Bara Sekam Harga Beras - Analisis - www.indonesiana.id
x

Nur Ardianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Desember 2022

Jumat, 20 Januari 2023 13:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bara Sekam Harga Beras

    Entah apa yang salah, meskipun pemerintah telah mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton dan 178 ribu ton telah masuk ke Indonesia, namun harga beras tetap naik tinggi. Tingginya harga beras dipasaran semakin menambah daftar panjang derita rakyat. Entah mengapa di Negeri ini, waktu ke waktu hari ke hari ada saja harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi.

    Dibaca : 217 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Entah apa yang salah, meskipun pemerintah telah mengimpor beras sebanyak 500 ribu ton dan 178 ribu ton telah masuk ke Indonesia, namun harga beras tetap melambung tinggi.  Tingginya harga beras dipasaran semakin menambah daftar panjang derita rakyat. Entah mengapa di Negeri ini, waktu ke waktu hari ke hari ada saja harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Stabil harga minyak goreng, harga cabe naik, stabil cabe, beras melejit seolah -olah ada satu mata rantai yang misterius dibalik naik dan melejitnya harga-harga komoditas pangan itu.

    Contoh kecil saja, beras, yang nyata-nyata dan harusnya pasar dibanjiri beras impor harga malahan melambung. Sangat tidak sesuai dengan teori ekonomi, dimana harusnya stok melimpah harga beras turun. Kemana beras ribuan ton yang diimpor ttersebut? Nanti akan ada segudang alasan yang dikemukakan. Yang jelas-jelas dirugikan adalah rakyat kecil yang daya belinya sudah terhimpitt pasca kenaikan BBM. Harga beras premium yang mencecah 17 ribu dan harga beras kualitas mediaum 13 ribu satu kilo jelas saja meresahkan masyarakat. Penjelasan BULOG yang mengatakan beras langka karena belum musim panen raya, juga menmbulakn pertanyaan, beras yang diimpor kemarin bukankah juga karena masa panen belum tiba?

    Menurut Bank Dunia, beras Indonesia termahal se Asean. Sebagai negara yang pernah menjadi negara agraris, negara ini tidak berhasil melakukan reformasi pertanian dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand. Bisa jadi mahalnya harga beras Indonesia dibandingkan negara-negara Asean lain, karena Indonesia yang sudah menjadi negara importir beras. Seandainyas saja panen berkelimpahan, tentu saja harga beras akan murah karna bagaimanapun beras impor membutuhkan ongkos yang besar untuk sampai ke Indonesia yang kemudian akan mempengaruhi harganya ketika sudah dilempar dipasaran, 

    Melihat mahalnya harga beras, sudah saatnya kita yang tinggal di deerah untuk  mulai menjadi petani mandiri. Membeli tanah unuk dijadikan sawah dan menanam padi untuk kebutuhan sendiri. Kalau kebanyakan orang berpikir begitu, harga beras dipasaran mungkin akan lebih sering stabil dibanding menggila. Masih banyak orang Indonesia yang tinggal dekat-dekat dengan persawahan walaupun bukan petani. Sudah saatnya gerakan menjadi petani diwaktu senggang digalakan dimana-mana. Sukur-sukur bisa dijual ketika panen melebihi kebutuhan kita. Dengan demikian, harga beras yang melonjak tinggi, tidak akan menjadi beban untuk kebanyakan masyarakat. 

    Kita hanyalah masyarakat yang bukan pengambil kebijakan dan hanya bisa merasakan dampak kebijakan. Oleh karena itu, kita bisa menbalikan keadaan dengan menjadi petani mandiri. Walupun kedengaranya mustahil, tapi bisa dilihat, berapa penduduk yang berdomisili di desan dan sekitar desa? semua orang bisa diberdayakan untuk menjadi petani. Ide yang tidak terlalu buruk untuk sebuah perubahan. 

    Ikuti tulisan menarik Nur Ardianti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.