Coronanomics: Ekonomi Normal Baru Pasca Pandemi - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ahmad Fauzi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Januari 2023

Minggu, 22 Januari 2023 06:23 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Coronanomics: Ekonomi Normal Baru Pasca Pandemi

    Ekonomi new normal tidak boleh menghilangkan unsur manusia dalam aktivitas ekonomi dengan alasan manusia tidak efisien. Pandemi Covid-19 akan berkonsekuensi tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi, politik, hingga seni. Semua bergantung pada pilihan yang diambil. Pandemi Covid-19 memaksa banyak orang di seluruh dunia mengubah cara hidup mereka. Perubahan itu besar kemungkinan berlanjut meski pandemi selesai.

    Dibaca : 185 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pandemi Covid-19 membawa dampak ekonomi yang menyesakkan buat Indonesia. Berbagai kebijakan yang belum ada presedennya di republik ini, seperti bekerja dari rumah, jaga jarak, pembatasan sosial terbatas, dan pembatasan sosial berskala besar yang sudah berlangsung tiga bulan, membuat kita harus berdamai dengan Covid-19. Tak mungkin terus menghindar atau bersembunyi dari virus Corona sebab mereka sudah ada di sekitar kita. Kegiatan ekonomi tetap bisa dilakukan dengan meminimalkan kontak fisik.

    Di hadapan Covid-19, umat manusia sedang bertatap muka dengan sebuah krisis global yang mengerikan, yang bisa jadi krisis terbesar generasi saat ini. Umat manusia saat ini menghadapi krisis global. Mungkin krisis terbesar dalam generasi kita. Keputusan-keputusan manusia dan pemerintah yang diambil bisa saja membentuk wajah dunia untuk tahun-tahun mendatang. Mereka tidak saja membentuk sistem kesehatan, melainkan juga ekonomi, politik dan budaya kita. Kita juga harus memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari apa yang kita perbuat. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, kebanyakan dari kita akan hidup, namun kita hidup di dunia yang berbeda.

    Tatanan kehidupan normal baru atau new normal menjadi wacana yang digulirkan pemerintah untuk memulihkan produktivitas masyarakat dan membuat kondisi perekonomian kembali bergairah. New normal merupakan salah satu opsi untuk menjadi tonggak kebangkitan ekonomi Indonesia. New Normal adalah sebuah istilah dalam bisnis dan ekonomi yang merujuk kepada kondisi-kondisi keuangan usai krisis keuangan 2007-2008, resesi global 2008–2012, dan pandemi Covid-19.

    Setidaknya, ada tiga hal yang dapat dilakukan di masa normal baru ini. Pertama, pentingnya digitalisasi, khususnya sektor UMKM harus melakukan akselerasi digital. Digitalisasi jadi kunci pemulihan ekonomi pasca pandemi. Konsumen yang berbelanja secara fisik berkurang, berkurang menjadi digital yang lebih besar. Kedua, membangun ekonomi dari daerah dan melakukan inovasi berbagai sektor ekonomi. Ketiga, membangun kekuatan ekonomi kreatif di masa normal baru.

    Indonesia sedang bersiap membuka ekonomi dan bersiap menghadapi ekonomi new normal. Aturan Kemenkes terbaru tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, diprediksi melahirkan ekosistem ekonomi berbiaya tinggi, yang akan memberatkan pengusaha dan akhirnya konsumen.

    Namun di sisi lain, ekonomi new normal mendorong efisiensi dan akselerasi teknologi lebih cepat. Termasuk ketika sekolah dan universitas berjalan online. Hanya dalam 4 bulan terakhir, banyak istilah baru yang mendadak trending dan akrab di telinga kita: Corona Virus Disease, Covid-19, Pandemi, ODP, PDP, Social Distancing, Physical Distancing, Daring – Zoom – G-Meet – WFH – SAH – DRS – NOW, Lockdown, PSBB, New Normal.

    Ekonomi new normal tidak boleh menghilangkan unsur manusia dalam aktivitas ekonomi dengan alasan manusia tidak efisien. Pemerintah perlu melakukan upgrading sumber daya manusia dalam melakukan aktivitas ekonomi, aktivitas belajar dan aktivitas layanan publik tanpa melakukan kontak fisik secara langsung. Dengan begitu Indonesia akan siap menghadapi kondisi new normal.

    Terakhir, kita tutup dengan mengutip tulisan dari penulis dan sejarawan Yuval Noah Harari, merilis dua artikel terkait pandemi Covid-19 di TIME dan Financial Times. Tulisannya terbit dengan judul “In the Battle Against Coronavirus, Humanity Lacks Leadership” dan “The World After Coronavirus,” berargumen bahwa pandemi Covid-19 akan berkonsekuensi besar—tidak hanya di bidang kesehatan—tetapi juga ekonomi, politik, hingga seni. Semua bergantung pada pilihan yang diambil. Pandemi Covid-19 memaksa banyak orang di seluruh dunia mengubah cara hidup mereka. Perubahan itu besar kemungkinan berlanjut meski pandemi selesai.

    Namun demikian, kabar baiknya adalah, setiap krisis bisa menjadi titik balik bagi masyarakat membentuk masa depan barunya, bukan. [ ]

    *Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

    Ikuti tulisan menarik Ahmad Fauzi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.