Kata Mutiara Rumi: Jadilah Orang yang Hidup Dinamis

Senin, 6 Februari 2023 12:03 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rumi mengatakan bahwa tidak semua orang benar benar hidup. Apa kira kira maksudnya?

Oleh: Bambang Udoyono

I learned that every mortal will taste death. But only some will taste life.  Saya menyadari bahwa setiap mahluk hidup akan mati. Tapi hanya beberapa yang benar benar hidup.  Demikian terjemahan bebas dari kata Mutiara Maulana Jalaludin Rumi, sang sufi kondang dari Konya, Turki. Apa maksud Rumi? Mari kita bahas.

Saya punya tafsiran atas kata Mutiara Rumi di atas.  Saya meyakini apa yang dia maksudkan adalah  perbedaan orang yang hidupnya tidak dinamis dengan yang dinamis.  Banyak orang yang tidak ada dinamika dalam hidupnya.  Orang yang seperti itu hanya badannya saja yang hidup.   Fisiknya bisa saja sehat.  Tapi peran sosialnya tidak sehat. Hati dan jiwanya juga tidak sehat.

 

Saya percaya Rumi memandang dari perspektif religius spiritual. Jadi hidup yang dinamis atau hidup yang benar benar hidup adalah hidup yang mengalami kemajuan spiritual.  Dengan kata lain orang yang perjalanan hidupnya baik. Jadi sejak kecil sampai dewasa orang yang demikian itu mengalami kemajuan. Dia akan berkembang menjadi pribadi yang semakin baik. Setiap hari dia berjalan menjadi hamba Allah yang semakin baik.  Dia mengalami kemajuan spiritual dan sosial. Orang yang demikian adalah orang yang mampu memberi manfaat kepada masyarakat. Dan manfaat yang diberikannya kepada masyarakat semakin berkembang. 

 

Masyarakat yang mendapat manfaat dari amalnya semakin banyak. Atau manfaat yang diberikannya kepada masyarakat semakin hari semakin banyak.  Jadi orang yang ideal adalah yang hidupnya merupakan proses perjalanan menuju ke tingkat yang semakin mulia.

 

Nabi Muhammad saw bersabda bahwa sebaik baik orang adalah yang bermanfaat buat orang lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa orang yang hidupnya dinamis dari sudut pandang spiritual adalah orang yang semakin hari semakin luas dan semakin baik peran sosialnya.

 

Apakah artinya kita harus meninggalkan kehidupan duniawi?  Sama sekali tidak. Menjadi kaya tidak dilarang dalam Islam.  Muslim boleh boleh saja menjadi kaya raya dengan bekerja apa saja asal halal. Muslim boleh saja berdagang, menjadi pejabat, penulis, dll.

 

Justru dengan menjadi pebisnis kaya itu itu bagus karena bisa menampung banyak tenaga kerja dan membawa manfaat, asal bisnisnya halal. Demikian juga menjadi pajabat juga baik. Makin tinggi posisinya dan makin besar kewenangannya maka makin banyak orang yang terdampak kebijakannya.  Itu bagus asal kebijakannya membawa manfaat buat masyarakat. Bahkan pemimpin yang adil bisa masuk sorga.

 

Jadi silahkan saja berbisnis, berkarir, berpolitik untuk menggapai keuntungan atau posisi tinggi. Upayakan sebaik baiknya agar kehidupan ini berarti dengan menggapai kemajuan di banyak bidang.  Jangan lupa niatkan juga peran sosial kita meningkat agar sumbangan kita atau amal kita semakin baik. Itulah persembahan kita kepada Allah swt.  Orang yang beriman dan beramal soleh dijanjikan mendapat pahala besar. Mereka akan kembali ke tempat yang paling baik dan paling mulia yaitu sorga.

 

Saya kira Rumi ingin mengatakan bahwa idealnya manusia itu hidupnya dinamis. Manusia harusnya berkembang menjadi hamba Allah yang semakin hari semakin baik.  Yaitu orang yang mengalami peningkatan spiritual.  Amal ibadahnya semakin banyak dan semakin baik. Itulah kehidupan orang yang dinamis dari sudut pandang spiritual. Dia memiliki ilmu, harta, kekuasaan. Dengan itu dia memberi manfaat yang makin baik dan makin banyak pada masyarakat.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua