Jemputan Kehormatan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: wallpapercave.com

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 21 Januari 2023 13:08 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jemputan Kehormatan

    Pada dini hari jemputan kehormatan itu datang. Siapakah sang penjemput? Siapa yang dijemput?

    Dibaca : 303 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jemputan Kehormatan

    Bambang Udoyono

     

    Jam tiga pagi kota Banda Aceh masih tertidur lelap. Sebagian besar penduduknya masih terlena dalam buaian mimpi mereka. Suasana sunyi senyap. Malam itu langit bersih. Bulan purnama menghiasi langit malam yang cerah. Tapi seorang wanita tua,  Saleha namanya, sudah bangun. Selama bertahun tahun dia terbiasa bangun jam tiga pagi. Setelah bangun dia lantas akan bersuci dilanjutkan dengan salat tahajud. Tapi malam itu adalah malam yang khusus. Ini karena dia baru saja mengalami mimpi yang aneh.

    Kala itu dia merasa ada seorang yang mengucapkan salam dengan suara yang lembut tapi jelas dan tegas.

    “Assalamualaikum !”

    Saleha membalas salam itu sambil menengok asal suara. Dia agak tertegun melihat sosok yang datang. Orang itu bertubuh tinggi besar, berpakaian serba putih. Wajahnya menampakkan ekspresi teduh, sejuk dan berwibawa.

    Saleha merasakan kewibawaan orang ini memancar dari ekspresinya adalah kewibawaan yang wajar bukan yang dipaksakan dengan arogansi. Orang itu lalu menyambung.

     “Ibu, waktu ibu sudah hampir habis. Tinggal tiga bulan lagi. Bersiap siaplah. Aku akan datang lagi”

    Setelah berkata begitu dia lalu menghilang seperti asap. 

    Saleha kemudian terbangun. Sejenak dia masih terduduk di bednya sambil bertanya tanya dalam hati tentang maksud perkataan orang itu. Apakah yang dimaksudkannya dengan waktuku sudah habis ? Apakah aku akan segera mati ? Ah, pikirnya, mati hidupku bukan urusanku. Itu adalah urusan Allah. Matiku dan hidupku adalah milik Allah semata. Dialah yang menghidupkaku dan dia jugalah yang akan mematikanku. Aku pasrahkan saja semua kepada Allah. Berpikir demikian membuatnya tenang. Salehapun lantas berwudhu, dilanjutkan dengan salat Tahajud. 

    Seusai salat dia teringat lagi akan mimpinya tadi. Kata orang kalau orang akan meninggal pasangannya akan menjemput. Tapi , dia bertanya dalam hati, kenapa suaminya yang sudah lama meninggal tidak menjemputnya. Ah, itu kan hanya omongan orang saja yang belum tentu kebenarannya. Walapun nenek moyang bisa salah juga, pikirnya. 

    Seusai salat subuh Saleha segera memulai pekerjaan rumah tangganya. Walaupun dia hidup sendirian setelah suaminya meninggal lima tahun yang lalu dan ketiga anaknya sudah bekerja di pulau Jawa, Saleha tidak kehilangan semangat hidup dan tidak merasa kesepian. Setiap hari dijalaninya kehidupannya dengan penuh optimisme, dengan penuh semangat. Dia mulai hari harinya dengan pekerjaan rumah tangganya.

    Setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang guru SD dia memang tidak lagi mengajar di sekolah. Hari harinya kini diisi dengan kegiatan sosial keagamaan. Dia menjadi pengurus sebuah organisasi Islam. Kegiatannya adalah sebagai pengurus kegiatan pengajian, meskipun bukan ustadzah dia adalah organisator. Sore hari waktunya diisi untuk memberikan pelajaran tambahan kepada anak anak SD. Saleha merasa berbahagia karena setiap hari ada saja murid yang memerlukan bimbingannya. Kegiatan ini berlangsung sampai menjelang magrib. Malam hari setelah salat Isya Saleha pergi tidur tidak terlalu malam. Kemudian setiap pagi buta jam tiga pagi dia selalu terbangun untuk salat tahajud dan berzikir menunggu subuh tiba. 

    Hari berganti dan musim berlalu. Pada bulan kedua setelah mimpi itu Saleha terbangun pada jam tiga pagi seperti biasanya. Tapi kali ini dia terbangun lantaran baru saja mendapatkan impian yang sama persis dengan impiannya sebulan yang lalu. Dalam impiannya dia mendengar sebuah suara salam yang jelas dan tegas tapi lembut. Kemudian dia melihat orang yang dulu datang dalam mimpinya. Sekali lagi dia mengatakan bahwa waktunya hampir habis,  dan agar dia bersiap siap dan jangan mengatakan kepada siapapun.

    Satu bulan berlalu setelah impian keduanya. Suatu malam impian yang sama terjadi lagi. Kali ini orang yang sudah dua kali datang ditemani oleh dua orang lagi yang berpakaain mirip. Mereka memakai pakaian serba putih, wajah mereka bersinar, mata mereka memancarkan kelembutan dan wibawa. Kata kata yang diucapkanpun sama. Kali ini Saleha menjadi yakin bahwa sebuah rahasia telah sebagian diungkapkan kepadanya dan dia semakin yakin bahwa masa tugasnya di dunia memang sudah hampir habis.

    Dia bersyukur bahwa dia sudah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia merasa mantap bahwa pengabdiannya selama ini kepada Allah swt yang diwujudkannya dalam peranannya sebagai istri bagi almarhum suaminya, ibu bagi anak anaknya, dan guru bagi murid muridnya dia rasa sudah dijalankannya dengan baik. Meskipun demikian Saleha tidak mau takabur , dia masih saja memohon ampunan Allah kepada kesalahan dan dosa yang barangkali sudah diperbuatnya dengan tanpa sengaja. Kesetiannya sebagai seorang istri diwujudkannya dengan pelayanan kepada suaminya selama almarhum masih hidup dengan sepenuh hati.

    Sekarang setelah dia meninggal Saleha juga tidak berniat pulang ke kampung halamannya di lereng Merapi meskipun masih ada sanak saudaranya di sana dan ada yang pernah mengajaknya pulang. Dia sudah bertekad akan menjaga rumah sederhana dari kayu peninggalan suaminya dan juga kubur suaminya. Di sanalah sebagian besar masa hidupnya dilewatkan dan di sanalah segala kenangan indah bersama suaminya dia lewatkan, karena itu di sanalah juga dia ingin mati. 

    Pada kedatangan keempat orang berpakaian putih berkata lebih panjang. Dia katakan bahwa Saleha adalah termasuk orang yang beruntung dan berbahagia kerena telah terpilih menjadi Syuhada. Oleh karena itu dia akan mendapatkan jemputan kehormatan dan kebesaran.

    “Kami akan datang dalam waktu satu minggu lagi dengan pasukan penjemput lengkap di pagi hari yang cerah. Pada saat itu sebaiknya ibu sudah bertaharah sehingga dalam keadaan suci! Ibu akan dijemput bersama dengan para Syuhada lain”

    Pagi buta itu Saleha terbangun karena dikejutkan dengan suara gemuruh. Dia segera duduk di bednya lalu dicarinya sumber suara. Terdengar suara terompet yang bersahutan dan ditimpah suara tambur yang banyak sekali. Kali ini dalam kesadarannya dia melihat di depannya sudah berdiri serombongan besar pasukan dan orang berpakaian putih yang sudah berkali kali datang dalam mimpinya. Dia gemetaran. Kemudian beberapa orang berpakaian serba putih menghampiri dan menyapanya dengan salam.

    “Assalamualaikum! Kami datang menjalankan tugas dari Sang Maharaja langit dan Bumi untuk menjemput Ibu dengan jemputan kebesaran sebagai syuhada. Waktu ibu sudah habis. Ibu sudah selesai bertugas dan dipersilahkan bersiap siap untuk menghadap. Kami beri waktu enam jam. Kami akan menunggu. Dan harap jangan beri tahu siapapun!” 

    Saleha segera mandi keramas lalu berpakain. Dikenakannya pakaian terbaiknya. Tidak lupa wewangian. Setelah itu dengan segenap kepasrahan kepada Allah swt Saleha melaksanakan salat tahajud. Setelah itu disambungnya dengan berdoa. Tidak lupa dia memohonkan ampunan bagi kedua orang tuanya yang sudah lama tiada. Ketiga anaknya  yang sudah berkeluarga dan tinggal di Jawa tidak lupa dimohonkannya petunjuk, bimbingan dan perlindungan. Kemudian setelah waktu salat subuh tiba dia melaksanakannya dengan penuh takzim.

    Pagi itu lalu Saleha membersihkan rumah yang segera akan ditinggalkannya, lantas sekali lagi merapikan busananya ketika teleponnya berdering. Anak anak dan cucu cucunya yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jakarta menelepon. Mereka memberikannya hiburan. Pada saat itulah Saleha tidak mampu menahan dorongan hatinya untuk berpamitan. Dengan rasa haru diceritakannya kepada anak anaknya bahwa saatnya sudah tiba dan bahwa jemputan kehormatan sudah menunggu.

    “Apabila tiba waktuku nanti, janganlah aku kau tangisi nak, agar tidak menghalangi jalanku !  Iringilah kepergianku dengan doamu. Ikhlaskanlah aku menghadap kepada sang khalik”

    “Ibu, jangan berkata begitu!”

    Anak Saleha tidak mampu menahan tangisnya sampai tidak bisa melanjutkan bicaranya.

    Belum sampai Saleha selesai berbicara tiba tiba terdengar suara terompet yang sangat gemuruh karena ribuan sangkakala ditiup bersamaan dengan ribuan tambur. Pada saat yang sama terdengar suara yang sangat keras.

    “Assalamualaikum Ibu. Waktu Ibu sudah habis. Harap segera ikut jemputan bersama para Syuhada. Jemputan ini adalah jemputan kebesaran, hanya untuk para Syuhada yang selama ini sudah mengabdi kepada Allah maharaja diraja dengan setulus hati dan sebaik baiknya”

    Di depan Saleha sudah berdiri dengan penuh hormat serombongan besar pasukan berseragam putih hijau, lengkap dengan senjata dan alat musik. Ketika Saleha menaiki kendaraan jemputan yang besar, panjang dan megah sekali pasukan itu mengiringi dengan menyanyikan salawat dan disertai dengan suara tambur, genderang dan terompet yang gemuruh.

    Bau wangi yang lembut dan menyegarkan semerbak memenuhi seluruh kota. Tidak lama kemudian Salehapun diangkat menuju ke langit bersama rumah sederhananya dan segala harta bendanya. Bersama Saleha dijemput juga ribuan orang Saleh oleh pasukan penjemput kebesaran. Tapi pasukan itu sekaligus juga memporak poradakan kaum musrikin,  kaum fasik dan orang orang yang kurang beriman. Di beberapa bagian kota bau wangi yang mengiringi kepergian mereka masih semerbak sampai beberapa bulan, musik genderang dan terompetpun masih terdengar sayup sayup, tapi hanya terasa dan terdengar oleh beberapa orang. Beberapa orang yang masuk kategori muttaqin. 

    Beberapa hari kemudian tiga orang anak Saleha datang dari Jakarta. Mereka menangis menemukan rumah ibu mereka sudah rata dengan tanah. Tidak ada satu barangpun yang tersisa. Tapi di balik semua reruntuhan itu tercium bau yang wangi. Bau wangi yang belum pernah mereka cium seumur hidup. Wangi yang tidak menyengat. Wangi yang halus, anggun, lembut dan menyegarkan. Sayup sayup mereka mendengar suara terompet dan tambur yang berirama pelan, anggun dan berwibawa, sekaligus menentramkan. Tanpa kata merekapun berdoa memohonkan ampunanNya untuk Saleha yang mereka yakini adalah sang Syuhada.  Syuhada tidak mati, dia hidup bahagia selama lamanya di sisi Allah, penguasa jagad raya dan segala isinya.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.