Tradisi Basuh Kaki Orang Tua untuk Membangun Relasi Humanis dan Harmonis - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bertujuan untuk mengingatkan dan membangun relasi yang harmonis dan hangat antara orang tua dan anak. (Christian Saputro)

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Selasa, 24 Januari 2023 06:02 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tradisi Basuh Kaki Orang Tua untuk Membangun Relasi Humanis dan Harmonis

    Tradisi Bakti Basuh Kaki Orangtua ini, lanjut Harjanto, dilakukan sebagai bentuk bakti kepada kedua orang tua. Apalagi mengingat sekarang ini terjadi jarak yang renggang antara anak dan orang tua karena antara lain; karena kehadiran gadget dan permainan game online yang digandrungi oleh kalangan anak anak muda.

    Dibaca : 180 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Perkumpukan Rasa Dharma (Boen Hian Tong) Semarang setiap kmbali menggelar ritual “Bhakti Basuh Kaki Orangtua”. Tahun ini kegiatan digelar di di Gedung Rasa Dharma (Boen Hian Tong), Gang Pinggir 31, Pecinan, Semarang,  Sabtu, (21/01/2023).

    Menurut Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim, ritual “Bakti Basuh Kaki Orangtua ” ini bertujuan untuk mengingatkan dan membangun relasi yang harmonis dan hangat antara orang tua dan anak. 

    ‘Dari ritual  bakti basuh kaki ini kita bisa belajar banyak untuk kembali untuk menghargai orang tua dengan tulus. Momen ini juga bisa mengingatkan agar hubungan harmonis anak dan orang tua tetap terjaga,” ujar Harjanto.

    Gelar Ritual Basuh Kaki Orangtua

    Kegiatan lintas etnis, lintas agama ini tak hanya diikuti warga Kota Semarang, tetapi juga ada yang datang dari Bagansiapi-api,Yogyakarta, Salatiga dan Kudus.

    Acara yang dipandu Asrida Ulinuha ini diawali dengan doa yang dipimpin  Wenshi Indriati Hadi Sumarto secara Khonghucu diikuti  oleh masing-masing peserta ritual bakti basuh kaki.orangtua sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

    Selanjutnya, gelaran acara ritual basuh kaki dimulai dengan diiringi pembacaan puisi “Basuh Kaki” karya Harjanto Halim.

      Ulin sapaan akrab Sang Pemandu sembari memandu jalannya prosesi membacakan larik kata-kata yang menggedor kalbu.

    .Papa Mama

    Sepasang kakimu,

    telah lama berjalan

    Telah lama mengarungi dan menopang kehidupan

    Entah berapa sering engkau terbangun di malam buta,

    tersaruk menyeret langkah,

    menahan kantuk yang mendera,

    mendengar aku menjerit tiba-tiba

    Entah berapa sering engkau memangku aku, mendendangkan lagu,

    memberiku susu,

    menatapku haru,

    dan berbisik merdu:

    “Aku sungguh menyayangimu, anakku.”

     

     Entah berapa sering engkau telah memenatkan diri

    Bekerja keras mencari nafkah

    Siang malam tak kenal lelah,

    Demi pendidikanku

     

    Demi masa depanku

    Demi kebahagiaanku

    Tak sekalipun engkau mengeluh

    Tak sekalipun engkau merasa jenuh

     

     Sepasang kakimu telah mengantarku ke sekolah

    Sepasang kakimu telah mengantarku ke pelaminan

    Sepasang kakimu telah mengentaskan aku dewasa

    Sepasang kakimu telah lama lelah

     

     Ijinkan aku ya Papa Mama,

    membasuh sejenak kakimu yang mulai kering dan keriput

    Ijinkan aku ya Papa Mama,

    membasuh sejenak,

     

    hatimu yang mungkin lelah,

    yang mungkin pernah kukecewakan atau kusakiti

     

    Mama Papa,

    Terima lasih atas segala kebaikanmu

    Terima kasih atas segala bimbinganmu

    Terima kasih atas segala cintamu

    Ijinkan aku ya Papa Mama,

    Tuk membasuh kakimu

    Ijinkan aku ya Papa Mama,

    Tuk membasuh lelahmu

     

    Ijinkan aku ya Papa Mama,

     

    Tuk meneteskan airmata ini

    Sebagai wujud bakti,

    yang tulus terukir di hati

    Ijinkan aku ya Papa Mama

     

    Suasana khikmat, haru dan  tangispun  pecah,bahkan  orang tua dan anak tahan menahan air mata yang menderas.

    Lusi  Dewi sosok wanita paruh baya yang keseharian menjabat Rektor Universitas Nasioanal Karangturi Semarang merasa terharu saat anak tunggalnya Alvin membasuh kakinya dengan ikhlas.  

    Kemudian setelah bersih menyuguhkannya semangkuk teh  hangat untuknya. Keduanya bergetar dalam atmosfer kasih, berpelukan. Doadan harapan  pun  didedahkan  sang mama untuk anaknya, karena selama ini papanya  menderita sakit tak bisa ikut mengurusi  Alvin.

    Hal demikian juga dirasakan Ari ketika membasuh kaki ibundanya Lim Kim. Ada rasa “ngregel” apalagi diiringi dengan pembacaan puisi yang kata-katanya begitu menggugah. “Sungguh ini sebuah pengalaman yang mengaharukan dan momen penting  yang mengingatkan kita untuk berbakti kepada orangtua. Apalagi seorang ibu yang telah bertaruh nyawanya atas kehadiran kita,” ujar Ari.

    Membangun Relasi Harmonis

     

     

    Membangun Relasi Harmonis

    Ketua Boen Hian Tong. Harjanto Halim mengatakan, kegiatan ini bakti basuh kaki orangtuaini digelar dalam rangkaian hari raya Imlek. Menurut Harjanto banyak tradisi Imlek yang penuh makna dan kearifan lokal yang  terkikis kemudian hilang.

    “Kebanyakan kalau merayakan Imlek orang hanya mengingat tradisi bagi-bagi angpao dan makan makan enak. Banyak tradisi yang inspiratif dan edukatif justru hilang, salah satunya tradisi basuh kaki ini” terang Harjanto.

    Untuk menghidupkan kembali tradisi “Bakti Basuh Kaki Orangtua” inilah Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong sudah beberapa tahun belakangan  menggelar ritual ini.

    “Tradisi sederhana namun  penuh makna yakni tradisi  basuh kaki orangtua ini untuk menngingatkan kembali anak-anak tentang muasalnya dan perjuangan orang tua untuk menghidupi dan mengantar anaknya dalam gelanggang kehidupan. Juga mengingatkan orang tua akan tanggungjawab terhadap anaknya,” ujar Harjanto membeberkan makna di balik kegiatan ini.

    “Dengan berlutut di hadapan orangtua, meminta maaf, berdoa dan membasuh sepasang kaki mereka. Semoga kita semua bisa menemukan kembali makna Imlek yang sesungguhnya,” ujar Harjanto mengingatkan.

    Tradisi Bakti Basuh Kaki Orangtua ini, lanjut Harjanto, dilakukan sebagai bentuk bakti kepada kedua orang tua. Apalagi mengingat sekarang ini terjadi jarak yang renggang antara anak dan orang tua karena antara lain; karena kehadiran gadget dan permainan game online yang di gandrungi oleh kalangan anak anak muda.

    Harjanto berharap tradisi basuh kaki yang mulai ditinggalkan ini,agar kembali dilestarikan,dan diterapkan disetiap keluarga,sehingga antara orang tua dan anak punya hubungan yang harmonis. Selain itu tradisi ini, lanjutnya, bisa membentuk karkater anak menjadi santun juga akan lebih menghormati orang tua .

    Menurut Harjanto kegiatan Bhakti Basuh Kaki Orangtua ini bernilai sangat positif, baik bagi anak maupun orang tua tentu harus  dilestarikan. “Momennya tak hanya menjelang Imlek, tetapi bisa Idul Fitri, Natal, Hari Ibu. Ini bisa dijadikan sarana untuk membangun keharmonisan. Berbahagialah kalian yang masih sempat membasuh kaki orang tuamu,” ujar Harjanto mengingatkan.

     *) Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis, Pegiat Heritage di Jung Foundation Lampung Heritage dan Pan Sumatera Network [Pansumnet] kini bermukim di Semarang.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.