagi mendatnagi kuburan itu tetapi makan red velvet ​​setelah kamu meninggalkanku setelah kita lulus.

    Dan apakah kamu ingat ketika  suatu hari kita pergi ke kuburan, bangku itu kosong, dan keesokan harinya dia masih belum ada di sana karena dia telah meninggal?

    Ibu memberi tahuku—ini sebelum ibuku meninggal juga, tentu saja—bahwa Nyonya Listyo baru ditemukan setelah berhari-hari. Lalu anak-anaknya dipanggil dan mereka datang untuk menguburkannya. Mereka pasti mengira mereka harus tinggal selama berminggu-minggu untuk membersihkan rumah itu dari timbunan sampah yang dia kumpulkan ke dalam kehampaan hidup selama bertahun-tahun.

    Tetapi dia berhasil membodohi mereka, karena di antara desas-desus dan duduk di bangku, dia telah membuang semuanya. Entah bagaimana caranya, yang tersisa hanyalah rumah kosong, papan lantai, bahkan tidak ada tempat tidur. Dia meninggal di lantai linoleum dapur.

    Anak-anaknya, tentu saja bukan anak-anak lagi. Rambut mereka putih oleh uban, masuk ke rumah, kamar demi kamar yang dibiarkan kosong dari sejarah mereka, kecuali di loteng: satu koper merah.

    Dan ketika mereka membuka kopernya, tidak ada apa-apa di dalamnya.

     

    Bandung, 3 Januari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.