Kebudayaan dan Pembangunan Keluarga - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi rumah tangga

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

1 hari lalu

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kebudayaan dan Pembangunan Keluarga

    Kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun keluarga. Bagaimana penjelasannya? Silahkan baca.

    Dibaca : 70 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bambang Udoyono

    Pada hakekatnya belajar sejarah itu bukanlah menghafalkan kejadian dan angka tahunnya.  Hakekatnya belajar sejarah adalah menemukan pola kejadian, menemukan keajegan tingkah laku manusia pada situasi tertentu.  Lalu idealnya merumuskan kode tingkah laku (code of conduct) untuk menyiasati jebakan sejarah.  Kode tingkah laku ini adalah semacam ‘rambu navigasi’ dalam perjalanan kehidupan manusia.

     

    Itulah yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita.  Buktinya mereka sudah mampu menuliskan banyak peribahasa, pepatah, kata mutiara atau apapun namanya.  Kata bijak itu berisi saran untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar perjalanan hidup kita selamat tidak hanya di dunia tapi sampai ke tujuan akhir di akherat. Salah satu contohnya sudah saya tulis kemarin yaitu Mélik nggéndong lali, Sabdo Pandito Ratu  dll.    Selain itu masih banyak lagi kalimat mutiara pusaka nenek moyang kita.  Mungkin lain kali saya akan membahasnya.

     

    Kata mutiara itu ditulis dengan singkat tapi jelas.  Namun karena latar belakang orang beragam, kadang ada orang yang tidak menyadari keunggulan, keutamaan dan manfaatnya.  Oleh karena itu dibutuhkan pembahasan dalam sebuah artikel pendek atau bahkan mungkin sebuah buku.  Keduanya memiliki plus minusnya.  Bahasan dalam buku lebih mendalam dan tuntas.  Namun artikel pendek juga memiliki keunggulannya sendiri berupa kecepatannya mencapai pembaca melalui medsos.

     

    Disadari atau tidak manusia dipengaruhi oleh budaya tempatnya tumbuh.  Perilaku manusia dengan latar budaya Eropa berbeda jauh dengan manusia yang tumbuh dalam budaya Jawa.  Value system yang terkandung dalam budaya membentuk perilaku dan pola pikir manusia penganutnya.  Itulah sebabnya ada sekelompok orang yang bercita cita menjadi penguasa, ada yang memandang tinggi kekayaan dari perdagangan,  ada yang bercita cita menjadi ilmuwan, penemu, industrialis dsb.  

     

    Apa relevansinya dengan parenting?  Demikian mungkin pertanyaan Anda.  Pasti adalah.  Karena manusia dipengaruhi oleh budaya maka ketika mulai membangun keluarga mestinya (calon) pasutri membahas dengan mendalam untuk menentukan budaya apa yang akan dianut keluarganya. Value system (nilai nilai) seperti apa yang akan ditanamkan kepada anak anaknya mesti dibahas dan diputuskan sebelum menikah dan diterapkan setelah menikah.

     

    Itulah sebabnya pasangan (calon) suami istri perlu berdiskusi untuk merancang sistem nilai yang menjadi dasar untuk keluarga mereka. Anda tidak perlu repot repot mencari karena Islam sudah menawarkan konsep pendidikan keluarga. Kemudian nenek moyang kita juga sudah mewariskan banyak sistem nilai yang bisa jadi rujukan juga. Sistem nilai yang tertulis dalam pepatah dan peri bahasa dari banyak suku itu bisa dipakai juga. Pasangan suami istri juga perlu membuang jauh sistem nilai yang sudah terbukti menjadi kendala kemajuan. Contohnya feodalisme. Negara negara maju sudah lama membatasi feodalisme hanya sebagai simbol saja. Ini salah satu hal yang perlu kita contoh dari Barat.

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.