Aku Cinta yang Patah - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Aku Cinta yang Patah Ni Wayan Wijayanti Cerpen

NI WAYAN WIJAYANTI | CERPEN

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 November 2021

Sabtu, 21 Januari 2023 07:21 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Aku Cinta yang Patah

    "Iya, kau cemburu. Tapi cemburu pada seseorang yang bahkan tidak kau miliki..."

    Dibaca : 231 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Binar matamu hari ini terlihat lebih bersinar dibanding yang lain. Aku tahu jelas akan hal itu. Kau begitu bersemangat menatap dirinya. Rasa-rasanya kemarin kamu masih memandang anak laki-laki itu dengan biasa saja. Tapi kali ini pandanganmu berbeda.

    Menurutku kau termasuk cantik. Secara fisik bisa kusebut kau idaman. Perawakan tinggi ramping, kulit putih, hidung mancung, dan rambut kecoklatan yang sering kau kucir dengan asal. Sangat pantas disandingkan dengan pujaanmu itu.

    Hanya saja kau jarang mau keluar kelas. Hingga tak seorang pun mengenalmu selain teman-teman di kelas. Mungkin sebaiknya kau kurangi rasa malu agar dunia bisa lebih melihat sosokmu, sebagai gadis cantik dengan hati yang baik dan tulus.

    Entah sejak kapan aku tumbuh di hatimu. Mungkin malaikat cupid telah berhasil menggetarkan panahnya tepat di jantung. Tetapi entahlah, apa panah yang sama juga dia lontarkan ke hati pujaanmu itu?

    Kalian masih bercakap dalam diam. Saat melewatinya menuju bangku aku bisa melihat bibir tipismu bergetar. Seolah memberanikan diri menyapa laki-laki itu yang tak lain adalah teman sekelas sendiri yang duduk tepat di depanmu.

    Tetapi sepertinya bibirmu kelu. Tak sepatah suara pun aku dengar keluar dari sana. Kau terus mencoba menyapa. Namun bel yang masuk berdering, membuatmu urung dan hendak mencobanya lagi di esok hari.

    Cinta pertama memang sangat unik bukan? Perlakuan yang biasa jadi terlihat istimewa di matamu. Padahal waktu itu kalian hanya tak sengaja berpegangan tangan karena merebut bola voli yang sama saat kelas olahraga di lapangan sedang berlangsung.

    Mata kalian sekilas bertatapan, lalu sama-sama berpaling. Sungguh lucu. Aku hadir tanpa sengaja di tengah-tengah kejadian seperti itu. Kalau saja kewarasanmu hilang tentu kamu akan enggan mencuci bekas tangan yang bersentuhan tersebut, hingga beberapa hari ke depan.

    Kau pun bertanya-tanya apa boleh seorang gadis mengajak ngobrol laki-laki lebih dahulu? Oh, tentu saja Reyna. Hendaknya kau tidak usah ragu. Cobalah dulu meminjam alat tulis kepadanya! Toh sosok itu selalu ada di hadapanmu saat kelas dimulai.

    “Raka, boleh aku meminjam pensil?” tanyamu dengan nafas tertahan sambil mencolek punggungnya. Raka anak laki-laki itu menoleh sekilas. Tanpa berkata apapun, dia mengulurkan pensil 2B dan diletakan di atas meja. Lalu sosok itu berbalik lagi. Membiarkanmu harus cukup puas hanya menatap punggung bidangnya saja.

    Sepertinya kau hampir membawa pensil itu pulang. Kalau saja kau tak ingat akan ketakutanmu kalau sampai di cap sebagai pencuri pensil.

    Hey, kembalikan saja dan pinjam lagi esok hari saat pelajaran kesenian! Ideku ini bagus bukan?

    Begitulah seterusnya hingga tidak terasa dua semester berjalan. Tidak ada kemajuan yang berarti dalam hubungan kalian. Kalau saja kau bisa lebih berani memulainya.

    Jangan sampai dia jatuh ke dekapan Dania, anak kelas sebelah yang saban hari sering berpura-pura masuk ke kelas kalian hanya untuk mencuri pandang kepada Raka. Reaksi Raka? Hah, entah dia bodoh atau memang tidak peka terhadap lirikan Dania yang penuh arti setiap kali memandang.

    Hari ini pengumuman pembagian kelas untuk anak-anak SMA kelas dua dibacakan. Kamu berusaha menyeruak kerumunan mencari namamu masuk daftar kelas mana.

    Dan tentu saja kemudian kamu menjadi lebih sibuk lagi mencari nama anak laki-laki itu. Sambil tetap berdoa dengan resah semoga kalian bisa sekelas lagi. Sehingga kamu bisa tetap berada di dekatnya walau hanya sebagai pengagum rahasia.

    Ah, rupanya Dewi Fortuna kurang berpihak padamu. Kau tak sekelas dengan Raka. Berarti sudah bisa dipastikan bahwa nanti kau akan jarang melihatnya berkelebat di hadapan matamu seperti hari-hari sebelumnya.

    Aku tahu kau bukan orang yang mudah melupakan cinta. Apalagi ini cinta pertama. Pasti akan selalu punya ruang khusus dalam hati. Aku benar kan?

    Sore ini aku lihat kau membuka kotak kardus yang tersimpan secara rahasia di atas lemari. Kau masukan pensil 2B yang kau ambil diam-diam dari kotak pensil Raka saat anak itu pergi ke kantin.

    Kau merasa inilah satu-satunya kenangan yang bisa kau simpan untuk terakhir kali. Sebagai detik-detik terakhir kalian berada di kelas yang sama. Pensil itu akan menjadi kenangan yang berarti saat kau rindu memandangnya walau hanya memandang dari balik punggung.

    Dalam hati kau tertawa dengan puas, saat melihat Raka sempat kebingungan mencari-cari sesuatu yang hilang dari dalam kotak pensil hitam. Tentu dia tidak akan pernah menyangka bahwa kaulah pelaku pencurinya.

    Kau jalani sisa dua tahun di kelas yang berbeda dengan dia. Tak ada yang berubah dari hari-hari di sekolah. Hanya saja terkadang rasa rindu menyelip di antara kesibukanmu belajar dan mengikuti ekstrakulikuler.

    Kau tetap mampu mempertahankan prestasi 5 besar di kelas. Begitu juga Raka. Kalian berdua sebenarnya serasi. Sama-sama pintar, sama-sama cantik dan tampan. Hanya saja gayung tak pernah bersambut karena kau tak pernah mencoba mengayuhnya.

    Kadang saat istirahat siang jika kau sangat rindu melihatnya, kau akan sempatkan waktu menyusuri lapangan basket. Walau terik matahari menyengat kulit putihmu hingga perih dan membuatnya memerah seketika, tetapi hal itu jelas tak kau hiraukan.

    Matamu tetap mengawasi sosok Raka yang rajin berlatih basket ditemani riuhan suara siswi-siswi lain yang menyemangati dia. Saat itu kau mendengar kabar bahwa Raka memang tiba-tiba jadi sangat populer sejak menggantikan posisi Alex sebagai kapten basket.

    Alex yang saat itu sudah menginjak kelas 3 dan sebentar lagi akan disibukkan oleh persiapan UN, menyerahkan estafet kepemimpinan tim basket sekolah kepada Raka.

    Sebentar lagi kompetisi basket Osis Cup antar SMA se-kabupaten akan dilaksanakan, sehingga anak-anak basket terlihat makin rajin berlatih. Mereka ditemani gadis-gadis cantik yang juga giat berlatih cheers di pinggir lapangan mencari posisi teduh.

    Hatimu selalu dongkol saat melihat sosok Dania wara-wiri dengan seragam cheersnya di hadapan para anak-anak basket termasuk Raka. Kupingmu panas saat terngiang suara anak-anak itu menjodoh-jodohkan Raka dan Dania sambil tertawa-tawa melucu.

    Iya, kau cemburu. Tapi cemburu pada seseorang yang bahkan tidak kau miliki. Aku tahu rasanya pasti sakit kan? Kau seperti sedang berusaha menambal kembali kepingan perasaan yang retak.

    Logikamu meminta untuk melupakan dia, tapi hatimu memanggil namanya kembali. Begitulah pergumulan batin yang aku amati dengan lekat setiap harinya. Dia seakan menjadi obsesi bagimu. Salah satu penyemangatmu untuk setiap pagi datang ke sekolah.

    Setiap hari kau masih menaruh harap semoga kamu bisa berpapasan dengannya di parkiran sekolah. Sesekali saat kebetulan kalian berpapasan, Raka memang tersenyum menatapmu. Pastilah dia mengingat seorang Reyna sebagai teman yang sering meminjam pensil ketika sekelas dulu.

    Harusnya kau sambut dengan sapaan yang ramah. Ah, tapi lagi-lagi tanggapanmu dingin. Kau grogi dan memilih langsung kabur dengan langkah memburu. Sementara Raka hanya memandang heran tingkahmu itu. Hey, dia bukan hantu!

    Suara riuh sorakan yel-yel untuk tim basket yang dipimpin Raka menggaung memecah lamunanmu. Kau masih membatu di luar lapangan. Dari sana kau bisa melihat Raka dengan jelas, walau sedikit terhalang oleh pagar dan terali besi. Tapi kau sudah cukup puas dengan hal itu.

    Dalam hati tak lupa kau mengirimkan doa agar tim Raka selalu memenangkan pertandingan. Rupanya doamu terkabul. Beberapa minggu kemudian tim basket sekolah pulang dengan menggondol piala Osis Cup se-Kabupaten.

    Bukan hanya sekali itu saja. Selama Raka menjadi kapten tim, mereka pasti akan selalu pulang membawa piala. Hingga sekolahmu harum oleh prestasi basket. Semerbaknya semakin menggetarkan hatimu.

    Tidak terasa dua tahun sudah berlalu. Waktu kelulusan telah tiba dan perasaan yang kau pendam bukannya mengering tapi malah semakin subur. Tepatnya selama tiga tahun lamanya rasa suka itu kau simpan sendirian.

    Kau berada di tengah barisan teman-teman yang tengah menunggu pidato Pak Anom sang kepala sekolah dan dilanjutkan pengumuman kelulusan. “Kalian lulus semua 100persen!” pekik Pak Anom.

    Semua siswa bersorak gembira, menangis sambil saling berpelukan. Ada pula salah seorang teman sekelasmu bernama Ibra, yang terkenal sangat bandel sedang menunaikan kelakarnya.

    Rupanya Ibra bersumpah bahwa jika lulus nanti akan mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali putaran, dan kini anak itu sungguh-sungguh melakukannya.

    Ia benar-benar berlari sambil mengibar-ngibarkan baju seragam dengan khidmat diiringi tepuk sorak dari teman-teman lain yang menambah gaduh suasana lapangan sekolah.

    Pak Anom hanya bisa menarik nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala tampak berusaha memaklumi. Atau mungkin juga beliau yang sebentar lagi pensiun sedang terbawa kenangan ke masa-masa mudanya dulu? Ah, Ada-ada saja!

    Kau pun begitu. Menyambut pelepasan masa putih-abu dengan haru. Meski terbesit sedikit kesedihan di hati karena itu berarti inilah momen-momen berpisah dengannya. Tak ada yang menjamin kalian akan berada di kampus dan jurusan yang nanti sama bukan?

    Kini kau semakin tak percaya kepada rumor yang mengatakan masa putih-abu adalah masa-masa cinta yang indah. Selayaknya film ataupun novel teenlit yang sering kau baca.

    Di sela gemuruh anak-anak lain yang berteriak girang karena kelulusan, matamu awas mencari-cari sosok laki-laki tinggi tegap itu.

    Setidaknya kau ingin memberanikan diri sekedar menyodorkan spidol untuk menuliskan namanya di salah satu bagian seragam. Kau tetap sisakan ruangan khusus untuk namanya diantara coretan cat pilox dan tanda tangan teman-teman yang lain.

    Kau rasa mungkin ini kesempatan terakhir untukmu. Kesempatan yang selama tiga tahun kau pendam. Selama tiga tahun juga kau berlatih di depan cermin seperti orang gila. Berlatih memberanikan diri untuk menyatakannya.

    Setidaknya sekali seumur hidup dia harus tahu perasaanmu. Seandainya pun nanti dia menolak tapi aku yakinkan bahwa kau akan merasa lebih lega karena pernah berusaha mencoba.

    Ketimbang menyesal nanti-nanti atau hidup dalam pertanyaan yang mengandai-andai. Bukankah gagal adalah biasa untuk remaja belasan tahun sepertimu?

    Masih banyak kesempatan untuk bangkit dari kegagalan termasuk menyembuhkan hati yang telah patah. Aku mendukungmu melakukannya!

    Ketemu! Kau menemukan sosok itu menyembul di antara kerumunan anak-anak lain. Bergegas kau hampiri. Spidol erat kau genggam di tangan. Kau akan meminta waktunya sebentar saja. Sebentar saja, walau untuk itu kau butuh waktu hingga tiga tahun lamanya.

    “Raka!” Teriakmu memanggil. Nafasmu memburu oleh rasa gelisah dan oleh sebab kau berlari menghampirinya dari ujung lapangan sana. Laki-laki itu menoleh. “Oh, hay,” sapanya tampak kikuk.

    “Tanda tangan!” pintamu sambil menyodorkan spidol hitam. Raka mengambilnya sambil sedikit tersenyum. Senyum dingin yang sangat kau rindukan. Seulas tipis yang nyaris tak tersadar namun selalu sukses membuat jantungmu berdetak seperti terbakar.

    Anak itu menandatangani lengan kanan bajumu. Dari sana kau bisa puas menoleh ke arah wajah tampan itu. Kau tatap dengan perasaan bahagia. Alisnya yang tebal, bulu matanya yang panjang, serta rahangnya yang berkarakter.

    Kau juga bisa mencium wangi parfum maskulin yang dua tahun lalu sering menyambangi hidung ketika melewatinya saat berjalan menuju bangku.

    “Sudah selesai.” Raka mengangsurkan spidol hitam. Tanda tangannya telah terpatri manis di lengan kanan seragammu.

    “Kau tak meminta aku tanda tangan?” tanyamu agak sedikit ragu.

    “Boleh kalau kamu bersedia,” ujarnya singkat.

    Tanpa ragu lagi kau mengangguk mantap. Kau menuliskannya tepat di tengah-tengah punggung anak itu. Dengan begitu kau bisa leluasa lagi menatap punggungnya seperti dulu.

    Andai waktu bisa berhenti sejenak tentulah kau ingin memandang sosok itu dengan lekat lebih lama lagi, walau hanya punggungnya saja. Cinta memang aneh.

    “Raka… aku suka kamu, sudah tiga tahun lamanya.” Kau mengucap kalimat itu dengan tiba-tiba tepat sesaat setelah kau selesai mengukir nama di punggung seragam Raka.

    Anak itu tampak terkejut. Dia berbalik agar bisa memandangmu. Untuk mengecek apakah kau sungguh-sungguh atau hanya bercanda.

    Tetapi kau segera berkelit. Kau berlari menjauh lalu menghilang di tengah rimbunan anak-anak lain yang masih bersorak, dan berfoto-foto dengan gembira merayakan kelulusan.

    Kau tidak sanggup dengan jawabannya. Dia pun belum sempat mencegahmu pergi untuk bertanya lebih lanjut apa magsud ucapanmu itu. Raka terlihat mematung. Sepertinya dia sendiri sedang mencerna lebih dalam kata-katamu itu.

    Tak lama kemudian sesosok gadis cantik berlari menghampiri Raka yang masih diam.

    “Baby, lagi sama siapa tadi? Kita foto-foto dulu yuk!” Gadis itu menggandeng tangan Raka.

    “Bu-bukan siapa-siapa,” ujar Raka gelagapan. Matanya masih berusaha mencarimu yang pergi menghilang begitu saja.

    “Nyari siapa beb?” Dania ikut melepaskan pandangan ke arah kerumanan anak-anak.

    “Nggak ada, yuk cepat fotoan!” Buru-buru Raka mengacak rambut Dania, gadis yang ternyata sudah seminggu ini resmi menjadi pacarnya.

    Tanpa disadari dari kejauhan, sepasang mata diam-diam mengawasi dua sejoli baru itu berfoto dengan mesra. Sepasang mata yang kini telah kehilangan binarnya.

    Reyna memegang dada berusaha meredam detak jantung yang berderu, menghujam keras hingga dia sulit menarik nafas. Rasanya sangat sakit.

    Tiba-tiba aku merasa kesadaranku perlahan menghilang, seiring dengan hancurnya hati gadis malang itu. Tetapi aku bahagia, setidaknya sudah tiga tahun menemaninya melewati masa-masa SMA.

    Mungkin nanti aku harap diriku bisa kembali lagi hadir di relung hati Reyna.

    Ya, suatu saat yang entah kapan karena bagaimana pun, akulah cinta di hati Reyna. Namun kini... aku telah patah.

     

     

    -Aku Cinta yang Patah-

    Bali, 20 Januari 2023

    Ni Wayan Wijayanti

    *************************

    Ikuti tulisan menarik NI WAYAN WIJAYANTI | CERPEN lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.