Kiamat Telah Tiba (113): Asteroid dari Orion - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 17 Januari 2023 17:36 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (113): Asteroid dari Orion

    Mereka semua duduk di tempat yang tampaknya tidak ada apa-apanya, melihat ke bawah dengan pandangan yang tidak terputus ke Bumi, dan ke atas menuju bintang-bintang yang tak berkedip. Asteroid itu telah terlihat dengan mata telanjang, di Orion, selama dua puluh menit terakhir dan semakin membesar.

    Dibaca : 274 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Beau, Boris, Vivienne, Solange, Blanc, Elena, Lacroix, Mireille, dan Jules duduk diam di kapal penjelajah bintang di batas atmosfer dengan kehampaan ruang angkasa.

    Bintang-bintang Orion bersinar terang dan jelas di atas mereka kami.

    “Lima, empat, tiga, dua, satu ...,” Beau menghitung mundur.

    Satu detik berlalu sebelum misil-misil itu meledak dengan cahaya yang menyilaukan.

    “Berapa lama sampai kita tahu apakah itu berhasil?”Jules membuka pertanyaan.

    “Kalau pembelokannya gagal,” jawab Beau, “asteroid itu akan meluncur ke atmosfer bumi dalam waktu sekitar satu jam.”'

    “Jadi kita akan tahu,” kata Mireille, “apakah kehidupan di Bumi akan terus berlanjut atau musnah.”

    Jules menoleh ke arah Lacroix. "Bagus untuk Christian," katanya. “Kalau dia tidak sampai ke starcruiser, kita akan terjebak di hutan dan terlambat untuk memulai peluncuran. Kamu mungkin baru saja menyelamatkan dunia,”' kata Jules padanya.

    Saat mengucapkan kata-kata itu, Jules merenungkan ketidakpastian yang masih tersisa tentang hasil ledakan rudal. “'Apakah Gamma masih seorang vikaris gereja?” dia bertanya pada Lacroix.

    "Kami," jawab Christian. 'Atau lebih tepatnya, saya. Sesuatu terjadi hari ini sehingga tidak ada waktu untuk dibicarakan. Entah bagaimana, Gamma bertemu Beta dan mereka semua bergabung dengan Alpha. Saya dapat mengingat semua yang telah terjadi.”

    Dia berhenti seolah-olah sedang berpikir keras. “Mereka semua adalah bagian dari diri saya. Saya ingat apa yang dikatakan Mireille tentang seluruh urusan ini yang mengeluarkan bagian-bagian dirinya yang tidak pernah dia ketahui ada di sana. Saya juga ingat apa yang dikatakan Jules tentang membiarkan Tuhan mendefinisikan dirinya bagi saya, daripada menciptakan tuhan saya sendiri. Saya sekarang dapat mendamaikan semua kontradiksi saya menjadi satu kepribadian, dan ya, saya masih seorang pendeta. Mengapa Anda bertanya?”

    “Aku tidak ingin mengacaukan apa yang menjadi hari yang cukup baik sejauh ini,” jawab Jules, “tetapi kita masih berada dalam satu jam terakhir kehidupan di Bumi. Jika itu masalahnya, aku ingin menikah dengan Mireille sebelum kita semua pergi.”

    “Bukan masalah,” kata Lacroix, “Aimee dapat menunjukkan dokumen yang relevan, dan ada cukup banyak saksi di sini.”

    "Ada sesuatu yang ingin kukatakan," sela Mireille. “Aku optimis tentang semua ini. Aku pikir kita semua akan berhasil. Pada saat itu, hidup tidak akan pernah sama lagi. Aku tidak bisa kembali ke kehidupan sehari-hari di Outreau. Terlepas dari masalah praktis untuk mengintegrasikan kembali ke dalam masyarakat tempat aku baru saja terlibat dalam baku tembak, dan dalam menghancurkan hutan wisata dengan pesawat ruang angkasa proyek hitam Amerika, Perkumpulan Wanita Outreau mungkin takkan gampang dijinakkan. Vivienne memberi penawaran peran di DGSI jika kita berhasil, dan aku menerimanya."

    Mireille menatap Jules, menunggu reaksinya.

    Vivienne menyela,: “Sebenarnya, akan ada pekerjaan untuk kalian semua di DGSI. Bukan karena telah menyelamatkan dunia. Faktanya, seperti yang dikatakan Solange kepada Anda semua, beberapa penugasan di antaranya cukup membosankan. Ini berbeda.”

    “Sejujurnya, aku mulai bosan dengan masa pensiunku,” kata Jules sambil menoleh ke arah Mireille. “Apa pun yang kamu inginkan aku takkan keberatan. Maukah kamu menikah deng’nku’”

    “'Ya,” jawab Mireille sambil tersenyum. “Aimee,” lanjutnya, “bisakah kamu mengubah tempat ini terlihat lebih seperti kapel?”

    Dek penerbangan berubah menjadi kapel batu yang menawan. Sinar matahari virtual mengalir dari jendela imajiner lengkap dengan balok marmer berdebu.

    “Bisakah kita membuat upacara pernikahan ganda?” tanya Blanch.

    “Kamu berbicara dengan siapa?” ​​tanya Jules.

    “Pertama, Solange,”' jawab Blanch, “untuk kesepakatan prinsip, dan kemudian Christian untuk kepraktisan.”

    "Ya," jawab Solange.

    “Saya setuju saja,” balas Lacroix.

    ***

    Dek penerbangan Starcruiser Two telah kembali ke mode transparan.

    Mereka semua duduk di tempat yang tampaknya tidak ada apa-apanya, melihat ke bawah dengan pandangan yang tidak terputus ke Bumi, dan ke atas menuju bintang-bintang yang tak berkedip.

    Asteroid itu telah terlihat dengan mata telanjang, di Orion, selama dua puluh menit terakhir dan semakin membesar.

    Apa pun hasilnya, mereka memiliki kursi terbaik untuk menonton.

    Mereka semua menyaksikan dalam diam saat batu besar itu mulai menyala kemerahan karena bersentuhan dengan tepi atmosfer di atas mereka.

    Kemudian, muncul cahaya kuning yang mengelilingi inti biru yang membuntuti di belakang asteroid. Jules berharap untuk mendengar bunyi, tetapi tidak ada apa-apa selain sunyi.

    Dia meremas tangan Mireille. Kami saling memandang dan kemudian melihat ke atas saat bola api melewati mereka, cerah dan terang benderang.

    Akhirnya Beau berbicara, “Kalian melihat?” katanya sambil menunjuk ke arah asteroid. “Jarak antara asteroid dan kurva Bumi semakin besar.”

    Tidak ada yang menjawabnya.

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.