Kedai Kopi Tengah Malam

Sabtu, 8 April 2023 06:56 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

cerpen / fiksi

Kedai Kopi di Tengah Malam 

Oleh: Vito Prasetyo

Abimanyu begitu tergesa-gesa ketika menghampiri Ragil. Waktu itu, belum begitu malam. Langit kelihatan cerah, meski bintang-gemintang belum kelihatan kelap-kelipnya. Ragil yang saat itu tengah duduk di teras rumahnya, kaget dengan sikap Abimanyu, tidak seperti biasanya. Pikirannya spontan berprasangka akan ada berita buruk. Ragil sangat hapal dengan kebiasaan Abimanyu.

“Ada apa, kamu seperti dikejar-kejar setan?”

Abimanyu belum sempat duduk di kursi, langsung disergap pertanyaan oleh Ragil. Sambil mengatur napasnya, Abimanyu langsung duduk di sebelah Ragil, meski belum dipersilakan duduk. Wajahnya kelihatan tegang dan butiran keringat kecil mulai membasahi dahinya. Ragil menatap lekat wajah Abimanyu.

“Ada apa Abi?” Kembali Ragil bertanya.

“Begini Ragil ……” Abimanyu seakan menata kata-kata yang ingin diucapkannya.

“Barusan, saya dapat kabar dari tanteku di Salatiga, anaknya meninggal akibat kecelakaan.”

“Terus, apa hubungannya denganku?” Tanya Ragil.

Setelah Abi jelaskan panjang lebar, Ragil pun menghela napas panjang. Sulit untuk menolak permintaan Abi. Persahabatan mereka yang sudah belasan tahun, seperti sudah saling memahami sifat dan karakter satu sama lainnya. Dan lagi, musibah bisa saja terjadi pada siapa pun. Kali ini Abi butuh bantuan Ragil, karena saudara atau entah itu famili Abi barusan meninggal disebabkan kecelakaan lalu lintas.

Malam ini juga Abi harus berangkat ke Salatiga, dan Abi mengajak Ragil untuk menemaninya. Entah apa yang ada di benak Ragil. Selama perjalanan Ragil hanya memilih berdiam diri sambil konsentrasi menyetir mobil. Abi juga kelihatan gelisah, karena berharap mobil bisa sampai secepatnya. Tapi ini tidak mungkin, karena jarak kota mereka menuju ke Salatiga lumayan jauh. Mungkin ditempuh sekitar lima jam.

Sebetulnya Abi sedikit was-was, mengingat kondisi Ragil yang belum sempat istirahat setelah pulang kerja, sore tadi. Sebaliknya, Ragil tidak ingin Abi menyetir mobil karena khawatir tidak bisa konsentrasi, mungkin karena pikirannya terbebani musibah yang terjadi. Lama-kelamaan, Ragil juga mulai terasa letih. Dia menengok kanan-kiri selama perjalanan. Tidak ditemukannya, rumah atau warung, sepanjang jalan hanya sawah dan hutan kecil. Agaknya Ragil menyesal juga, kenapa tadi saat melintasi perkotaan yang banyak warung, dia tidak mau berhenti.

“Sialan!” Ragil hanya bisa menggerutu dalam hati.

Agaknya gerutu Ragil seperti terdengar malaikat, atau entah makhluk lain. Dari kejauhan, kelihatan ada lampu redup, kelap-kelip, tetapi seperti sebuah rumah atau warung. Ragil bergegas melarikan mobilnya agar segera sampai.

Benar saja, lampu redup yang tadinya kelihatan dari jauh berasal dari warung di tengah hutan. Ragil pun merasa sedikit lega, ketika turun dari mobilnya dan langsung masuk ke warung tersebut. Pemilik warung, seorang lelaki agak tua bertanya pada Ragil, yang langsung duduk di bangku warung tersebut. Tak berapa lama, Abi juga duduk di sebelah Ragil.

“Mau pesan apa, Mas?”

“Kopi, Pak.” Hampir bersamaan Ragil dan Abi menjawab.

Udara di luar terasa begitu dingin, tiba-tiba saja Ragil merasa seperti ada yang sedikit aneh. Kenapa warung ini berada di tengah hutan, dan sekitarnya tidak ada rumah penduduk. Warung yang berada di pinggir jalan itu, tetap saja terasa aneh, karena letaknya di tengah hutan. Jalan yang mereka lalui ini termasuk jalur penghubung antar kota. Kalaupun ada kendaraan yang lewat, sangat jarang sekali. Mungkin semalam bisa dihitung dengan jari.

Sambil menikmati kopi hangat, Ragil memandangi seluruh isi warung. Tampak seorang gadis yang masih muda sedang duduk di depan tungku perapian. Sepertinya tungku itu untuk memasak. Gadis itu sempat melirik ke arah Ragil, tanpa senyum dan suara. Sorot matanya seperti tak bersinar sama sekali. Entah, gadis itu adalah anak atau cucu lelaki tua pemilik warung tersebut.

Konon daerah sekitar sini, menyebut dengan kedai kopi. Angin makin kencang berhembus ke dalam warung. Bersamaan hembusan angin, juga tercium aroma wewangian kembang. Ragil mulai merasa ada keanehan. Di luar sana hanya tumbuh pepohonan besar, dan tidak terlihat tanaman bunga. Lantas, aroma wewangian ini dari mana asalnya? Tak sengaja, Ragil juga memandang lelaki tua tersebut, sorot mata lelaki tersebut seakan tanpa cahaya.

Mereka pun melanjutkan perjalanan. Ragil jadi ingat ketika beberapa kali lewat jalur Mantingan, jalan tersebut juga melewati hutan jati dan berkelokan, tetapi tidak sesepi jalan yang dilewatinya kini. Ketika meninggalkan warung tadi, Ragil sempat merinding, ternyata di sebelah warung tersebut ada pekuburan yang tidak terlalu luas.

Dan sepanjang perjalanan, perasaan Ragil seakan tidak tenang dengan beberapa keganjilan yang ditemuinya. Tapi betul-betul aneh, Abi seperti tidak merasakannya. Akhirnya perjalanan mereka tiba di tujuan.

Rumah duka yang didatangi berada di daerah pinggiran kota, sehingga tidak terlalu ramai. Apalagi tengah malam seperti saat ini tentu banyak yang sudah tertidur pulas. Dan di teras rumah duka, hanya ada beberapa orang berkumpul. Tampaknya Abimanyu sudah begitu paham dengan kondisi sekitarnya, sehingga tidak tampak sikap rikuh masuk keluar rumah duka tersebut.

Ragil yang baru pertama kali ke tempat ini, hanya duduk berdiam diri di sudut ruang tamu. Sambil memandang sekitarnya, Ragil bersandar di dinding ruang tamu. Ragil tampak kaget sekali, ketika melihat sebuah foto yang tergantung di sudut tembok.

“Bukankah gadis di foto tersebut, sama dengan gadis yang berada di warung kopi tadi?”

Ragil hanya diam, tidak berani bercerita kepada Abi. Atau mungkin karena halusinasi pikiran Ragil. Pikirannya berontak, antara kejadian nyata atau bukan. Selama hidupnya, baru kali ini Ragil mengalami kejadian yang sedikit horor. Meski dadanya bergemuruh kencang, Ragil berusaha tetap tenang, bagaimanapun juga kedatangannya sebagai tamu. Sangat kurang sopan bercerita tentang kejadian ini di tengah keluarga yang mengalami musibah.

Sepulang dari Salatiga, Ragil memilih lewat jalur yang sama dilewatinya semalam. Ragil berniat untuk mampir kembali ke warung tersebut. Hingga jalur hutan yang dilaluinya tinggal menyisakan pemandangan sawah dan sudah masuk wilayah kota lain, Ragil tidak lagi menemukan warung kopi tersebut. *****

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Vitto Prasetyo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Sunyi di Parangtritis

Rabu, 13 September 2023 21:14 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua