Koreografer Dian Anggraini Kritisi Lingkungan Lewat Dance Theater Tanah Keramat Telah Kiamat - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Sebuah pertunjukan yang mengkritisi tentang kerusakan lingkungan hutan dan alam yang selama ini dilakukan oleh manusia dikarenakan oleh keserakahan karya Koreografer Dian Anggraini

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Rabu, 11 Januari 2023 06:36 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Koreografer Dian Anggraini Kritisi Lingkungan Lewat Dance Theater Tanah Keramat Telah Kiamat

    Kritik ini dikemas dalam bentuk danceteater ini berusaha melakukan pembacaan terhadap kondisi alam pun hutan yang saat ini telah banyak rusak. Para pemain Cindi Novita Sari, Vanny Rahmaniar, Yustia Fitrianti, Fidiatun Astuti dengan bintang tamu penari kawakan Elly Luthan ini disutradarai Putra Agung . Konsultan artistic dengan konsultan artistik Asep Supriadi mengatakan pertunjukan ini mengedepankan konsepsi ritualistik seni yang bersifat sakral sekaligus profan

    Dibaca : 482 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) asal Bandarlampung tampil memukau dalam ajang Srawung Seni Sawah #2 di ), di Desa Triharjo, Tanjungbintang,  Kabupaten Lampung Selatan.

     Dalam helat tahunan yang digelar DAAL dance theater bertajuk : 'Tanah Keramat Telah Kiamat' karya koreografer Dian Angraini.

    Sebuah pertunjukan yang mengkritisi tentang  kerusakan lingkungan hutan dan alam yang selama ini dilakukan oleh manusia dikarenakan oleh keserakahan.

    Kritik  ini dikemas  dalam bentuk danceteater ini berusaha melakukan pembacaan terhadap kondisi alam pun hutan yang saat ini telah banyak rusak. Para pemain Cindi Novita Sari, Vanny Rahmaniar, Yustia Fitrianti, Fidiatun Astuti dengan bintang tamu penari kawakan Elly Luthan ini disutradarai Putra Agung . Konsultan artistic dengan konsultan artistik Asep Supriadi mengatakan pertunjukan ini mengedepankan konsepsi ritualistik seni yang bersifat sakral sekaligus profan

     Koreografer Dian Anggraini, menerangkan, karya ini akan dibawakan dengan konsep danceteater serta mencoba melakukan pembacaan terhadap kerusakan hutan, pembabatan pohon serta kehancuran lingkungan.

    "Kondisi kompleks lingkungan ini akan disajikan melalui konsepsi ritualistik seni yang bersifat ritus, sakral sekaligus profan," ujar Dian.

    Menurut Dian karya "Tanah Kermat Telah Kiamat" ini merupakan bentuk kepihatinan atas karena banyak hutan gundul karena ilegal logging atau pembabatan lahan untuk peruntukan kebun kepala sawit. Ini sebagian besar terjadi di Sumatera yang mengakibatkan banjir, dan kabut asap serta pemanasan global.

     Dian mengharapkan karya 'Tanah Keramat Telah Kiamat' mampu menggugah perasaan para penonton untuk lebih memperhatikan kondisi hutan dan lingkungan serta menjadi sebuah kesadaran yang bersifat kolektif.  Secara konsepsi karya ini didiskusikan selama empat bulan dan dilakukan pengolahan karya tari sekitar satu bulan.

    "Karya ini berdurasi sekitar tigapuluh menit  dimainkan oleh empat orang penari. berkolaborasi dengan maestro tari Indonesia, Elly Luthan. Nampaknya Ibu Elly Luthan terlibat dengan intens mengeksplorasi diri," paparnya.

    "Semoga karya 'Tanah Keramat Telah Kiamat' tidak sebatas menjadi karya seni dan lebih dari itu dapat memberi manfaat sehingga fungsi kesenian sebagai medium kritik sosial dapat terwujud," pungkasnya mengunci perbincangan .

    Elly Luthan usai pentas menilai karya Dian Anggraini "Tanah Keramat Telah Kiamat" ini sarat dengan idiom-idiom simbolik dan memiliki pesan moral yang kuat.

    Workshop Penciptaan Tari dan Musik

    Sebelumnya Kelompok seni DianArza Arts Laboratory (DAAL) akan menggelar workshop penciptaan karya tari dan musik pada 24 - 29 Desember 2022.

    Ketua pelaksana, Yopi Sanjaya, menerangkan workshop penciptaan karya tari dan musik akan berlangsung selama tiga hari serta mendatangkan narasumber yang berkompeten dibidang tari dan musik.

    Ditambahkannya, para peserta selain mendapatkan pengetahuan dari workshop akan langsung membuat karya tari dan musik, yang dikurasi serta dibimbing oleh lima orang dewan kurator yang profesional.

    "Workshop tari dan musik serta pertunjukan tersebut merupakan bagian dari program LAPAH. Program ini sudah yang keenam kalinya digelar dan untuk tahun 2022 ini mengusung tema : “tradisi mataair eksperimentasi," imbuh  Yopi.

     

    Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.