Tempa Besi Ketika Panas - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 19 Januari 2023 18:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tempa Besi Ketika Panas

    Dalam bahasa Prancis ada peri bahasa Il faut battre le fer pendant quil est chaud. Sedangkan dalam bahasa Inggris Strike while the iron is hot. Artinya tempa besi ketika panas. Apa maksudnya? Silahkan baca terus.

    Dibaca : 359 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tempa Besi Ketika Panas

    Bambang Udoyono

     

    Dalam bahasa Prancis ada sebuah periabhasa demikian. Il faut battre le fer pendant qu'il est chaud.  Artinya kita harus menempa besi ketika panas.  Dalam bahasa Inggris ada juga peri bahasa serupa itu.   Strike while the iron is hot.  Artinya sama. Apa maksudnya?

     

    Peribahasa itu adalah anjuran agar kita tidak membuang kesempatan emas yang datang.  Sebab peluang emas itu datang hanya dalam waktu tertentu. Tidak selamanya ia tersedia.  Jadi kalau kita menunda dan tidak segera memanfaatkannya maka kesempatan itu bisa lewat.

     

    Sejatinya peri bahasa ini bisa berlaku untuk banyak bidang.  Dalam bisnis, politik, olah raga, militer,  dalam kehidupan pribadi dll. Dalam berbagai bidang tersebut kesempatan sering datang secara tak terduga.  Tidak jarang kita melihat peluang tapi sayangnya kita sedang tidak siap memanfaatkannya. 

     

    Dalam bidang olah raga misalnya. Saya sering melihat dalam sepak bola atau bulu tangkis.  Tidak jarang seorang pemain  mendapat kesempatan ketika lawan sudah tak berdaya.  Kiper lawan sedang lengah misalnya, atau pebulutangkis lawan memukul bola tanggung. Kemudian pemain kita menyerang dengan terburu buru. Bukan angka yang didapat tapi justru kegagalan.

     

    Tapi kali ini saya ingin memaknai peri bahasa ini dalam perspektif parenting.  Sebagai orang tua kita bisa memaknainya dengan memanfaatkan masa muda anak anak kita untuk membentuk karakter dan kompetensinya.

     

    Dalam konteks parenting, pakailah kesempatan ketika anak anak masih kecil untuk membentuk mental dan karakter mereka agar positif.  Menundanya tidak akan berhasil baik karena karakter terbentuknya pada lima tahun pertama.

     

    Masa kanak kanak adalah  saat terbaik menanamkan kebiasaan baik untuk membentuk karakter baik.  Jadi untuk membentuk muslim yang baik orang tua harus memimpin solat, puasa, memberi contoh bayar zakat, infak, sedekah  dll.

     

    Anak kecil memang belum wajib puasa tapi biasakan dulu puasa bedug. Puasa bedug adalah puasa setengah hari.  Biasakan mereka di bulan ramadhan ikut makan sahur. Lalu setelah duhur mereka boleh berbuka. Setelah itu berpuasa lagi sampai magrib. Ajak mereka solat traweh, dan segala ibadah ramadan.

     

    Sekitar usia lima tahun mereka sudah biasa diajak puasa bedug.  Tujuannya untuk melatih mereka berpuasa. Jadi ada baiknya. Setelah mereka dewasa agar mereka tidak kaget ketika puasa seharian.

     

    Kebiasaan yang ditanamkan sejak masa kecil itulah yang akan mereka bawa sampai dewasa. Jika orang tua menunggu setelah mereka SMP baru diajari solat dan diajak berpuasa maka kemungkinan besar mereka akan enggan melakukannya. Sebab mereka sudah terbiasa tidak melakukannya.

     

    Ibarat besi yang sudah dingin. Dia sudah keras lagi.  Jadi kita harus menempa besi selagi panas.  Sebagai orang tua kita harus mulai mendidik dan membentuk karakter anak anak sejak mereka kecil. Sebab masa lima tahun pertama adalah masa pembentukan karakter mereka.  Dan jangan lupa di jaman kekinian ini karakter adalah lebih penting daripada ketrampilan. Idealnya tentu anak anak kita karakternya baik dan kuat serta kompetensinya tinggi.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.