Diam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

sumber ilustrasi: kontan.co.id

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 12 Januari 2023 08:47 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Diam

    Ketika Evi bangun Rabu pagi, dia menyadari bahwa dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Berbaring di tempat tidur dengan suami mendengkur di sampingnya, dia memikirkan semua hal yang dia katakan kemarin kepada semua jenis manusia, dan menjadi sadar bahwa sebelum dia pergi tidur tadi malam, dia telah mengatakan hampir semua yang dia butuhkan untuk dikatakan tentang apa saja kepada siapa saja.

    Dibaca : 409 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketika Evi bangun Rabu pagi, dia menyadari bahwa dia tidak punya apa-apa untuk dikatakan.

    Berbaring di tempat tidur dengan suami mendengkur di sampingnya, dia memikirkan semua hal yang dia katakan kemarin kepada semua jenis manusia, dan menjadi sadar bahwa sebelum dia pergi tidur tadi malam, dia telah mengatakan hampir semua yang dia butuhkan untuk dikatakan tentang apa saja kepada siapa saja.

    Maka dia bangun dari tempat tidur, mandi, berpakaian, pergi ke dapur, membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan memakannya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada kucingnya yang sama sekali tidak terganggu oleh sikap diamnya.

    Dalam perjalanan keluar rumah, dia melewati kamar tidur dan mencium suaminya yang masih tidur yang menggumamkan selamat tinggal dan berguling melanjutkan tidurnya.

    Dia masuk ke mobilnya dan pergi ke pekerjaannya di Jasa Marga, dan tidak ikut menyanyikan lagu yang didengarnya dari radio seperti biasanya.

    Ketika dia tiba di tempat kerja, dia melewati ruang loker, masuk, mengambil kotak uangnya dan menuju ke loket tolnya yang biasa, dengan hati-hati melintasi jalur lalu lintas jam sibuk. Dia masuk untuk menggantikan petugas shift malam yang tersenyum lelah padanya saat dia menyerahkan beberapa lembar kembalian kepada seorang pengemudi yang lewat.

    Kebisingan mobil yang melewati mereka di kedua sisi selalu membuat pembicaraan menjadi sulit, tidak perlu kata-kata saat mereka bertukar kotak uang dan dia duduk di dekat jendela, melambaikan tangan dengan cepat saat rekan kerjanya pulang ke rumah.

    Dia kemudian melakukan rutinitasnya, menerima uang pembayaran, menghitung uang kembalian, mengembalikannya kepada pengemudi. Beberapa dari mereka menyapanya dan dia hanya tersenyum pada mereka, memberi kembalian, menekan tombol lampu hijau, dqan mereka segera pergi.

    Ketika para komuter yang sibuk berlalu, begitu pula pagi hari… benar-benar tidak ada alasan untuk mengucapkan sepatah kata pun, dan dia masih merasa tidak ada keinginan untuk memecah kebisuannya.

    Saat makan siang, dia duduk di ruang istirahat bersama tiga wanita yang biasa makan bersamanya. Mereka tenggelam dalam gosip tentang supervisor shift yang bercerai karena perselingkuhannya dengan salah satu pekerja loket tol.

    “Hai, Evi,” kata mereka, apakah kamu mendengar tentang Syauki?”

    Dia menggelengkan kepalanya dan membuka kotak makan siangnya, dan hanya itu yang diperlukan.

    Rekan-rekannya kembali ke kisah mereka yang semakin mesum, dan sepertinya tidak menyadari bahwa dia tidak pernah memberikan satu komentar pun. Hanya alisnya yang terangkat atau tatapan membelalak, atau gelengan kepala perlahan. Hanya itu yang diperlukan untuk menahannya di meja percakapan.

    Segera, dia kembali ke gerainya, dan sore hari berlalu dengan cepat. Bisingnya dunia berputar-putar di sekelilingnya dan dia masih tidak merasakan dorongan untuk berbicara.

    Dalam perjalanan pulang setelah bekerja, dia bahkan tidak menyalakan radio. Kemudian, dia sedang memotong wortel untuk makan malam ketika suaminya pulang kerja. Dia masuk ke dapur dan meletakkan tas kerjanya di atas meja. “Sayang, masak buat makan malam?”

    Dia berhenti dan hanya memberinya tatapan yang berarti, “Tidak, aku sedang membangun roket ke Mars … Apa tidak lihat kalau aku sedang apa?”

    Suaminya tertawa, dan segera meluncurkan kisah biasa tentang harinya sendiri, dan sekali lagi Evi kagum pada dirinya sendiri, bagaimana pertukaran komunikasi dari sisinya sendiri malam itu benar-benar tidak memerlukan masukan verbal sama sekali.

    Makan malam berlalu dengan cepat sambil suaminya melanjutkan berbicara tentang dunianya, dan setelah itu menonton TV di ruang keluarga seperti biasanya, sementara Evi membereskan dapur.

    Dia kemudian duduk di samping suaminya di sofa sebentar. Suaminya memeluknya dan mereka menonton episode komedi situasi.

    Yang dia perhatikan bahwa para aktornya hampir tidak bergerak, hanya berkata-kata. setnya bahkan tak terlihat istimewa. Ceritanya sepenuhnya tentang apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka mengatakannya.

    Setelah selesai, Evi bangun dan mencium kening suaminya lalu naik ke tempat tidur. Suaminya menyusul sekitar satu jam kemudian, dan Evi terbangun saat dia mencium pipinya dan kemudian berguling untuk tidur.

    Ketika dia berbaring di sana, menunggu kantuk kembali membawanya ke alam mimpi, dia memikirkan pencapaian hari itu, bahwa tampaknya tidak ada yang memperhatikan kesunyiannya. Bahwa tidak ada yang membutuhkannya untuk mengatakan apa-apa, dan dia memiliki perasaan. bahwa ketika besok tiba, dia akan banyak bicara tentang hal itu.

     

    Bandung, 12 Januari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.