Heboh Nama Firaun, Atribusi yang Kehilangan Makna - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Firaun

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 24 Januari 2023 13:52 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Heboh Nama Firaun, Atribusi yang Kehilangan Makna

    Orang banyak heboh membicarakan penamaan Jokowi dengan nama Firaun, misalnya, tanpa peduli lagi apa konteksnya dan apa substansi kritiknya. Nama atribusi jadi populer dan trendy tapi wacana dan narasinya jadi miskin arti.

    Dibaca : 381 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nama Firaun sebenarnya sudah populer, tapi penyematan atribut Firaun kepada Presiden Jokowi oleh Emha Ainun Najib memantik populernya kembali penguasa Mesir kuno itu. Firaun viral, mendadak naik daun di jagat virtual, disebut-sebut oleh netizen. Bersama Haman dan Qarun, Firaun diidentikkan dengan kezaliman dan keserakahan.

    Ketika kemudian Emha mengungkapkan bahwa ia ‘kesambet’ saat mengatribusikan Firauan kepada Jokowi, malah muncul epigon yang mengatribusikan Firaun kepada sosok lain lagi. Tak banyak orang yang membicarakan ungkapan epigon ini, sebab orang banyak telah mengenali jejaknya. Ketika nama Firaun diulang-ulang dan dipaksa diatribusikan kepada sosok lain, ‘keajaiban’ efeknya pun pudar.

    Asosiasi tokoh masa sekarang—dalam konteks ini penguasa jagat politik dan ekonomi—dengan figur sejarah yang dikenal zalim seringkali ditangkap dengan riuh oleh publik tapi cenderung kehilangan konteksnya. Konteksnya lepas karena publik lebih fokus pada peng-atribusian nama figur sejarah tadi ketimbang substansi yang dikirim dengan meminjam nama tersebut. Atau sengaja dilepas sehingga si pengirim pesan dan peminjam nama Firaun itu dipersepsikan negatif oleh publik. Substansinya dilupakan.

    Atribusi tokoh historis yang dipersepsikan negatif oleh masyarakat kepada tokoh masa sekarang tampaknya cenderung kontraproduktif. Dengan cepat, atribut personifikasi itu menyebar ke mana-mana berkat bantuan teknologi media sosial. Orang-orang dengan mudah gatal tangan untuk menekan tombol share, bahkan tanpa mencerna dengan tenang terlebih dahulu apa konten yang ia share. Respons emosional bereaksi lebih cepat ketimbang respons rasional.

    Repotnya, penyebaran atribusi tersebut kemudian kehilangan konteks dari saat digunakan pertama kali, bahkan kemudian juga cenderung kehilangan substansi dan orang banyak lebih heboh pada pemakaian nama Firaun ketimbang apa, sih, kritiknya. Atribusi negatif kemudian disematkan oleh epigon kepada siapapun yang tidak disukai, yang penting mampu menanamkan kesan negatif pada benak masyarakat bahwa tokoh tertentu mirip dengan Firaun.

    Yang terjadi kemudian ialah semakin populernya atribusi personifikasi tersebut, tapi kehilangan makna. Orang banyak lantas asyik masyuk membicarakan penamaan seseorang dengan nama Firaun, misalnya, tanpa peduli lagi apa konteksnya dan apa substansi kritiknya. Nama atribusi jadi populer dan trendy tapi wacana dan narasinya jadi miskin arti. >>

     

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.