Kawin Campuran - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: delsolphotography.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 7 Januari 2023 11:48 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kawin Campuran

    Dia bukan tipe orang yang berkomitmen untuk tinggal di satu tempat sepertiku. Dan pacarnya, Ombak, juga tampak agak liar. Aku rasa orang tuanya kaum hippy yang biasa bertualang ke segala penjuru dunia. Tak satu pun dari kami pernah bertemu dengan orang tua Ombak sebelum acara pernikahan, tetapi kami membentuk opini tentang mereka berdasarkan nama, rok dari kain sarung tenun, dan putri mereka yang tidak dapat ditebak. Ternyata kami tidak adil nyaris menjadi rasis.

    Dibaca : 536 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku akui aku skeptis ketika abangku mengatakan dia akan menikah.

    Dia bukan tipe orang yang berkomitmen untuk tinggal di satu tempat sepertiku. Dan pacarnya, Ombak, juga tampak agak liar. Aku rasa orang tuanya kaum hippy yang biasa bertualang ke segala penjuru dunia.

    Tak satu pun dari kami pernah bertemu dengan orang tua Ombak sebelum acara pernikahan, tetapi kami membentuk opini tentang mereka berdasarkan nama, rok dari kain sarung tenun, dan putri mereka yang tidak dapat ditebak. Ternyata kami tidak adil nyaris menjadi rasis.

    "Mereka akan menikah di pantai," kata ibuku sambil membaca kartu undangan. "Pantai tempat mereka bertemu."

    "Itu cukup romantis, kurasa," kataku.

    Pantai yang dimaksud jauh dari rumah keluarga kami. Namun tampaknya lebih dekat ke rumah Ombak.

    Erik dan Ombak telah berkelana berdua selama berbulan-bulan, tidak ada alamat tetap dan tidak ada rencana, tetapi mungkin itulah keindahan cinta seorang konsultan kemanan keuangan dan melakukan sesuatu yang rumit di bank selama beberapa tahun. Kamu tidak akan kesulitan uang tunai.

    "Di mana mereka akan tinggal?" aku bertanya, tetapi ibu hanya mengangkat tahu.

    "Tidak ada nomor rekening untuk mengirimkan kado," kata ibu, "dan mereka punya banyak uang. Kita harus memberi mereka sesuatu dan mengambil foto untuk dikirim sesudahnya."

    "Kurasa kita harus bersyukur diundang."

    Kami muncul di kota kecil di Pantai Selatan beberapa minggu kemudian, berharap Erik memberi tahu kami tanggal yang tepat karena kami belum mendengar kabar darinya sejak itu. Aku meninggalkan orang tuaku bertengkar di serambi hotel, dan berjalan-jalan. Abangku dan tunangannya berdiri bergandengan tangan di atas kapal yacht.

    "Itu sebabnya kamu tiba-tiba menikah," kataku, mengangguk ke perut Ombak yang buncit.

    Erik hanya menyeringai.

    Aku tidak tahu mengapa aku tidak memberi tahu orang tuaku, tetapi keesokan paginya aku menyelinap ke kota yang lebih besar dengan toko yang menjual pakaian bayi.

    Aku tidak tahu apa-apa tentang bayi, belum ada temanku yang mencapai tahap itu, tetapi aku memilih beberapa sandal mungil hijau yang tampak kokoh. Aku pikir Ombak akan dengan senang hati menggunakannya untuk anak laki-laki atau perempuan.

    Aku melilitkan pita di sekeliling kotak dan menyelipkannya ke meja prasmanan nanti. Sudah waktunya untuk mengenakan topi pernikahanku dan lari ke pantai.

    Begitu aku melihat ibu Ombak di tepi pantai, aku mengerti mengapa mereka menikah di sana.

    Ibuku terus melihat dari kaki Ombak yang indah ke ekor ikan ibunya dan mulut ibu melongo seperti ikan.

    "Dengan pernikahan campuran, kita tidak akan pernah tahu," kata ayah Ombak, yang sama manusianya dengan Erik. Terlebih lagi, ayahku mungkin akan berkata. "Terkadang melewati satu generasi."

    Aku memandang perut Ombak, dan memikirkan hadiah yang kutinggalkan di kamar hotel.

    Aku berharap dengan sepenuh hati bahwa keponakan kecilku tidak pernah membutuhkannya.

     

    Bandung, 7 Januari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.