Bahasa Indonesia Rasa Asing - Humaniora - www.indonesiana.id
x

ilustr: Bridgeport Public Library

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 24 Januari 2023 18:31 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Bahasa Indonesia Rasa Asing

    Bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari banyak bahasa. Ada pengaruh bahasa manca negara dan ada juga pengaruh bahasa daerah. Akibatnya banyak kata yang terasa asing buat orang Indonesia sendiri.

    Dibaca : 139 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

     

    Bahasa Indonesia menerima banyak pengaruh sejatinya wajar wajar saja. Apalagi di jaman kekinian ketika sarana komunikasi semangkin jauh memengaruhi semua unsur masyarakat Indonesia. Hubungan internasional makin intensif membuat pengaruh luar makin kuat kepada bahasa Indonesia.

    Akibatnya kata kata serapan semangkin banyak. Baik serapan dari bahasa yang berasal dari manca negara maupun bahasa daerah di Nusantara.  Akibat lebih jauh orang Indonesia sendiri merasa tidak akrab dengan banyak kata kata yang selama ini tidak mereka temui dalam percakapan maupun dalam bacaan.

    Saya yakin sebagian besar dari Anda tidak tahu atau merasa asing dengan beberapa kata berikut ini.  Meskipun saya tahu artinya, saya tidak tahu asalnya. Mungkin dari bahasa daerah, tapi saya tidak tahu daerah mana. Satu hal yang jelas mereka tidak berasal dari bahasa Jawa percakapan yang saya kuasai.    

    ·       Mangkus dan sangkil

     Saya sudah tahu arti dan penggunaan dua kata ini sejak saya kuliah di dasawarsa 80’an.  Waktu itu saya membaca sebuah artikel yang sayangnya saya lupa nama penulisnya.  Saya juga tidak ingat persis media yang menerbitkannya.  Saya hanya ingat samar samar, mungkin harian Kompas atau majalah mingguan Tempo. Meskipun demikian saya tidak pernah atau belum pernah menggunakan kedua kata tersebut dalam artikel atau buku saya.  Selama ini saya masih ragu memakainya karena saya kuatir pembaca tidak memahami maksud saya.  Ketika mengajar bahasa Inggris kadang saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memakai kedua kata tersebut.  Tanggapan yang saya dapat adalah pertanyaan dan bahkan tawa dan candaan dari para murid.

     

    Mungkin Anda dari tadi bertanya apa sih arti kedua kata itu?  Baiklah mari kita simak apa kata Kamus Besar Bahasa Indonesia. 

    Di sana  kata sangkil dilengkapi dengan contoh pemakaiannya dalam kalimat.  sangkil/sang·kil/ 

    v 1 sampai: perahu kecil itu -- dengan selamat ke tempat tujuan; 

    2 kena; mengenai: bidikannya tepat -- sasaran

    3 berdaya guna; efisien.  

    ·       Mangkus.  

    mangkus/mang·kus/ a mustajab; mujarab; manjur; berhasil guna.  Sayangnya tidak ada contoh pemakainnya.meskipun demikian sudah cukup jelas bahwa mangkus adalah padanan kata dari kata efektif, yang diserap dari bahasa Inggris effective.

    ·       Pengacu prayojana

    Di dalam buku terjemahan On writing dari Stephen King Remi Silado memberi pengantar dengan memakai kata ‘pengacu prayojana’.  Saya cari di kbbi.web.id dan inilah jawabannya  ‘Maaf, tidak ditemukan kata yang dicari.  

    Saya lantas mencari kata pengacu prayojana dalam huruf kapital PENGACU PRAYOJANA.  Ternyata frasa ini adalah padanan dari trend setter dalam bahasa Inggris.

    ·       Wanda

    Saya memutuskan memakai kata ‘wanda’ yang berasal dari bahasa Jawa wondo.  Ini adalah padanan dari frasa ‘facial expression’ dalam bahasa Inggris.  Satu kata saja sudah sepadan dengan sebuah frasa. Hebat kan? Kata wanda memang masih asing buat sebagian orang Indonesia karena asalnya dari bahasa Jawa. Tapi kerena dia pas sekali untuk menggantikan frasa facial expression maka sebaiknya kita pakai saja kata wanda ini.

    ·       Senandika

    Pernahkah Anda mendengar atau membaca kata senandika? Ini dia artinya menurut KBBI.

    Wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.

    ·       Larah

    - arah1/la·rah/berlarah-larah/ber·la·rah-la·rah/ v berturut-turut; beruntun;

    melarah/me·la·rah/ v mengambil giliran (untuk menari dan sebagainya)

    Bagaimana pahamkah Anda dengan kata kata di atas tanpa membuka kamus?  Saya yakin sebagian besar dari Anda tidak paham.

    Tujuan komunikasi gagal

     

    Tujuan kita berkomunikasi dengan lisan maupun tertulis adalah untuk menyampaikan gagasan dan perasaan. Jadi idealnya gagasan atau perasaan kita dipahami sepenuhnya alias seratus persen. Tidak hanya sebagian saja dipahami. Kalau hanya sebagian saja dipahami ada resiko.  Resikonya bisa kecil tapi bisa juga besar. 

     

    Oleh karena itu pilihan kata menjadi sangat penting. Kita harus memastikan semua kata kata yang kita pakai dipahami oleh pembaca atau pendengar kita.  Sepintas nampaknya hal ini sepele. Tapi kenyataannya tidak selalu mudah. Apalagi kalau wacana kita ditujukan untuk semua orang dari semua kalangan dan semua usia.

     

    Ucapan lisan dan juga tulisan yang tidak dipahami, atau dipahami sebagian saja sejatinya sudah gagal. Dia gagal menyampaikan isi pikiran atau perasaannya.  Jadi kalau kita memakai kata kata yang asing, kemungkinan gagalnya besar.

     

    Pemahaman kata ‘asing’

    Paparan di atas menjelaskan bahwa asing di sini ternyata bukan hanya kata yang berasal dari manca negara. Kata kata di atas sudah membuat terang benderang soal ini.  Sebaliknya kata seperti review, he she , it itu meskipun berasal dari bahasa Inggris semua orang Indonesia atau paling tidak sebagian besar sudah tahu artinya. Jadi kata kata itu sudah tidak asing lagi.

     

    Jadi bisa saja kata dari Nusantara sejatinya asing dan dari manca negara sejatinya tidak asing.  Tentu sah sah saja siapapun, tidak hanya lembaga pemerintah, mengusulkan atau mengenalkan sebuah kata dari bahasa daerah atau dari manapun untuk menjadi padanan kata atau frasa yang berasal dari manca negara. Tapi apa gunanya kalau tindakan itu justru membuat bahasa Indonesia menjadi asing buat orang Indonesia sendiri.

    Penutup

    Tidak perlu memaksakan kata yang dari manca negara memakai ejaan Indonesia. Misalnya review menjadi reviu. Itu konyol menurut saya.  Saya khawatir apa yang terjadi adalah proses alienasi yaitu  menjauhnya bahasa Indonesia dari penuturnya.  Sehingga bahasa Indonesia justru menjadi bahasa asing buat orang Indonesia sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.