Mengulik Masa Depan Sektor Pertanian di Sulawesi Barat, Bagaimana Nasibnya? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pertanian untuk bangkitkan ekonomi

Lira Azima

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Januari 2023

Minggu, 22 Januari 2023 06:04 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengulik Masa Depan Sektor Pertanian di Sulawesi Barat, Bagaimana Nasibnya?


    Dibaca : 183 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sektor Pertanian, Si Sektor Paling Tangguh

    Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki peran vital bagi suatu negara, khususnya di Indonesia yang dijuluki sebagai negara agraris. Hal ini dibuktikan dengan adanya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang mencakup 17 tujuan, salah satunya yang tercantum pada tujuan kedua, yaitu untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi, dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.

    Pentingnya peranan sektor pertanian juga ditunjukkan dengan besarnya sumbangan yang diberikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (2022) mencatat andil sektor pertanian terhadap pertumbuhan PDB mencapai 12,98 persen dengan pertumbuhannya sebesar 1,37 persen. Posisi tersebut masuk tiga besar PDB lapangan usaha yang tumbuh bersama sektor industri dan pertambangan.

    Pada wilayah Sulawesi Barat, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 43,66 persen terhadap perekonomian Sulawesi Barat pada tahun 2021. Setelah dilanda pandemi sejak awal tahun 2020 yang memberikan dampak yang cukup besar bagi perekonomian di Sulawesi Barat, sektor pertanian justru menunjukkan ketangguhannya. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan sektor pertanian yang tumbuh positif sebesar 1,14 persen di tengah kontraksi perekonomian Indonesia sebesar 2,40 persen pada tahun 2020 dan hingga kini terus bertumbuh positif mencapai 2,56 persen di tahun 2021 (BPS, 2022).

    Selain itu, BPS melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2021 mencatat mayoritas penduduk di Sulawesi Barat bekerja di sektor pertanian dengan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja yang terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya, yaitu sekitar 47,22 (BPS, 2021).

    Berbagai peran penting sektor pertanian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sektor pertanian perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Bagaimana Menata Sektor Pertanian Sulawesi Barat di Masa Mendatang?

    Jika ditilik dari kondisi petani di Sulawesi Barat, maka indikator yang dapat digunakan adalah Nilai Tukar Petani (NTP). Nilai Tukar Petani (NTP) atau Farmer’s Term of Trade merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.

    Semenjak terbentuknya Sulawesi Barat, daya tukar petani di daerah ini terlihat cukup baik yang dapat dilihat dari capaian NTP yang selalu berada di atas 100 yang menunjukkan petani di Sulawesi Barat mengalami kenaikan dalam hal perdagangan ketika tingkat rata-rata harga yang diterima petani mengalami kenaikan lebih cepat daripada tingkat rata-rata harga yang dibayarkan terhadap tahun dasar. Pada Desember 2021, BPS Provinsi Sulawesi barat bahkan mencatat NTP Sulawesi Barat mengalami kenaikan sebesar 12,45 persen dibandingkan dengan Desember 2020.

    Luasnya lahan potensi pertanian merupakan salah satu peluang modal masyarakat untuk menggantungkan sumber perekonomiannya di sektor pertanian. Selain itu, tren NTP yang positif juga sebagai angin segar untuk meningkatkan kesejahteraan petani menuju pertanian berkelanjutan di Sulawesi Barat.

    Untuk mewujudkan pertanian yang berkelanjutan, khususnya di wilayah Sulawesi Barat, perlu dilakukan perencanaan, monitoring, serta evaluasi pembangunan pertanian yang relevan dengan kondisi di Sulawesi Barat.

    Selain itu, memperkuat produksi berbagai komoditas pertanian yang potensial dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti membangun saluran irigasi, baik sekunder maupun tersier, yang dapat mengalirkan air hingga lokasi persawahan masyarakat setempat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk menguatkan produksi komoditas pertanian adalah dengan memperbanyak penggunaan benih unggul, serta menyediakan pupuk sesuai dengan kebutuhan petani.

    Untuk itu, diperlukan adanya indikator yang objektif dan dapat dipercaya sebagai acuan pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan di sektor pertanian.

    Pemenuhan Data dan Indikator Pertanian Melalui ST2023

    Dalam mendukung kemajuan di sektor pertanian, serta memetakan permasalahan pertanian dan menjawab isu strategis terkini sektor pertanian di Indonesia, Badan Pusat Statistik akan melakukan Sensus Pertanian pada tahun 2023.

    Sensus Pertanian 2023 akan dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia, baik perkotaan maupun perdesaan. Untuk wilayah Sulawesi Barat, Sensus Pertanian 2023 atau yang dikenal dengan ST2023 dilaksanakan di enam kabupaten, yaitu Kabupaten Majene, Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, Pasangkayu, dan Mamuju Tengah. Dengan mengusung tema “Mencatat Pertanian Indonesia untuk Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Petani”, ST2023 akan mendata seluruh pelaku usaha pertanian, baik perorangan, kelompok, maupun perusahaan pertanian berbadan hukum. Adapun pelaksanaan pendataan ST2023 meliputi tujuh cakupan, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan dan jasa pertanian yang ada di Sulawesi Barat.

    Oleh karena itu, pelaksanaan ST2023 ini memerlukan kolaborasi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Sensus Pertanian dan mau berpartisipasi untuk didata dengan memberikan jawaban yang benar.

    Tersedianya data pertanian yang tepat waktu dan akurat merupakan pondasi untuk mewujudkan kebijakan pertanian yang tepat sasaran.

    Sukseskan ST2023!

    Ikuti tulisan menarik Lira Azima lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.