Dari Malinau Untuk Indonesia

Selasa, 25 April 2023 13:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Era otonomi daerah membuat pengelolaan daerah lebih kontekstual. Isu-isu daerah, budaya dan kearifan lokal mendapat tempat untuk pertimbangan pengambilan keputusan. Banyak contoh baik pemerintahan berbasis konteks lokal yang berhasil. Bahkan memberikan pengetahuan dan pengalaman yang bisa digunakan dalam pemerintahan di skala nasional. Contohnya adalah pemerintahan di Kabupaten Malinau yang sangat kontekstual tetapi bisa diterapkan dalam skala nasional. Contohnya adalah tentang pembangunan yang berpusat pada masyarakat desa dan berpangkal pada kebhinnekaan.

Judul: Dari Malinau untuk Indonesia – Budaya Membangun Bangsa

Penulis: Yansen Tipa Padan

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2022

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: viii + 244

ISBN: 978-602-06-6528-3

 

Sejak desentralisasi diterapkan di Indonesia tahun 2000, kesempatan putra daerah untuk memimpin daerahnya menjadi sangat terbuka. Sejak saat itu rekrutmen pimpinan daerah tidak lagi diatur dari Pusat. Setidaknya peran pusat dalam seleksi calon pemimpin daerah menjadi sangat berkurang. Orang-orang di daerah bisa menentukan sendiri siapa yang layak untuk memimpin daerah mereka.

Meski sudah lebih dari 20 tahun, dan banyak pimpinan daerah yang berasal dari putra daerah, namun sangat jarang kita lihat sumbangsih kepemimpinan daerah yang menyumbang kepada model kepemimpinan di negeri ini. Padahal pengalaman kepemimpinan di daerah yang unik karena harus menyesuaikan dengan kondisi ekonomi, politik, sosial dan budaya setempat adalah pengalaman yang sangat kaya dan bisa menjadi sumber bagi model kepemimpinan nasional.

Sangat minimnya sumbangsih kepemimpinan daerah untuk kepemimpinan nasional ini bisa disebabkan karena kurang berhasilnya para putra daerah dalam memerintah daerahnya, atau bisa juga karena kurangnya perhatian dari berbagai pihak untuk mendokumentasikan keberhasilan-keberhasilan di daerah yang berpotensi meningkatkan model kepemimpinan nasional. Harus diakui bahwa tidak banyak ilmuwan yang melakukan penelitian di bidang ini. Di saat yang sama, sangat jarang pemimpin daerah yang mau membagikan pengalamannya dalam bentuk tulisan yang terstruktur dengan baik tentang pengalamannya memimpin daerahnya.

Buku “Dari Malinau Untuk Indonesia” karya Yansen TP adalah salah satu buku yang menurut saya sangat relevan dalam membahas topik kepemimpinan di daerah dan sumbangsihnya kepada kepemimpinan nasional. Dari buku ini kita bisa belajar bahwa pengalaman pengelolaan pemerintahan lokal bisa menjadi sumber inspirasi dalam kepemimpinan nasional.

Yansen TP adalah mantan Bupati Kabupaten Malinau. Kabupaten Malinau terletak di perbatasan Indonesia dengan Malaysia di Pulau Kalimantan. Yansen memberikan contoh bagaimana model menangani berbagai konflik perbatasan dan konflik internal di dalam kabupaten (hal. 119). Yansen menekankan kepada kompetensi empiris, yaitu kemampuan untuk belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain serta pemahaman terhadap sosial budaya dalam menyelesaikan konflik. Yansen sangat yakin jika pendekatan empiris dan sosial budaya ini digunakan dalam menyelesaikan konflik perbatasan, maka klaim terhadap wilayah Indonesia di perbatasan oleh Malaysia tentu dengan mudah bisa dipatahkan.

Selain dari paparan pengalaman menyelesaikan konflik dengan mengandalkan pengalaman dan pemahaman budaya, dalam buku ini Yansen setidaknya menyumbangkan dua hal yang sangat penting dalam kepemimpinan. Kedua hal tersebut adalah sikap percaya kepada rakyat (hal. 135) dan penghargaan kepada kebhinnekaan (hal. 167). Ia menjelaskan dengan rinci bagaimana implementasi pengelolaan daerah dengan prinsip percaya kepada rakyat. Ia juga memaparkan bagaimana memanfaatkan kebhinnekaan dalam pemerintahannya sehingga terjadi harmoni yang mendorong kesejahteraan warganya.

Kabupaten Malinau adalah kabupaten yang sangat luas. Luasnya adalah 40.088 km persegi, lebih luas dari provinsi Jawa Barat. Wilayah yang sangat luas itu didominasi oleh hutan lebat. Penduduk Malinau tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. Sementara infrastruktur tranpsortasi belum memadai untuk menopang perjalanan manusia dan barang secara intensif. Mustahil dengan kondisi seperti ini pembangunan bisa dijalankan secara efektif jika mengandalkan model pembangunan dari pusat (Kabupaten).

Melihat situasi yang demikian Yansen memilih untuk percaya kepada rakyat dalam kepemimpinannya. Ia menerapkan model pembangunan yang berprinsip pada percaya kepada rakyat sejak memimpin Malinai tahun 2011. Melalui Program Gerakan Desa Membangun (Gerdema), sejak tahun 2012 Yansen telah mentransfer langsung dana APBD ke desa, sehingga desa bisa menentukan sendiri pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Keberaniannya untuk mentransfer langsung anggaran pembangunan dari APBD ke desa ini memberikan hasil. Pengalaman ini tentu sangat berguna untuk dipelajari Pusat yang sejak tahun 2014 melakukan transfer langsung anggaran APBN ke desa.

Kabupaten Malinau adalah kabupaten yang dihuni oleh berbagai suku. Selain dari suku lokal yang terdiri dari berbagai etnis Daya, Suku Tidung, Suku Bulungan, Malinau juga dihuni oleh suku pendatang. Situasi kebhinnekaan ini bisa menimbulkan masalah jika sikap primordialisme tidak dicegah. Primordialisme oleh suku lokal maupun primordialisme suku pendatang bisa menjadi hal yang berbahaya jika tidak dikelola. Yansen TP merespon hal ini dengan menanamkan kepada warganya bahwa tidak ada istilah suku lokal dan suku pendatang. Secara aktif Yansen memfasilitasi berbagai even budaya yang memberi kesempatan kepada semua budaya masyarakat Malinau tampil. Festival-festival budaya yang dilakukan secara rutin membuat perjumpaan budaya orang-orang Malinau terjadi secara intensif. Festival-festival budaya yang menampilkan berbagai budaya tersebut juga menjadi sebuah potensi pariwisata berbasis budaya yang bisa menjadi sumber ekonomi Kabupaten Malinau.

Paparan Yansen TP. dalam buku ini membuktikan bahwa pemimpin di daerah bisa memberikan sumbangsih yang besar bagi kepempinan di tingkat nasional. Saya yakin masih banyak lagi contoh-contoh berhasil dari daerah. Semoga semakin banyak pengalaman baik dari daerah dalam mengelola daerah bisa didokumentasikan. 742

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua