Keterlibatan Perempuan Mengatasi Kemiskinan dengan Bisnis Tempe - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Rumah produksi tempe

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Senin, 16 Januari 2023 19:07 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Keterlibatan Perempuan Mengatasi Kemiskinan dengan Bisnis Tempe

    Kelompok Usaha Tempe Desa Gara, Senin (9/1/2023) berkunjung ke tempat usaha tempe milik Noldy Batung, seorang pengusaha muda sukses di kampung Null, Desa Poco Lia, Kecamatan Lamba Leda Timur, Manggarai Timur. Kegiatan kunjungan belajar bisnis ini merupakan tidak lanjut dari komitmen kerjasama Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss dengan Pemerintah Desa Gara.

    Dibaca : 493 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Proses belajar : Keterlibatan perempuan untuk mengatasi kemiskinan melalui bisnis tempe

     


    Kelompok Usaha Tempe Desa Gara, Senin (9/1/2023) berkunjung ke tempat usaha tempe milik Noldy Batung, seorang pengusaha muda sukses di kampung Null, Desa Poco Lia, Kecamatan Lamba Leda Timur, Manggarai Timur. Kegiatan kunjungan belajar bisnis ini merupakan tidak lanjut dari komitmen kerjasama Yayasan Ayo Indonesia-Missionprokur SVD Swiss dengan Pemerintah Desa Gara.

     
    Peserta kunjungan belajar berjumlah 10 orang, terdiri dari 7 orang ibu-ibu anggota kelompok usaha tempe Gara, dan 3 orang dari Kelompok Disabilitas Desa (KDD) Desa Terong.

    Yohanes Mario Nombo, Kepala Desa Gara yang memfasilitasi kunjungan belajar bisnis tersebut mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini, adalah untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan peserta belajar terkait proses produksi tempe, pengelolaan usaha, pemasaran dan menambah kepercayaan diri ibu-ibu agar mereka fokus pada usaha tempe, sebab usaha ini sangat menjanjikan, peluang pasarnya cukup besar. Selain itu, mereka juga belajar tentang bagimana cara mengelola mental ketika menghadapi situasi sulit, dimana hasil penjualan tidak mencapai target.
     
     
     
    Pengelolaan usaha yang mau dipelajari selama kunjungan belajar bisnis ini, jelas Yohanes,berkaitan dengan hal administrasi (buku kas), misalnya dalam bentuk pencatatan pembelanjaan bahan baku untuk produksi, jumlah pemasukan, dan perhitungan untung rugi (analisis usaha).
     
    Peserta belajar bisnis tempe dari desa Gara sedang belajar cara fermentasi kedelai dengan menggunakan ragi


    “Selaku pemerintah desa saya berharap ibu-ibu peserta kunjungan belajar bisnis semakin termotivasi untuk terus memproduksi tempe, menerapkan apa yang sudah didapat dari noldy dan terus berproduksi. Saya yakin ibu-ibu ini akan sukses dalam mengembangan usaha kelompok, sebab potensi yang terlihat selama ini, mereka sangat disiplin, kreatif, kompak dan punya kemauan untuk belajar.“ Ungkap Yohanes yang dikenal oleh warga desa Gara sebagai kepada desa penggerak dan serius melakukan pemberdayaan ekonomi.

     
    Di sela-sela kegiatan kunjungan belajar bisnis tersebut, Bibiana Pia, salah satu peserta menyampaikan terima kasih dan ungkapan rasa hormat kepada noldy yang telah bersedia menerima dia dan teman-temannya dari desa Gara untuk belajar usaha tempe. “Keberhasilan Noldy dan isterinya mengembangkan usaha tempe sejak tahun 2016 memberi semangat bagi kami untuk tekun dalam berbisnis dengan memproduksi tempe konsisten setiap hari. Kehadiran kami di sini, yang diterima dengan ramah oleh noldy, isterinya dan 4 pekerja, tentu akan menambah pengalaman (keterampilan) kami tentang cara memproduksi tempe yang baik. Selama sehari kami diajarkan atau ditujukkan cara menggiling kedelai, mencampur ragi, memasukan kedelai ke dalam plastik packing dan cara menempatkan tempe pada rak fermentasi,“ujarnya.

    Para peserta belajar menyaksikan cara penggilingan kedelai di tempat produksi tempe milik Noldi di Kampung Null, Desa Poco Lia, Manggarai Timur


    Noldi pada kesempatan itu, kepada para peserta kunjungan menceritakan pengalamannya dalam berbisnis mulai dari proses produksi dan pemasaran tempe secara gamblang. Setiap hari , cerita Noldi, isterinya bersama 4 orang perempuan, pekerja dibagian produksi mengolah 50 kg kedelai untuk memproduksi 1.000 lempeng tempe. Keempat pekerja tersebut diberi upah Rp 600,000 per bulannya dan ekstra makan siang. Sedangkan dibagian pemasaran, dia mempekerjakan 6 orang muda dengan menggunakan kendaraan roda melakukan penjualan keliling ke beberapa kecamatan, area pemasaran produknya, tidak hanya di Manggarai Timur tetapi di Kabupaten Manggarai juga. “Mereka masing-masing diberi upah harian sebesar Rp 100.000 per orang, akan tetapi jika mereka berhasil menjual melampaui target penjualan maka mereka berhak mendapat upah (insentif) sebesar Rp 150.000/hari,“kata Noldy.

     
    Noldy berharap agar peserta balajar bisnis tekun berusaha tempe, jangan berhenti berproduksi dan dia mengatakan dengan penuh rasa kebersamaan bersedia membantu cara memproduksi tempe yang berkualitas dan strategi pemasaran jika diperlukan,supaya kesejahteraan anggota kelompok tempe tercapai, sebab dalam bisnis sangat penting membangun kemitraan atau bekerja sama.

     
    Kelompok Tempe Gara dibentuk atas inisiatif kepala Desa Gara pada bulan Juni 2022, bertujuan, mendorong ibu-ibu yang dianggap kelompok rentan untuk mengambil peran ekonomi dalam rumah tangga sehingga pendapatan keluarga meningkat dan mereka juga tidak hanya bergantung pada penghasilan suami. Program pemberdayaan ekonomi bagi ibu-ibu yang sangat mendesak dan prioritas ini guna mengatasi persoalan kemiskinan, ungkap Yohanes, dianggarkan dalam kebijakan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) Desa Gara Tahun 2022 dengan mengacu kepada Permendesa PDTT nomor 7 tahun 2021 tentang prioritas penggunaan dana desa Tahun 2022. Kurang lebih 20 persen Dana desa tahun 2022 dialokasi untuk program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang bersifat inklusi, khususnya ibu-ibu untuk mengatasi persoalan kemiskinan, pemulihan ekonomi, ketahanan pangan dan memperbaiki gizi keluarga.

    Kelompok Usaha Tempe Desa Gara sedang melakukan proses fermentasi


    Sejak dibentuknya kelompok usaha tempe ini,telah berhasil memproduksi 150 lempeng tempe setiap hari yang dikerjakan secara bersama-sama oleh 15 orang ibu-ibu dan dipercayakan kepada 2 orang anak muda dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk menjual tempe-tempe tersebut ditambah dengan tomat kepada para konsumen di sekitar wilayah Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Omset penjualan per bulan mencapai 10 juta rupiah. Ke depan,kata Yohanes, yang menjadi pekerjaan rumah adalah soal penyediaan peralatan untuk proses produksi supaya produktifitas meningkat dan omset juga menjadi besar sehingga kebutuhan keuangan dari masing-masing anggota terpenuhi.

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.