Bandara - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: hodinkee.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 18 Januari 2023 07:46 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bandara

    Aku menyadari bahwa aku terlalu banyak bepergian pada hari aku membersihkan bandara, seakan-akan kamar tidurku. Tanpa sadar aku mengambil kartu langganan yang terlepas dari majalah, mengumpulkan koran bekas, cangkir soda plastik kosong, dan membuangnya ke tempat sampah. Hei, ini gate keberangkatanku. Aku ingin terlihat bersih dan bagus.

    Dibaca : 270 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku menyadari bahwa aku terlalu banyak bepergian pada hari aku membersihkan bandara, seakan-akan kamar tidurku.

    Tanpa sadar aku mengambil kartu langganan yang terlepas dari majalah, mengumpulkan koran bekas, cangkir soda plastik kosong, dan membuangnya ke tempat sampah.

    Hei, ini gate keberangkatanku. Aku ingin terlihat bersih dan bagus.

    Pengumuman dari speaker bandara yang diutarakan dengan sopan terasa sangat menyenangkan dan menenangkan. Tanda amaran yang rapi, informasi gerbang yang berganti-ganti, trotoar berjalan, kereta troli minimalis. Anonimitas, embusan udara segar.

    Mengapa begitu banyak orang mengeluh tentang bandara? Seberapa sulit, sih, menunjukkan KTP?

    Beberapa minggu yang lalu, aku cukup lama berada di Hasanuddin untuk mencoba lounge tidur.

    Aku tahu lokasi semua gerai makanan waralaba di Soetta seperti aku tahu rasa kopi sanger kafe-kafe seputaran Sultan Iskandar Muda. .

    Aku suka terowongan menuju Changi dan kios penjual cendera mata Air Asia di Sepang. Aku pernah menyikat gigi dengan jari di Sultan Babullah karena tidak menjual sikat gigi.

    Aku tahu rumah makan bandara mana di seluruh negeri yang menyajikan nasi rawon atau soto betawi terbaik, es krim vanila atau yogurt beku cokelat yang paling lezat.

    Aku punya koleksi potret lantai karpet dan ubin.

    Aku suka menyatukan berbagai kepingan teka-teki, membayangkan kehidupan.

    Ke mana orang-orang ini pergi? Begitu banyak anak bepergian sendirian.

    Sebagai frequent flyer, besok aku bisa saja menjadi pramugara tanpa pelatihan. Bukan bermaksud menghina profesi pramugari slash pramugari, pasti mereka melakukan banyak hal penting yang tidak pernah kita lihat, tetapi aku mempu mengucapkan instruksi keselamatan dengan dengan sempurna dan kadang-kadang, setelah menyajikan minuman di rumahku sendiri, aku berjalan dengan kantong sampah dan senyum muram.

    Memang benar bahwa di semua sisi di setiap pintu keluar gate, laki-laki dan perempuan yang panik memasang mode pesawat ke ponsel. Segera mereka akan dikutuk untuk hidup selama dua jam penuh tanpa menelepon siapa pun. Ini sulit bagi mereka.

    Tidak ada bedanya apakah aku menuju ke Singapura, Sidney, Tokyo, atau Balikpapan, bandara adalah rumah kedua yang penuh harapan, perjalanan yang menyenangkan, saat kamu bisa menjadi siapa pun yang pernah menghirup udara di dalamnya.

     

    Bandung, 18 Januari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.