Tanah Para Pendekar - Petualangan Elio Modigliani ke Nias Selatan tahun 1886

Selasa, 23 Mei 2023 18:12 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Elio Modigliani adalah petualang Italia yang mengunjungi Nias Selatan saat wilayah tersebut masih berbudaya mengumpulkan kepala manusia.

Judul: Tanah Para Pendekar – Petualangan Elio Modigliani di Nias Selatan Tahun 1886

Judul asli: Un Fiorentino all’ Esplorazione di Nias Salatan - 1886

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penulis: Vanni Puccioni

Alih Bahasa: Nurcahyani Evi bekerjasama dengan Guiseppina Monaco, Antonia Soriente dan Roberto Zollo

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 376

ISBN: 978-602-03-3164-5

 

Catatan perjalanan, khususnya yang berbentuk ekspedisi yang berbahaya selalu menarik. Demikian juga dengan petualangan Elio Modigliani di Nias Selatan pada tahun 1886. Kunjungan Modigliani ke Nias Selatan yang saat itu masih tertutup, sungguh sangat menegangkan. Modigliani bisa keluar dengan selamat dari pembantaian oleh sekelompok orang pemenggal kepala adalah sebuah kisah heroik. Modigliani berhasil melakukan ekspedisi di wilayah dimana tentara Belanda tak berhasil memasukinya.

Modigliani menuliskan pengalamannya menjelajahi Nias Selatan dalam Bahasa Italia. Tulisan tersebut berjudul Viaggio a Nias, yang terbit tahun 1890. Pastor Johannes yang memiliki buku tersebut tidak memahami Bahasa Itali, sehingga cerita pertualangan Modigliani tidak tersebar luas. Padahal Pastor Johannes bertugas di Gunung Sitoli Nias. Sampai suatu saat gempa besar melanda Nias di tahun 2004. Salah seorang pekerja kemanusiaan yang datang ke Nias – bernama Vanni Puccioni mendapatkan naskah tersebut. Pastor Johannes membawa buku tersebut kepada Puccioni untuk diterjemahkan dan diterbitkan.

Puccioni adalah orang yang tepat untuk menterjemahkan karya Modigliani ini. Sebab dia adalah cucu dari Nello Puccioni Direktur Musium Etnografi Florence yang menyimpan tengkorak yang dibawa oleh Modigliani. Puccioni muda memiliki ketertarikan akan etnografi sejak masa kecilnya.

Vanni Puccioni tidak hanya menterjemahkan karya Modigliani, tetapi memberi komentar-komentar yang memudahkan kita memahaminya. Komentar-komentar Puccioni membantu kita untuk mengidentifikasi hal-hal yang membuat Modigliani berhasil dalam perjalanannya di tengah-tengah suku yang suka memenggal kepala dan mengoleksi tengkorak manusia.

Selain memberikan komentar-komentar terhadap perjalanan Modigliani, Puccioni juga memberikan gambaran Nias pada masa kunjungan Modigliani di awal bukunya. Puccioni menjelaskan tentang sejarah singkat Nias, upaya Belanda menaklukkan Nias yang kurang berhasil, persenjataan, teknologi, pengobatan, sistem sosial dan kepercayaan orang Nias. Latar belakang ini memberikan gambaran yang sangat memberikan konteks ekspedisi Modigliani dan keberhasilannya. Hubungan orang Nias Selatan dengan Belanda, persenjataan mereka, teknologi yang digunakan, sistem sosial dan kepercayaan orang Nias Selatan sangat berhubungan dengan kejadian-kejadian kritis yang dihadapi Modigliani. Keputusan Puccioni untuk menyampaikan informasi tersebut di awal buku sangat membantu saya dalam memahami keberhasilan perjalanan muhibah ke wilayah yang sangar ini.

Elio Modigliani datang ke Nias, Hindia Belanda pada tahun 1886. Modigliani mendarat di Gunung Sitoli pada tanggal 22 April 1886. Ia mempersiapkan dengan baik sebelum berangkat ke Nias. Ia tidak saja menyiapkan peralatan, tetapi juga pengetahuan tentang Nias. Dia mempelajari Nias dari dokumen-dokumen arsip administrasi Pemerintah Hindia Belanda dan perusahaan-perusahaan Belanda. Selain mempersiapkan peralatan dan pengetahuan tentang Nias, Modigliani memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan ekspedisinya. Modigliani mempunyai pengetahuan tentang pengobatan, pengawetan binatang, topografi dan memperbaiki senjata api.

Mula-mula Modigliani melakukan eksplorasi di sekitar Gunung Sitoli. Ia menelusuri gua-gua, mengumpulkan berbagai binatang dan tumbuhan untuk dikoleksi.

Tujuan utama ekspedisi Modigliani adalah Nias Selatan. Oleh sebab itu setelah melakukan pemanasan di gunung dan gua-gua di sekitar Gunung Sitoli ia memutuskan untuk berangkat ke Nias Selatan. Ia membawa 3 orang pemburu dari Jawa dan seorang Melayu sebagai penunjuk jalan. Usahanya untuk melakukan perjalanan ke Nias Selatan sebenarnya sudah coba digagalkan oleh pihak Belanda. Pejabar Belanda di Gunug Sitoli dan di Batavia telah memeringatkan Modigliani sedemikian rupa. Sebab saat itu Belanda sedang berperang dengan Raja Orihili di Nias Setalan. Tetapi upaya Pemerintah Belanda ini tidak berhasil. Modigliani tetap berangkat ke Nias Selatan. Ia mengendarai perahu dagang Melayu untuk sampai ke Nias Selatan. Ia tidak naik kapal militer Belanda.

Perjalanan ke Nias Selatan ini sungguh berbahaya. Modigliani harus menghadapi alam yang ganas, cuaca yang membuat perbekalannya gampang membusuk dan masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengumpulkan kepala manusia. Namun perbekalan, pengetahuan dan keberaniannya telah membuat perjalanannya berhasil.

Sesampai di Teluk Dalam, ia bertemu dengan Raja Bawolowalani yang bernama Faosi Aro. Ia diterima oleh Faosi Aro setelah melewati situasi yang menegangkan dengan para prajurit Bawolowalani di pantai. Modigliani sempat menyaksikan upacara penyembuhan orang sakit oleh Adu (dukun) yang gagal.

Setelah beberapa hari di Bawolowalani, Modigliani memutuskan untuk mengunjungi desa Hilizihono. Tentu saja Faosi Aro tidak menyetujui rencana kunjungan tersebut dan bahkan marah. Sebab Desa Hilizihono adalah musuh desa Mawolowalani. Namun setelah Modigliani meyakinkan bahwa kunjungannya ke desa Hilizihono tidak berarti memihak salah satu desa yang bertikai, Faoso Aro tidak bisa mencegahnya.

Perjalanan dari Bawolowalani ke Hilizihono tidak mudah. Karena rombongan Modigliani harus melewati jebakan-jebakan yang dipasang oleh Bawolowalani untuk mencegah penyerang datang. Sesampai di Hilizihono, Modigliani bertemu dengan sesepuh desa bernama Siduho Cheo. Di desa ini Modigliani sempat membuat foto prajurit, bangunan dan alam pedesaan. Di desa Hilizihono Modigliani tidak berhasil membeli tengkorak manusia yang sudah disimpan di osale (rumah untuk bertemu para prajurit dan raja desa untuk mendiskusikan keputusan bersama penduduk desa, seperti perang dengan desa tetangga). Saat kembali ke desa Bawolowalani, Modigliani berhasil mendapatkan 20 tengkorak dari Faoso Aro.

Tujuan utama Modigliani mengunjungi Nias Selatan adalah untuk menemukan Gunung Lolomatua yang pernah diginggung oleh pengelana sebelumnya yang bernama Rosenberg. Itulah sebabnya setelah sampai di Pantai Lagundri ia mulai merencanakan perjalanan menemukan gunung tersebut. Nasip baik datang padanya. Sebab ada tawaran untuk berkunjung ke desa Hilisimaetano.

Di Hilisimaetano itulah Modigliani mengalami konflik yang berbahaya dengan  Siwa Sahilu, pimpinan prajurit yang lebih berkuasa dari raja. Siwa Sahilu bisa dengan mudah membunuh Modigliani. Namun karena Siwa Sahilu tidak tahu seberapa sakti senjata yang dimiliki oleh Modigliani – Siwa Sahilu sangat menginginkan mendapatkan senjata tersebut, maka upaya pembunuhan itu selalu tertunda.

Setelah gagal menuju tempat yang diduganya sebagai Gunung Lolomatua dari Desa Hilisimaetano, Modigliani mencobanya dari sisi lain. Ia menuju ke Pulau Hisano. Dari sana ia mencoba untuk mencari letak Gunung Lolomatua. Modigliani memasuki wilayah yang belum dikenal oleh orang luar. Rombongan Modigliani bertemu dengan prajurit pemenggal Kepala. Ia menemukan desa-desa kecil yang ditinggal oleh penduduknya karena ada pemburu kepala manusia. Sangat sulit untuk mencari pemandu yang mau mengantarkan ke wilayah yang sangat asing tersebut.

Modigliani akhirnya kembali ke desa Hilizimaetano. Kedatangannya ke desa tersebut sangat mengejutkan Siwa Sahilu. Bagaimana bisa Modigliani masih sehat walafiat setelah memasuki wilayah yang sangat rawan.

Di akhir perjalanan Modigliani berhasil untuk menukarkan senjatanya dia punya dengan tengkorak dari Siwa Sahilu. Modigliani berhasil membawa berbagai spesies binatang dan tetumbuhan dan -yang terpenting, tengkorak dari Nias Selatan. Iajuga berhasil membuat foto-foto yang fenomenal dari Nias Selatan. Di bagian akhir buku ini Puccini memberikan analisis mengapa Modigliani bisa berhasil menjelajahi Nias Selatan, tanah para Pendekar yang mempunyai kebiasaan memenggal Kepala dan mengumpulkan tengkorak. 752

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua