Berburu Pelangi di Wana Wisata Ngadiloyo Sarangan - Travel - www.indonesiana.id
x

Bermain air dan pelangi di air terjun Ngadiloyo

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Rabu, 25 Januari 2023 21:19 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Berburu Pelangi di Wana Wisata Ngadiloyo Sarangan

    Telaga Sarangan merupakan salah satu destinasi yang melegenda. Kawasan wisata ini sudah dikenal sejak jaman Belanda. Sudah kali ketiga saya menyambangi objek wisata yang berlokasi di Magetan, di perbatasan Provinsi Jawa Tengah – Jawa Timur ini. Kali ini saya sengaja menginap karena tertarik dan tertantang untuk trekking ke air terjun Ngadiloyo atau air terjun Tirtosari di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Magetan. Konon di kawasan air terjun yang berada di ketinggian 1500 meter dpl dengan topografi berbukit-bukit ini kalau kita beruntung bisa melihat lintasan pelangi dipagi hari.

    Dibaca : 88 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Telaga Sarangan merupakan salah satu destinasi yang melegenda. Kawasan wisata ini sudah dikenal sejak jaman Belanda. Sudah kali ketiga saya menyambangi objek wisata yang berlokasi di Magetan,  di perbatasan Provinsi Jawa Tengah – Jawa Timur ini.

    Kali ini saya sengaja menginap karena tertarik dan tertantang  untuk trekking ke air terjun Ngadiloyo atau air terjun Tirtosari di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Magetan.

    Konon di kawasan air terjun yang berada di ketinggian 1500 meter dpl dengan topografi berbukit-bukit ini kalau kita beruntung bisa melihat lintasan pelangi dipagi hari.

    Mungkin karena rasa penasaran saya, meski udara dingin serasa menusuk tulang. Pagi-pagi saya sudah bangun dan bersiap-siap menaklukkan tantangan. Saya lihat kawan-kawan yang lain sibuk memesan sarapan pada ibu penjaja makanan keliling, ada yang pesan ketan urap dan ada yang pesan nasi pecel.

    Melihat suasana seperti itu, akhirnya saya  menyelinap pergi tak ingin kehilangan kesempatan melihat busur pelangi yang melintasi air terjun Ngadiloyo.

    Penjual Sayuran (Christian Saputro)

     

    Matahari masih terang tanah. Kabut pagi masih cukup tebal menyelimuti telaga Sarangan. Akhirnya saya meninggalkan penginapan sendiri tentunya tak lupa membawa senjata andalan kamera.

    Sejatinya, saya sendiri belum tahu persisnya lokasi air terjun Ngadiloyo. Baru bebera puluh meter menyusuri jalan di pinggir telaga bertemu kerumunan kera (Macaca fascicularis) yang berebutan remah-remah makanan yang dibuang para pelancong.

    Kera di Bumi Perkemahan Sarangan

     

    Konon kera-kera ini merupakan salah satu penghuni bumi perkemahan Sarangan. Untuk menghilangkan hawa dingin saya berjalan sambil motret sana-sini, mengabadikan bentang alam yang memesona. Tak tentunya juga mengabadikan kawanan kera yang berebutan makanan. Saya sempat terkejut ketika kera-kera yang saya potret merasa terganggu dan mau menyerang saya.

    Sesekali saya berjumpa dengan dengan penduduk kampung, penyabit rumput, pencari kayu bakar, pedagang sayur dan para pemilik kuda sewaan. Saya sesekali juga bertanya tentang lokasi air terjun dengan penduduk yang saya temui di jalan. Saya sudah merasa kelelahan, tetapi berubah jadi bersemangat ketika melihat gerbang pintu masuk ke air terjun Ngadiloyo atau Tirtosari yang berada dekat replica pesawat terbang di Telaga Sarangan.

    Di pintu gerbang ini lingkungan Ngluweng, semestinya pengunjung harus membayar  Rp.9000,-. Tetapi karena saya datang masih terlalu pagi, petugas loket belum datang. Banyak petugas ojek menawarkan jasanya untuk mengantar. Dari pintu gerbang ini kita harus berjalan kaki menyusuri jalur treking. Sedangkan kalau menggunakan jasa ojek melalui jalan beton. Apabila menggunakan jalur treking maka jarak yang ditempuh dari pintu gerbang ke lokasi air terjun ± 1.500 m.

    Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi dengan pemandangan alam yang mempesona. Di kiri kanan hanya ada bukit tinggi nan terjal, dipadu dengan hijaunya kebun sayuran serta angin lembah yang sejuk. Selain itu, rumah-rumah yang bertengger di lereng-lereng dengan warna yang cerah. Sistem pertanian teras sering yang berundak-undak makin memperindah panorama yang ada.

    Lembah Ngagiloyo

     

    Sekira 200 meteran dari air terjun saya bertemu dengan fotografer amatir yang menawarkan jasanya untuk mengabadikan momen. Saya pada awalnya bersikeras kalau mengatakan kalau saya sudah bawa kamera. Tetapi akhirnya saya bersepakat untuk dijadikan modelnya dengan membayar imbalan Rp30.000,- untuk 2 lembar foto ukuran postcard.

     

    Menikmati Keindahan Pelangi di Ngadiloyo

    Semburat matahari mulai muncul ketika saya sampai di lokasi. Air Terjun Ngadiloyo memiliki ketinggian terjun sekitar ±50 meter.  Airnya jatuh turun melalui celah yang diapit oleh batu-batu terjal. Sebagian cahaya matahari menembus air terjun, dan ini yang menimbulkan efek warna-warna pelangi. Pagi ini, rasa lelah saya terasa hilang ketika berhasil melihat busur pelangi menembus air terjun Ngadiloyo. Bahkan saya sempat narsis bergaya di depan fotografer amatir dengan latar belakang air terjun Ngadiloyo.

    Setelah beberapa lama dengan mengambil foto air terjun dari berbagai sudut untuk ilustrasi tulisan,  saya kembali turun. Tetapi baru sekira seratus meter muncul mas Hadi, mbak Endang, mbak Tuti,  Siwi istriku dan Archel anakku menyusulku. Akhirnya, saya berbalik mengantar mereka. Tetapi sebelum sampai ke air terjun  mereka semua berhenti di warung untuk istirahat dan minum teh.

    Berburu Pelangi

    Setelah melepas lelah dan tenaganya pulih kami melanjutkan kembali menuju air terjun. Sesampai di lokasi air terjun ternyata semburat pelangi masih ada, bahkan makin jelas warnanya. Maka mereka berhamburan berebutan untuk narsis dengan latar belakang  air terjun yang dilintasi busur pelangi. Rasa lelah tak terlihat di wajah mereka. Tetapi terlihat rasa puas, karena  mereka berhasil menundukkan tantangan dan berhasil memburu pelangi.

    Pada lokasi air terjun ini sudah dibangun anak tangga dari beton, sehingga mudah dilewati oleh para pengunjung.  Sekelilingnya adalah hutan campuran dengan dominasi tegakan Pinus.

     

     

    Potensi yang dimiliki oleh Wana Wisata  Ngadiloyo, selain air terjun yaitu potensi flora dan  fauna yang beragam. Jenis tanaman yang tumbuh di kawasan hutan ini yaitu : kayu towo (Ficus sp), Puspa (Schima wallichii), Pinus (Pinus sp) , Jabon (Anthocephalus cadamba) dll, sementara jenis fauna yang ada di dominasi oleh jenis burung. Obyek wana wisata ini dikelola oleh Perum Perhutani.  Beberapa fasilitas yang ada antara lain jalan, toilet, warung, mushola serta pintu air irigasi dan instalasinya.

    Jalan Menuju Sarangan

    Kini akses menuju Telaga Sarangan sangat mudah. Pasalnya, pemerintah telah berhasil membangun jalan antarprovinsi yang menghubungkan Tawangmangu (Jateng) – Magetan (Jatim). Kondisi jalan mulus ini kini bisa dilewati baik roda dua maupun roda empat.

    Bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum, untuk mencapai Telaga Sarangan bisa melalui dua arah.Jika mengawali perjalanan  dari Surabaya, Anda bisa menggunakan bus menuju kota Madiun, kemudian berganti kendaraan ke Magetan. Dari terminal ke Magetan bisa naik angkutan umum  L 300 (angkutan pedesaan)  jurusan Sarangan yang akan mengantar Anda hingga lokasi.

    Bila  Anda berangkat dari Jakarta , Semarang, atau Yogyakarta bisa menggunakan kereta api tujuan Solo, atau juga bisa menggunakan kendaraan umum bus. Dari Solo baru Anda naik bus menuju Tawangmangu. Dari Tawangmangu ini  baru berganti naik angkutan umum melalui jalan tembus menuju Sarangan.

    Di jalan tembus ini Anda akan menikmati pemandangan alam yang asri. Di sisi kanan – kiri jalan yang menghubungkan kabupaten Karanganyar dan kabupaten Magetan sepanjang 17 kilometer Anda akan melihat pemandangan yang memesona.

    *) Christian Heru Cahyo saputro, tukang tulis, tukang motret penyuka jalan-jalan bermukim di Kota Semarang, Jawa Tengah.

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.