Berhasil Karena Iman

Kamis, 27 April 2023 15:29 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika Allah telah memilih, kita hanya bisa berucap: "Tuhan inilah aku. Utuslah aku."

Judul: Berhasil Karena Iman

Penulis: Maqdalene Kawotjo

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2006 (Cetakan ketujuh)

Penerbit: Kingdom Glory Multimedia

Tebal: xxi + 362

ISBN: 979-15165-0-2

 

Sering tidak disadari bahwa anak dan keluarga pemimpin agama (dalam kasus ini adalah anak pendeta), mengalami situasi yang tidak enak. Sebagai anak dan keluarga pendeta, mereka dituntut untuk menjalankan ritual dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakini. Tuntutan untuk menjalankan ritual dan berperilaku sering tanpa sadar dipaksakan oleh keluarga. “Paksaan” untuk menjalankan ritual dan berperilaku sesuai tuntutan agama adalah dalam rangka menjaga marwah sang ayah sebagai Kepala rumah tangga yang adalah tokoh agama. Sayangnya paksaan semacam ini sering tidak diikuti dengan proses penyadaran mengapa ritual dan perilaku tersebut harus dijalankan.

Hidup dalam keluarga tokoh agama sering sangat menyedihkan dan tidak bahagia. Maka tak jarang anak-anak tokoh agama ini melakukan pemberontakan dan menjadi brutal.

Situasi seperti itulah yang dirasakan oleh Maqdalene Kawotjo. Maqdalene adalah seorang putri pendeta. Maqdalene mengalami tiga situasi yang menyebabkan hidupnya tidak sejahtera. Ia terjebak dalam budaya patriarkhi; yaitu kekristenan dan ke-tionghoa-an yang kurang memberi tempat bagi perempuan untuk bersuara dan menentukan arah hidupnya sendiri.

Hidup dalam sebuah keluarga pendeta, Maqdalene harus hidup sesuai dengan “Standar Alkitab, yaitu suci dan tidak bercela.” Maqdalene kecil harus rajin ibadah dan tidak boleh terlambat. Ia harus ikut doa pagi, doa malam dan kegiatan doa-doa lainnya di gereja. Ia tidak boleh menonton film dan kegiatan-kegiatan lain yang dianggap mencemari kesucian hidup.

Sebagai anak perempuan, Maqdalene tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah tinggi. Tidak seperti saudara lekakinya. Ketika ia melamar sebagai pramugari, sang ayah tidak mau menandatangani Surat Persetujuan Orangtua. Perempuan adalah nomor dua.

Situasi yang demikian membuat Maqdalene melakukan pemberontakan. Ia frustasi dengan hidupnya yang penuh kekangan. Ia tidak tahan lagi hidup dalam tradisi keagamaan yang dibangun di antara tembok-tembok gereja. Ia ingin hidup normal seperti layaknya anak-anak lain yang bukan anak pendeta.

Apakah kemudian Maqdalene menjadi seorang pemberontak? Ternyata tidak. Maqdalene adalah orang yang dipilih Allah secara langsung untuk menjadi pengerjanya. Buku “Berhasil Karena Iman” ini adalah kesaksiannya bagaimana Allah secara khusus mengatur hidupnya sehingga menjadi orang yang berguna bagi pekabaran Injil. Allah punya rencana terhadap hidupnya. Allah menyediakan semua kebutuhan untuk melaksanakan rencanaNya.

Rencana Allah dalam hidupnya mulai terwujud saat ia mendapatkan kesempatan ikut sebuah seminar di Calvary Bible Collage di Melbourne Australia. Saat mengikuti kegiatan seminar yang hanya 2 minggu tersebut, Maqdalene malah memikirkan bagaimana ia bisa pergi ke negara lain dan tidak kembali ke Indonesia. Allah mengijinkannya untuk pergi ke Selandia Baru. Maqdalene merasa bahwa ia akan terbebas dari kehidupan lamanya yang tidak menyenangkan di lingkungan gereja. Meski harus menjadi pelayan di Restoran Kentucky Fried Chicken, ia merasa bahagia. Sebab ia bisa menjadi jemaat biasa yang tidak dituntut untuk memenuhi standar hidup keluarga pendeta. Sampai akhirnya ia harus kembali ke Indonesia karena visanya habis. Meski sebenarnya ia mendapatkan kesempatan untuk perpanjangan tinggal di Selandia Baru, namun keinginan untuk melanjutkan petualangan begitu kuat muncul dalam pikirannya.

Di saat ia mempertimbangkan untuk bekerja di dunia sekuler (ia diterima di sebuah perusahaan minyak internasional) tiba-tiba Tuhan meyapanya secara pribadi dan menawarkan pekerjaan sesuai dengan rencanaNya. Maqdalene diutus untuk “mencari jiwa-jiwa yang hidupnya tidak berguna, stres, rusak, terbuang, depresi, luka batin, ditolak, tidak dikasihi, dan dianggap sampah oleh orang lain.

Sejak perjumpaan itu Maqdalene memusatkan hidupnya untuk melayani Tuhan.

Apakah kemudian hidupnya jadi mudah? Tentu tidak. Pergumulan demi pergumulan tetap terjadi. Banyak peristiwa-peristiwa yang membuatnya tegang. Tapi Maqdalene tidak khawatir. Sebab di saat-saat genting Allah selalu menyediakan jalan keluar.

Ia mendapatkan kesempatan belajar ke Korea, dimana sebenarnya sang ayah lebih mendorong anak lelakinya untuk berangkat. Ia berhasil menggondol gelar Dari Korea ia berhasil belajar ke Amerika. Tepatnya di Ashland Theological Seminary (ATS) di Ohio, USA. Perjuangannya dalam menjalani studi dan membiayai kehidupan dan studinya penuh dengan mujizat. Maqdalene berhasil menyelesaikan studi doctoral dan melayani di Amerika dalam kurun waktu 3,5 tahun. Sejak itu Magdalene dipakai Allah untuk menjadi pengerjanya. Selain melayani langsung melalui mimbar, Maqdalene juga melayani melalui penulisan buku. Buku-buku karyanya memberkati mereka yang membacanya.

Buku kesaksian ini menunjukkan bahwa jika Allah mempunyai rencana, maka tak ada yang bisa menggagalkannya. Maqdalene yang kecewa dengan kehidupan dalam gereja malah dipilih untuk menjadi alat mencari mereka yang hilang.

Tembok gereja dan aturan duniawi supaya keluarga pendeta menjalankan kehidupan “Sesuai Alkitab, suci dan tidak tercela” demi menjaga marwah sang pendeta perlu dihilangkan. Aturan yang demikian justru membuat kehidupan anak-anak pendeta penuh dengan pemberontakan dan benci kepada Tuhan. Seharusnyalah anak-anak ini (termasuk anak pendeta) bisa menemukan sendiri perjumpaan yang indah dengan Allah. Sebab Allah sendiri senang untuk mencari anak-anakNya. Seperti Ia telah menjumpai dan mengutus Maqdalene. 746

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua