Sibuk Dipengaruhi Orang Lain, Jadi Sebab Anda Gagal Menghargai Diri Sendiri - Humaniora - www.indonesiana.id
x

ilustr: Everyday Power

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 9 Januari 2023 12:08 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Sibuk Dipengaruhi Orang Lain, Jadi Sebab Anda Gagal Menghargai Diri Sendiri

    Motivasi Buku "How To Respect Myself", berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Agar tidak gagal menghargai diri sendiri. Tipa orang ada jalannya, stop dipengaruhi orang lain!

    Dibaca : 407 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat membaca buku “How to Respect Myself” (2020), pembaca diingatkan bahwa orang-orang dengan harga diri rendah acapkali hanya mampu membicarakan tentang orang lain. Tapi gagal membahas tentang dirinya sendiri. Fokusnya hanya pada standar hidup orang lain, membandingkan secara tidak sehat. Jadi, bagaimana ada kebahagiaan pada orang-orang yang fokusnya kepada orang lain?

     

    Lahirnya buku How to Respect Myself karya Yoon Hong Gyun, seorang dokter kejiwaan asal Korea Selatan disebut seni menghargai diri sendiri. Sangat cocok di tengah hilangnya kemampuan banyak orang dalam menghargai diri sendiri. Mereka yang gagal mengenal cara menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Kok bisa ya? Banyak orang lupa, menjaga harga diri itu bukan hal egois, bukan pula ajang untuk meraih gengsi. Justru menjadi ikhtiar untuk membangun kembali harga diri yang turun akibat pengaruh orang lain. Karena apapun, hidup yang nyaman dan Bahagia itu ada di diri sendiri bukan pada orang lain.

     

    Di era media sosial begini, terlalu banyak orang gemar membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Gaya hidup, status sosial, pemikiran, bahkan ekonomi kok dijadikan objek perbandingan. Hobby-nya mengontip laju orang lain. Hingga lupa membangun dirinya sendiri. Mau sampai kapan, hidup hanya membanding-bandingkan dengan orang lain? Apa nggak capek? Lupa ya, terobsesi dengan standar hidup orang lain itu melelahkan.

     

    Maka bacalah buku “How to Respect Myself”. Agar berani meningkatkan kemampuan menghargai diri sendiri. Di samping menyadarkan pentingnya “cara pandang baru” tentang diri sendiri. Jangan orang lain melulu yang lebih baik tanpa mau mengubah diri sendiri. Nyaman dan Bahagia itu ada pada diri sendiri. Jadi, segeralah ambil keputusan untuk kembali menghargai diri sendiri. Gunakan waktu yang tersisa untuk membaca buku-buku yang bermanfaat dan mencerahkan, isi hari-hari dengan kegiatan yang produktif dan bermanfaat bagi banyak orang lain. Karena Anda sangat berharga di mata orang-orang yang membutuhkan kebaikan dan uluran tangan Anda. Cari tempat itu, bukan cari di diri orang lain!

     

    How to Respect Myself”, spirit itulah yang dikembangkan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Aktivitas membaca buku dan literasi dijadikan healing untuk diri sendiri. Anak-anak yang membaca, orang tua yang mengantar anaknya, relawan yang berkiprah, dan orang-orang baik yang berkunjung adalah sarana Latihan untuk menghargai diri sendiri. Selalu ada cara untuk respek terhadap diri sendiri di taman bacaan. Mainlah ke taman bacaan, temuai orang-orang di sana. Insya Allah, Anda pasti dapat menghargai diri sendiri. Karena hidup Anda begitu bermakna untuk mereka.

     

    Ketahuilah, seseorang yang gagal menghargai dirinya sendiri biasanya akan sulit dalam mengambil keputusan. Sekalipun hanya keputusan yang kecil dan ringan. Akibat tidak percaya diri dan selalu bertumpu paa pengaruh orang lain. Hiduonya jadi tidak realistis, tidak literat. Setiap pikiran dan tindakannya selalu ingin mendapat apresisasi orang lain. Terlalu sibuk dengan validasi dari orang lain. Sehingga selalu mencari orang lain untuk membantu dirinya.

     

    Bacalah buku, mainlah ke taman bacaan. Untuk melatih jadi diri sendiri. Agar bisa merasakan kepuasan batin atas apa yang dilakukan. Sekecil apapun perbuatan baik, pasti menghadirkan kepuasan batin yang sifatnya personal. Maka jangan menghabiskan waktu untuk membandingkan atau menengok kehidupan orang lain. Agar esok-esok, siapapun punya harapan yang lebih baik. Untuk bertanggung jawab pada diri sendiri atas pilihan yang diambil. Bukan “mengekor” atau mengikuti orang lain. Ingatlah, satu-satunya orang di dunia ini yang akan selalu ada kapan pun dan di mana pun saat dibutuhkan adalah diri sendriri, bukan orang lain.

     

    Ironis, bila membuat acuan sukses dan Bahagia dari orang lain. Lupa, bahwa tiap orang sudah punya potensi dan kapasitasnya masing-masing. Prosesnya berbeda, jalannya tidak sama, dan tujuannya pun berbeda. Maka, berhenti untuk membandingkan diri dengan orang lain. Siapapun pantas bahagia dan nyaman atas dirinya sendiri, bukan atas orang lain. How to Respect Myself. Salam literasi #PegiatLiterasi #KataBuku #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.