Kilas Balik Munculnya Liga Basket Nasional di Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Melihat sejarah berkembangnya liga basket nasional.

Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Kamis, 19 Januari 2023 11:52 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Kilas Balik Munculnya Liga Basket Nasional di Indonesia

    Olahraga merupakan sebuah wadah bagi manusia untuk mengeksplorasi pengalaman geraknya. Dengan berolahraga kita akan menjadi bugar serta memperbaiki kualitas hidup menjadi lebih baik. Salah satu olahraga yang digemari di Indonesia adalah Bola Basket.

    Dibaca : 219 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         Permainan bola basket pada zaman sekarang ini banyak sekali peningkatan dan semakin banyak digemari oleh masyarakat, khususnya di Indonesia bahkan telah menjadi trend setter bagi kalangan remaja-remaja. Walaupun bola basket adalah olahraga untuk kalangan muda dengan mayoritas pemain adalah kaum pria, namun sekarang bola basket juga dimainkan oleh wanita dan anak-anak yang akan menginjak masa remaja serta dari segala usia dan ukuran tubuh bahkan oleh mereka yang cacat fisik. Dikalangan pelajar baik itu dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas bahkan tingkat Mahasiswa permainan bola basket banyak digemari.

         Bola basket ditemukan pada Desember 1891 oleh Dr. James Naismith, seorang anggota Sekolah Pelatihan YMCA di Springfield, Masschusetts (sekarang dikenal dengan nama Springfield College). Naismith merancang bola basket sebagai jawaban atas tugas yang diberikan oleh Dr. Luther Gulick, direktur Departemen Pendidikan Fisik, yang menugaskan untuk membentuk suatu permainan seperti sepakbola atau lacrosse yang dapat dimainkan dalam ruangan selama musim dingin (Hal Wissel,2000)

          Permainan bola basket memerlukan kerja sama tim dan keterampilan individu yang didalamnya terkandung unsur-unsur yang sangat diperlukan bagi pemain bola basket itu sendiri. Unsur-unsur tersebut yaitu, kekuatan, kecepatan, ketepatan, daya tahan, daya ledak, keseimbangan, dan sebagainya. Sedang untuk keterampilan skill, pemain itu sendiri harus menguasai teknik dasar dari bola basket yakni, mengoper (passing), menembak (shooting), menggiring (dribble) dan merajah (rebound). Kosasih (2008) mengatakan bahwa dewasa ini permainan bola basket menjadi olahraga yang paling berkembang pesat di dunia.

          Anon (1991:198) menjelaskan tentang beberapa faktor yang mempengaruhi permainan ini, yaitu: (1) Bola basket adalah jenis permainan yang mudah dipelajari, tetapi tidak pernah dapat dikuasai dengan sempurna, (2) Tempat bermain dapat dilakukan dilapangan berumput atau lapangan terbuka atau dalam ruangan tertutup atau gedung olahraga, (3) Masing-masing regu hanya memerlukan 5 orang pemain, bahkan di halaman rumah dengan memasang satu ring basket di garasi atau tembok permainan ini dapat dilakukan, (4) Jenis olahraga ini menuntut perlunya melakukan latihan yang baik sekali dalam membentuk kerjasama, dan (5) Penonton dapat melihat banyak hal, melalui tembakan yang bervariasi, penguasaan bola yang mempesonakan, terobosan yang fantastik, penuh tipu daya dan silih berganti yang terjadi antara regu satu dengan lawannya

           Tanggal 3 April 1982 menjadi hari bersejarah untuk basket Indonesia, seiring bergulirnya Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama) untuk kali pertama. Namun, ketika itu, hanya ada dua peserta, yakni Rajawali Jakarta dan Semangat Sinar Surya Yogyakarta. Sekaligus jadi awal dari munculnya klub-klub papan atas Indonesia. Indonesia Muda (IM) menjadi juara edisi pertama Kobatama dan menjelma sebagai tim terkuat pada tahun-tahun awal munculnya Kobatama. Halim Kediri jadi rival utama.Peta persaingan berubah usai munculnya ASABA Jakarta. Klub yang kemudian berganti nama menjadi ASPAC Jakarta dan terakhir, Stapac Jakarta, mencuri perhatian. 

             ASABA menjadi klub basket terbaik pada 1988 dan 1989. Namun, saat itu, klub milik Irawan Haryono tersebut gagal membuat sebuah dinasti. Pelita Jaya Jakarta sukses merebut gelar juara berturut-turut, masing-masing pada edisi 1990 dan 1991-1992, Tapi setelah itu, ASABA kembali meraih gelar pada 1993.

    Sistem Sirkuit dan Pemain Asing

          Pada 1994, Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) memberlakukan sistem sirkuit di Kobatama. Pola inilah yang akhirnya digunakan sampai sekarang. Setiap klub menjalankan musim kompetisi dengan berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Hal itu membuat Kobatama makin semarak.

           Pada era ini, setiap venue pertandingan Kobatama selalu dipadati penonton. Gengsi makin meningkat saat klub boleh memakai pemain asing pada 1995. Sayang, karena kondisi ekonomi yang tak menentu usai tumbangnya Orde Baru, penggunaan pemain asing disetop setelah Kobatama 2000.

         Adapun pada medio ini, Panasia Indosytec Bandung dan Aspac Jakarta secara bergantian keluar sebagai juara basket nasional. Panasia Indosytec Bandung menggenggam trofi juara pada 1994, 1997, dan 1998. Sedangkan Aspac merajai 1995 dan 1996.

           Pada 1999, muncul Satria Muda Jakarta yang dibeli oleh Erick Thohir dari Dudi Gambiro. Dan, langsung meraih gelar Kobatama pada musim tersebut. Menariknya, capaian itu didapat Satria Muda Jakarta usai terpuruk pada Kobatama 1998 hingga menempati posisi juru kunci.

           Aspac kemudian menjuarai Kobatama 2000 hingga 2002. Namun, Satria Muda jadi kompetitor utama dengan menantang klub tersebut du final 2001 dan 2002.

    Era IBL

          Usai berakhirnya era Kobatama, 2002, muncul keinginan kuat dari insan basket Tanah Air untuk membentuk sebuah kompetisi yang lebih mandiri dan profesional. Lalu, pada 2003, muncul Indonesian Basketball League (IBL). Ini adalah kali pertama pengelolaan kompetisi basket diserahkan ke operator independen. 

            Indonesian Basketball League merupakan kompetisi bolabasket proffesional yang dinaungi PERBASI. Kompetisi bolabasket pertama di Indonesia dimulai pada 3 April 1982 dengan nama Kompetisi Bola Basket Utama (Kobatama) yang sekaligus langkah awal sejarah panjang kompetisi klub-klub papan atas di Indonesia. Setelah bergulir selama 20 tahun, Kobatama mendapatkan kesempatan untuk berjalan lebih mandiri. Tahun 2003, Kobatama “terlahir kembali” dengan nama Indonesian Basketball League (IBL) dan di ikuti oleh 10 tim papan atas di Indonesia. Pada tahun 2010 IBL berganti nama menjadi NBL (National Basketbaal League) dan kembali menjadi IBL lagi pada 2015 sampai sekarang.

                Dunia Bola Basket Nasional memiliki cerita yang sangat menarik untuk dibahas. Dalam perjalanannya perbasketan Indonesia berbagai masalah pengelolaan Liga Profesional mulai melanda dari tahun 1985 hingga pada tahun 2000 an awal. Isu adanya pengembangan dan permasalahan sponsor juga tidak luput dari permasalahan tersebut. Pada Akhirnya IBL yang ditangani langsung oleh PERBASI pada tahun 2015 membuat pihak-pihak pelaksana kegiatan menjadi antusias karena dengan dikelola langsung oleh pemerintah pusat. Mutu dan Kualitas liga akan lebih terjamin bagi masyarakat maupun pemain,ofisial pertandingan.

     

    Ikuti tulisan menarik Firmanda Dwi Septiawan firmandads@gmail.com lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.