Venna Melinda, Apa Masih Ada Akal Sehat? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 11 Januari 2023 06:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Venna Melinda, Apa Masih Ada Akal Sehat?

    KDRT, Nyabu, hingga mutilasi bukti tidak adanya akal sehat. Literasi punya peran besar menyadarkan masyarakat. Agar selalu ada akal sehat seperti di taman bacaan

    Dibaca : 389 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selalu ada akal sehat di taman bacaan. Untuk menegaskan pentingnya pikiran yang baik dan normal, logis tapi tetap digunakan secara sehat. Karena hari ini, bisa jadi, banyak orang punya akal. Tapi tidak digunakan secara sehat. Akalnya ada tapi tidak sehat. Lebih senang menyalahkan orang lain, bergunjing, gibah bahkan memperolok-olok orang lain. Sementara dirinya belum tentu lebih baik. Akal yang tidak sehat.

    Seperti berita belakangan ini. Mulai dari artis yang hidungnya berdarah-darah akibat KDRT. Ada pula kasus mutilasi Wanita karena soal asmara. Bahkan seorang Kombes polisi yang tertangkap sedang nyabu bersama teman wanitanya di kamar. Semua kejadian itu bertentangan dengan akal sehat. Apalagi akhlak. Faktanya, memang banyak orang “menuhankan” akal. Tapi sayang, tidak digunakan dengan sehat. Akal yang banyak jeleknya daripada baiknya. Harus jadi bahan renungan!

    Maka saya menyebut, selalu ada akal sehat di taman bacaan. Karena sejak 5 tahun terakhir, saya berkiprah di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Tiap week end, saya bimbing anak-anak yang membaca buku. Mengajar kaum ibu buta aksara, termasuk memberantas buta huruf Al Quran. Menata dan menghitung buku, serta berdiskusi hangat dengan para relawan. Aktivitas di taman bacaan yang menyehatkan, baik secara fisik maupun psikologis. Taman bacaan selalu mengajarkan pentingnya peduli kepada sesama, berbuat nyata untuk membantu orang lain walau hanya melalui buku-buku bacaan. Dan tanpa disadari, semua aktivitas di taman bacaan selalu menanamkan pikiran dan perilaku yang positif.

    Hampir semua yang saya lakukan di taman bacaan adalah perbuatan baik dan menjadi amal jariyah untuk orang lain. Hanya dengan menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran akhirnya bisa menekan angka putus sekolah anak-anak kampung dan memberantas buka aksara. Itulah yang saya sebut “lakukan apa yang bisa dengan apa yang dimiliki”. Saya, hanya bisa membimbing anak-anak yang membaca di rumah yang jadikan taman bacaan di kaki Gunung Salak Bogor. Sebuah akal sehat.

    Apa dampaknya di taman bacaan? Sangat besar dampak positifnya berada di taman bacaan. Selalu ada akal sehat, di samping jadi lebih ber-akhlak. Di taman bacaan, terlalu sulit untuk bisa membandingkan diri dengan orang lain. Di taman bacaan pula, saya mulai membatasi pergaulan yang tidak bermanfaat, termasuk grup-grup WA yang tidak berguna. Menjauh dari pertemanan yang “toxic”, terkesan berteman tapi beracun. Bahkan di taman bacaan pun saya mencoba dan memulai suatu yang baru, ber-inovasi dan meluaskan kreativitas untuk orang banyak. Segala sesuatu yang dilakukan di taman bacaan, insya Allah bermanfaat untuk orang banyak. Bukan hanya untuk kesenangan diri sendiri semata. Karena selalu ada akal sehat di taman bacaan, tentu dilandasi akhlak yang baik.

    Alhasil, saat berdiri 5 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka hanya menjalankan 1 program literasi yaitu taman bacaan. Dan kini setelah 5 tahun berdiri, ada 15 program literasi yang dikelolal. Mulai dari 1) TABA (TAman BAcaan) dengan 130 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) dengan 9 warga belajar, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) dengan 26 anak usia prasekolah, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim yang disantuni dan 4 diantaranya dibeasiswai, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 12 jompo usia lanjut, 6) TBM Ramah Difabel dengan 2 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 kaum ibu agar terhindar dari jeratan rentenir dan utang berbunga tinggi, 8) DonBuk (Donasi Buku), 9) RABU (RAjin menaBUng), 10) LITDIG (LITerasi DIGital) untuk mengenalkan cara internet sehat, 11) LITFIN (LITerasi FINansial), 12) LIDAB (LIterasi ADAb),  13) MOBAKE (MOtor BAca KEliling), 14) Rooftop Baca, dan 15) Berantas Buta Aksara Al Quran. Di dukung oleh 5 wali baca dan 12 relawan, TBM Lentera Pustaka beroperasi 6 hari dalam seminggu. Tidak kurang 200 orang pengguna layanan TBM Lentera Pustaka selalu berkumpul dan bersilatuahim setiap minggunya.

    Terbukti di taman bacaan, siapapun bisa lebih sehat lebih bijaksana. Saling menghormati dan menghargai dalam tata pergaulan di masyarakat. Asal orientasinya, memberi manfaat kepada sesama, Karena selalu ada akal sehat di taman bacaan. Entah di tempat lain, apa masih ada akal sehat itu? Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.