Adakah Hubungan Pikiran dengan Nasib Manusia?

Senin, 13 Februari 2023 05:59 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pikiran sadar menghasilan ide dan menanam ide-ide tersebut ke dalam pikiran bawah sadar. Lalu, pikiran bawah sadar menerima ide dan memberi bentuk (wujud) pada ide sehingga menjadi sebuah realitas.

“Ibarat sebuah ladang atau kebun, pikiran merupakan lahan subur untuk menyemai. Apa yang kita tanam di pikiran kita, itulah yang akan menjadi nasib kita”

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas apa itu pikiran, pembagian pikiran, maupun fungsi-fungsi dan perannya secara akademis. Saya yakin pembaca yang budiman telah memahaminya secara baik. Di sini saya ingin melihat pikiran dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba mengungkap misteri pikiran (terutama pikiran bawah sadar) yang jarang kita amati dan perhatikan.

Laksana sebuah aliran sungai, pikiran pun memiliki cabang, yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (subcoscious mind). Untuk mengetahui cara kerja pikiran, kita perlu memahami hubungan keduanya. Pikiran sadar bersifat personal dan selektif, sedangkan pikiran bawah sadar memiliki sifat sebaliknya, nonpersonal dan nonselektif.

Pikiran sadar adalah dunia akibat, sementara pikiran bawah sadar adalah dunia sebab. Sekiranya dikaitkan dengan gender, pikiran sadar adalah laki-laki, sedang pikiran bawah sadar adalah perempuan. Pikiran sadar menghasilan ide dan menanam ide-ide tersebut ke dalam pikiran bawah sadar. Lalu, pikiran bawah sadar menerima ide dan memberi bentuk (wujud) pada ide sehingga menjadi sebuah realitas.

Pikiran bawah sadar tidak pernah menghasilkan ide atau gagasan. Ia menerima sebagai sebuah KEBENARAN semua hal yang dirasa benar oleh pikiran sadar. Inilah mengapa pikiran bawah sadar memiliki sifat nonselektif, karena ia tidak bisa membedakan antara imajinasi dan realita. Melalui proses dan mekanisme yang hanya diketahui oleh pikiran bawah sadar, semua ide-ide akan mewujud menjadi realitas fisik. Proses dan mekanisme tersebut tersembunyi jauh di kedalaman lubuk pikiran bawah sadar, di dalam rahim penciptaan realita. Oleh karena itulah, pikiran bawah sadar disebut sebagai “perempuan”.

 

Kepercayaan sebagai Operating System  (OS)

Seumpama sebuah perangkat komputer, pikiran juga memiliki perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), maupun sistem operasi (operating system). Perangkat kerasnya ya pikiran itu sendiri, perangkat lunaknya adalah berbagai pikiran dan perasaan yang kita instal di pikiran bawah sadar, sedangkan OS-nya adalah kepercayaan (belief). Kepercayaan ini terletak di pikiran bawah sadar.

Kepercayaan ini terutama yang ditanamkan ketika kita masih kanak-kanak oleh figur-figur otoritas, seperti orang tua, guru, pengasuh, wali, dan orang-orang yang berada di lingkungan sekitar. Kepercayaan ini meliputi keyakinan, pola pikir (mindset), paradigma, sudut pandang, persepsi, citra diri, dll. Kepercayaan inilah yang nantinya akan menentukan nasib seseorang. Sebagaimana kita tahu bahwa apa yang ada di pikiran bawah sadar akan diubah menjadi realita (kenyataan).

Kepercayaan yang berada di pikiran sadar berbeda dengan kepercayaan di pikiran bawah sadar. Yang akan dipakai dan akan menjadi kenyataan adalah kepercayaan yang berada di pikiran bawah sadar. Contoh, pikiran sadar percaya bahwa mencari pasangan hidup itu tidak sulit, sementara pikiran bawah sadarnya meyakini bahwa mencari jodoh itu sulit. Maka yang akan terjadi adalah dia akan sulit menemukan jodohnya. Pikiran sadar mengatakan, “Mulai hari ini saya akan berhenti merokok!”. Sementara pikiran bawah sadar meyakini bahwa merokok itu membuat nyaman, dapat menghilangkan stres, atau sebagai teman kesepian. Maka yang akan terjadi adalah ia tidak akan berhenti merokok.

Oleh karena itu, di dalam Islam, perihal kepercayaan atau keyakinan ini menjadi aspek terpenting dalam beragama maupun dalam menjalani kehidupan. Orang yang memiliki keyakinan yang kuat dan teguh, dijamin oleh Allah hidupnya akan selamat dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Maka, setiap Muslim diharapkan memiliki keyakinan yang benar, dan menghindari keyakinan-keyakinan yang menyimpang dan menyesatkan. Setiap Muslim haruslah optimis, berpikir positif (husnuzhan), dan beritikat baik.

Pikiran bawah sadar menerima apa yang kita RASA sebagai hal yang benar, bukan apa yang kita pikir benar.

 

Peran Emosi atau Perasan Negatif

Cara kerja pikiran bawah sadar adalah melampui logika dan tidak terpengaruh oleh fakta. Ia menerima emosi atau perasaan sebagai sebuah fakta atau kebenaran. Lalu ia memberi bentuk atau wujud pada perasaan. Proses penciptaan bermula dari sebuah ide dan berlanjut dengan perasaan dan berakhir dengan dorongan untuk melakukan sesuatu (bertindak) dan menghasilkan akibat. Dengan demikian, pikiran bawah sadar adalah dunia SEBAB.

Sebuah ide tertanam di pikiran bawah sadar salah satunya melalui media PERASAAN. Saat suatu ide dengan muatan emosi tertentu (baik positif maupun ngatif) diterima pikiran bawah sadar, ide tersebut pasti akan diwujudkan menjadi realita, tidak peduli ide itu baik atau buruk. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mampu mengendalikan perasaan negatifnya akan menanam ide buruk di pikiran bawah sadar. Itulah yang nanti akan ia dapatkan. Dan itulah yang akan menjadi NASIB dia.

Sangat penting untuk mengendalikan perasaan. Jangan pernah memelihara atau terus-menerus membiarkan diri kita merasakan perasaan-perasaan negatif. Marah, benci, sakit hati, iri-dengki, cemas, takut, rendah diri, pesimis, putus asa, rasa bersalah, menyesal, sedih, dll sebaiknya segera dihilangkan dari perasaan. Setiap perasaan akan meninggalkan kesan (impresi) di pikiran bawah sadar. Jika tidak segera dinetralkan oleh perasaan lain yang lebih kuat, perasaan ini pasti akan terwujud menjadi kenyataan. Karena realita (nasib) kita adalah hasil dari ciptaan perasaan kita sendiri.

Di dalam kitab suci agama-agama, selalu ada anjuran untuk menghindari perasaan-perasaan negatif. Selain akan merugikan diri sendiri juga dapat merugikan orang lain. Bahkan, dalam Islam, orang yang memiliki sifat-sifat negatif akan mendapatkan dosa. Akibat dari dosa ini akan dirasakan baik ketika di dunia ini maupun di akhirat kelak. Akibat dari dosa inilah yang disebut sebagai nasib, karena merupakan hasil dari pemikiran atau perbuatannya sendiri.

 

*****

Sebagai penutup, jangan pernah menyia-nyiakan satu detik pun dalam hidup dan kehidupan kita dengan memelihara atau menyimpan berbagai perasaan negatif, termasuk merasakan kembali emosi negatif yang berasal dari peristiwa masa lalu. Isilah waktu demi waktu kehidupan kita dengan pikiran dan perasaan positif, agar nasib kita juga menjadi positif (baik).

Jika sekiranya takdir adalah Tuhan yang menentukan, maka NASIB adalah diri kita sendiri yang menentukan.

 

Referensi:

Adi W. Gunawan, Quantum Life Transformation, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009.

Carol S. Dweck, Ph.D, Mindset, Mengubah Pola Berpikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda, Penerbit BACA, Tangerang Selatan, 2022.

https://adiwgunawan.com

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Serenade Biru Sengketa di Laut China Selatan

Kamis, 25 April 2024 13:37 WIB
img-content

Ketika Sakit Tak Harus Menderita

Senin, 18 September 2023 20:16 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua