Tafsir Cerita Ramayana

Senin, 20 Februari 2023 11:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Cerita wayang mengandung banyak metafora. Demikian juga cerita Ramayana. Bagaimana tafsirnya?

Oleh: Bambang Udoyono

Siapa tak kenal dengan cerita Ramayana? Mereka yang masih tinggal di lingkungan sosial berbudaya Jawa, Sunda, Madura dan Bali mungkin memahami cerita ini dengan baik.  Saya sudah membacanya sejak kecil.  Kemudian ketika beranjak dewasa saya sering nonton pertunjukan wayang kulit dengan cerita ini.  

 

Ada sebuah tafsir tentang cerita ini yang saya pernah baca.  Saya membacanya di sebuah koran tapi sayang sekali saya sudah lupa nama korannya apalagi nama penulisnya. Meskipun demikian ada satu poin yang masih saya ingat sampai sekarang.   Penulis ini manafsirkan sebuah episode dalam cerita ini dengan sangat menarik sehingga saya masih ingat sampai sekarang.   Mari kita tinjau dulu ringkasan beberapa episode kisah Ramayana.

 

Romo dan istrinya Sinto sedang berada di sebuah hutan dengan ditemani oleh Lesmono, adik laki laki Romo ketika Sinto melihat seekor kijang emas.  Sinto sangat tertarik lantas meminta suaminya menangkap kijang tersebut.  Romo meminta Lesmono menjaga Sinto lalu dia memburu si kijang.  Pada awalnya dia ingin menangkap si kijang hidup hidup tapi ternyata kijang itu mampu berlari dengan sangat cepat sehingga Romo tidak mampu menangkapnya.  Romo terus mengejar sehingga mereka tidak terlihat lagi oleh Sinto dan Lesmono.

 

Romo kehilangan kesabaran lantas memanah kijang itu.  Anak panah melesat dan tepat mengenai si kijang. Si kijang menjerit keras memanggil nama Sinto lalu jatuh tersungkur dan berubah ujud menjadi seorang raksasa.  Ternyata dia adalah Kolo Marico, seorang prajurit dari kerajaan Alengko yang disuruh oleh rajanya Rahwono alias Dosomuko untuk menggoda Romo dan Sinto.  Kolo Marico berhasil menjalankan tugasnya dengan baik yaitu memisahkan Romo dari Sinto.

 

Sementara itu Sinto yang dijaga oleh Lesmono mendengar suara jeritan yang memanggil namanya dari kejauhan.  Sinto lalu meminta Lesmono untuk menyusul kakaknya karena dia mengkuatirkan keselamatan Romo.

 

Pada awalnya Lesmono menolak.  Dia sangat yakin dengan kesaktian kakaknya.  Dia yakin tak seorangpun mampu mengalahkan Romo.  Tapi Sinto tetap berkeras memerintahkannya mencari Romo.  Akhirnya Lesmono mengalah tapi dengan syarat Sinto tidak keluar dari garis yang  dia buat.  Lesmono kemudian membuat garis melingkar di tanah.  Dia menekankan agar Sinto jangan melangkah keluar dari garis itu, apapun yang terjadi.  Sinto berjanji mematuhinya.  Setelah itu Lesmono pergi menyusul Romo.

 

Tidak lama kemudian muncul seorang pengemis mendatangi Sinto untuk meminta sedekah.  Ketika pengemis akan melangkahi garis yang sudah dibikin oleh Lesmono seketika dia langsung jatuh terjengkang ke belakang seolah olah ada kekuatan yang mendorongnya.  Sinto merasa iba lantas dia melangkah keluar dari garis untuk menolong pengemis dan memberinya sedekah.  Si pengemis mendadak berubah menjadi seorang raksasa yang gagah perkasa yang lantas memaksa Sinto mengikutinya.  Dialah Rahwono, raja Alengko yang mencintai Sinto dan ingin memperistrinya meskipun Sinto sudah bersuami.  Kemudian Sinto dibawa ke Alengko.  Inilah penyebab perang besar antara Romo yang memiliki bala tentara kera dengan Rahwono dengan bala tentara buto (raksasa).

 

Penulis tadi menafsirkan peristiwa ini dengan menarik.  Menurut dia garis yang dibikin oleh Lesmono adalah metafora dari norma agama.  Wanita dibatasi perilakunya oleh norma agama.  Ketika dia berada di dalam garis itu dia akan tetap selamat.   Tetapi kalau dia melangkah keluar dari garis itu alias melanggar norma agama maka dia akan mendapatkan malapetaka yang disimbolkan dengan diculik raja raksasa.

 

Saya perhatikan di dalam masyarakat banyak wanita yang menjadi ruwet hidupnya karena melangkah keluar dari norma agama.  Sebaliknya banyak sekali wanita yang tetap aman bahkan hidup mulia karena tetap berada di dalam garis itu. 

 

Tafsir lain adalah tentang kijang emas.  Dia menafsirkannya sebagai harta duniawi.  Wanita bisa mendorong suaminya terlalu bernafsu mengejar harta duniawi sehingga berakibat negatif.  Bukan kebahagiaan yang didapat tapi justru malapetaka.

 

Kemudian tokoh Rahwono, si raja raksasa dari negeri Alengko yang menculik Sinto, juga peuh metafora.  Nama lainnya adalah Dosomuko. Doso artinya sepuluh. Muko artinya muka atau wajah. Jadi dalam cerita itu dia memiliki sepuluh kepala atau sepuuh wajah.

 

Saya yakin itu juga metafora.  Gambaran itu maksudnya adalah seorang penguasa yang memiliki banyak wajah. Ada wajah yang humanis. Ada wajah yang ganas. Ada wajah yang merakyat. Ada yang kejam dll. Dalam Bahasa kekinian ada istilah pencitraan. Kalau dikemas dengan baik upaya pencitraan ini bisa memengaruhi opini publik.  Tokoh yang dicitrakan dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai sosok sempurna tanpa cacat. Seolah dia adalah tokoh ‘putih, alias tokoh baik penyelamat bangsa dan negara dari kejahatan tokoh hotoh ‘hitam’.  Pencitraan ini membuat masyarakat berpikir hitam putih. Ada sosok yang dianggap ‘hitam’ dan dianggap ‘putih’.

 

Dosomuko alias Rahwono digambarkan punya ilmu tinggi. Salah satu kemampuannya adalah ‘tiwikromo’. Ini adalah kemampuan menjadi rkasasa sebesar ‘gunung anakan’ (gunung kecil).  Lagi lagi ini adalah metafora kekuatan politik yang perkasa.

 

Gambaran kemampuan ‘tiwokromo’ tidak hanya dimiliki Dosomuko. Suatu hari Dosomuko dihajar oleh seorang raja bernama Harjuno Sosrobahu yang bisa mengubah dirinya menjadi sebesar ‘pitung gunung’ (tujuh gunung).  Ini juga metafora. Harjuno memiliki kekuatan politik yang jauh lebih perkasa.

 

Salah satu episode dalam cerita Ramayana di dalam wayang Jawa adalah ‘Anoman Duta’. Artinya Anoman menjadi utusan Romo untuk menemui Rahwono. Anoman adalah sesosok monyet berbulu putih. Meskipun monyet dia bukan sembarang monyet. Dia seekor monyet sakti karena dia adalah anak Betoro Guru dengan Dewi Anjani. Itulah sebabnya dia menjadi salah seorang perwira di dalam tantara monyet.

 

Setelah diperintahkan pergi ke Alengko dia berangkat dengan dikawal oleh para punokawan.  Semar, Gareng, Bagong dan Petruk menemaninya ke Alengko.  Ketika sedang berjalan di sebuah hutan dia bertemu dengan seorang wanita cantik sekali bernama Dewi Sayemprobo. Sang Dewi menyilakan mereka mampir. Anoman tidak keberatan. Dia mampir. Kediaman Dewi adalah sebuah goa. Dulunya itu adalah istana mewah yang dikutuk dewa menjadi goa. Dewi Sayemprobo menjamu mereka dengan aneka macam makanan dan minuman. Setelah berpesta pora Anoman kemudian menjadi buta.  Semar yang tidak ikut berpesta pora tidak buta. Dialah yang menuntun Anoman keluar dari sana.

 

Episode ini juga mengandung metafora. Saya kira sang pujangga bermaksud menyampaikan pesan bahwa gaya hidup mewah dan wanita bisa membuat seorang laki laki menjadi buta mata hatinya. Bukan mata raga yang dimaksud. Akibatnya dia tidak melihat jalan yang benar. Maka misi hidupnya bisa gagal.

 

Kemudian Anoman ditolong oleh seekor burung garuda. Sang garuda menjilati matanya.  Setelah itu mata Anoman sembuh, dia kembali awas dan mampu melihat jalan lagi.

 

Ini juga metafora.  Saya kira sang pujangga ingin menyampaikan pesan bahwa orang yang penuh dosa dan kesalahan bisa saja mendapat ampunan dari Tuhan kalau bertobat. Setelah diampuni dia bisa memulihkan mata hatinya lagi. Dia kembali bisa melihat jalan yang benar.   

 

Karya sastra memang penuh dengan metafora yang terbuka terhadap tafsir.  Sah sah saja kita menafsirkan karya sastra.   Monggo menafsirkan sendiri.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua